PALESTINA, Tugujatim.id – Militer Israel mengumumkan telah membunuh pemimpin dari Pasukan Hamas yang bernama Yahya Sinwar di Jalur Gaza bagian Selatan pada Kamis (17/10/2024). Namun, melansir dari Aljazeera.com, Hamas masih belum mengomentari hal tersebut.
Sosok Yahya Sinwar, pria yang lahir pada 29 Oktober 1962 ini merupakan pemimpin de facto Hamas mulai 2017-2024. Dia juga seorang pemimpin de jure sebagai kepala biro politik Hamas dari Agustus 2024 hingga Oktober 2024.
Yahya Sinwar adalah sayap pergerakan bersenjata Hamas dan dianggap sebagai salah satu dalang di balik serangan 7 Oktober 2023 di Israel. Ketika Israel melancarkan Perang Israel-Hamas sebagai tanggapan atas serangan itu, seorang juru bicara pasukan pertahanan Israel atau sering disebut IDF menyebut Yahya Sinwar sebagai “Orang Mati Berjalan”.
Kehidupan Yahya Sinwar
Sinwar lahir di kamp pengungsian Khan Younis. Dia adalah anak dari orang tua yang telah mengungsi dari Ashkelon dalam Perang Arab-Israel pada 1948. Dia dilahirkan dalam kondisi kamp yang penuh sesak dengan keluarga miskin yang hidupnya bergantung pada UNRWA (badan yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberikan bantuan kemanusiaan pada negara dengan konflik bersenjata).
Pada awal 1980-an, dia mendaftar di Universitas Islam Gaza. Dia juga masuk universitas pada saat banyak pemuda Palestina di Jalur Gaza melihat ke arah Islamisme sebagai cara untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina setelah puluhan tahun pan-Arabisme gagal melakukannya.
Selain itu, Sinwar juga tergabung pada organisasi mahasiswa yang menggabungkan pemikiran Islam dengan nasionalisme Palestina. Pada 1982, Sinwar ditahan karena partisipasinya dalam organisasi tersebut meski tidak ada tuduhan resmi.
Pada 1985, sebelum pembentukan Hamas, Sinwar membantu mengorganisasi Al-Majd, sebuah organisasi untuk jihad dan dakwah Islam. Al-Majd adalah jaringan pemuda Islamis yang bertugas mengungkap semakin banyaknya informan Palestina yang direkrut oleh Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Ketika Hamas dibentuk pada 1987, Al-Majd dimasukkan ke dalam kader keamanannya. Pada tahun berikutnya, Israel menemukan persenjataan milik Al-Majd hingga Sinwar ditahan oleh Israel selama beberapa minggu. Pada 1889, dia dihukum karena pembunuhan warga Palestina yang dituduh bekerja sama dengan Israel dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Pembebasan Sinwar dalam Pertukaran Tahanan Shalit dan Kenaikan Pangkatnya di Hamas
Pembebasan Yahya Sinwar merupakan bagian dari pertukaran tahanan tingkat tinggi untuk Gilad Shalit. Untuk diketahui, Shalit adalah seorang prajurit IDF. Dia telah diculik oleh Hamas pada 2006 saat ditempatkan di perbatasan. Setelah beberapa kali gagal menjadi perantara kebebasan Shalit, Mesir dan Jerman mencapai kesepakatan untuk pembebasannya pada Oktober 2011.
Saudara laki-laki Sinwar, Mohammed, yang ditugaskan untuk menjaga Shalit, bersikeras agar Sinwar disertakan dalam pertukaran tersebut. Pada hari yang sama ketika Shalit dibebaskan ke Israel, Sinwar termasuk dalam kelompok tahanan Palestina pertama yang dikembalikan ke Jalur Gaza. Ketika tiba, dia sudah mengenakan ikat kepala hijau yang menjadi lambang sayap bersenjata Hamas.
Pada April 2012, beberapa bulan setelah pembebasannya, Sinwar terpilih sebagai anggota biro politik Hamas di Jalur Gaza. Dia memanfaatkan pengalamannya sebagai pemimpin penjara dan memperoleh reputasi di dalam Hamas karena menyatukan faksi-faksinya untuk berkompromi.
Sinwar lalu menyerukan kepada para militan Palestina untuk memburu dan menangkap warga Israel. Karena hal itulah yang mendorong Amerika Serikat secara khusus menambahkan Sinwar ke dalam daftar teroris global pada 2015.
Sementara itu, Hamas berjuang untuk mempertahankan statusnya di Jalur Gaza: Hamas telah dilemahkan oleh konflik dengan Israel, dan kemampuannya untuk menyediakan barang dan jasa telah terhalang oleh keterasingannya. Hamas menjadi semakin tidak populer, sementara kelompok militan lainnya seperti Jihad Islam Palestina (PIJ) semakin menarik bagi para garis keras dan mulai menawarkan beberapa layanan mereka sendiri. Hal tersebut membuat Sinwar terpilih menjadi kepala Hamas di Jalur Gaza pada 2017.
Serangan 7 Oktober 2023
Pada 7 Oktober 2023, Hamas dalam sebuah serangan yang dijuluki “Operasi Banjir Al-Aqsa,” memimpin serangan paling dahsyat terhadap Israel sejak kemerdekaannya. Itu dimulai dengan rentetan kurang lebih 2.200 roket hanya dalam 20 menit, menyediakan perlindungan bagi sedikitnya 1.500 militan yang menyusup ke Israel di puluhan titik di sepanjang perbatasan yang dijaga ketat dengan menggunakan bahan peledak, buldoser, dan paralayang.
Selain menyerang pos militer, Hamas juga membunuh keluarga-keluarga di dalam rumah dan peserta festival musik di luar ruangan. Dalam beberapa jam, sekitar 1.200 orang tewas dan sekitar 240 lainnya disandera. Serangan itu menunjukkan ciri khas taktik Sinwar dalam melawan Israel.
Baca Juga: Profil 7 Panelis Debat Pilgub Jatim 2024, Dua Guru Besar dan Lima Doktor
Respons Israel terhadap serangan tersebut yaitu menyatakan perang terhadap Hamas dan menerapkan pengepungan penuh yang memutus aliran air, listrik, makanan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza. Dalam beberapa minggu, serangan udara telah menyebabkan banyak kematian warga Palestina. Sementara itu, lebih dari 1,4 juta orang menjadi pengungsi internal.
Ketika pada November, Israel membebaskan sekitar 240 tahanan Palestina dengan imbalan 110 sandera yang diambil oleh Hamas. Namun, jumlah tersebut tidak sebanding dengan ribuan orang yang ditahan sejak 7 Oktober. Sinwar merupakan target utama Israel dalam invasinya dan dianggap, menurut juru bicara IDF, sebagai “orang yang sudah mati dan masih hidup.” Untuk menghindari perburuan Israel, Sinwar diduga bersembunyi di jaringan terowongan bawah tanah Gaza.
Pada Mei 2024, kepala jaksa penuntut Mahkamah Pidana Internasional mengumumkan bahwa dia akan meminta surat perintah penangkapan untuk Sinwar dan sesama pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dan Mohammed Deif, serta Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant selaku Perdana Menteri Israel dan Menteri Pertahanan Israel atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Operasi Israel menewaskan Haniyeh dan Deif pada Juli disusul Sinwar yang diklaim oleh Israel tewas pada Oktober 2024.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Reihan Ali Ramadhan Fajariansyah/Magang
Editor: Dwi Lindawati








