PASURUAN, Tugujatim.id – Pedagang daging dan jagal sapi di Kota Pasuruan mogok kerja. Mereka memprotes harga sapi dan peredaran daging Ilegal.
Para Pedagang kompak menggelar aksi mogok kerja massal sebagai wujud protes kondisi usaha para pedagang sapi dan jagal yang semakin tertekan.
Sejak pagi, tidak terlihat aktivitas penyembelihan hewan atau transaksi daging di UPT Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Blandongan Kota Pasuruan.
Aksi mogok ini diakibatkan oleh beragam persoalan, mulai dari banyaknya peredaran daging ilegal dengan harga murah di pasaran sementara harga daging sapi terus melonjak tinggi dan mengalami kelangkaan.
Ketua Paguyuban Pedagang dan Jagal Sapi Kota Pasuruan, M Syaifulloh, mengungkapkan bahwa selama ini para pedagang daging merasa kurang memperoleh perhatian serius dari pemerintah daerah terkait maraknya peredaran daging ilegal yang dijual murah.
“Kami melaksanakan mogok kerja selama dua hari sebagai wujud protes kami terhadap pemerintah. Bertahun-tahun sudah kami didiamkan, seolah-olah pemerintah daerah itu tuli dan bisu untuk memberantas peredaran daging ilegal yang dijual sangat murah di pasaran,” ujar Syaifulloh pada Sabtu (4/3)
Menurut Syaifulloh peredaran daging ilegal yang dijual jauh lebih murah dibawah harga pasar mengakibatkan pedagang resmi makin tertekan. Apalagi saat ini harga sapi hidup terjadi kenaikan yang signifikan.
“Selain itu kami mogok kerja juga dikarenakan kenaikan harga sapi yang signifikan. Kami memiliki tanggung jawab moral kepada para pembeli untuk tetap menyajikan daging segar yang layak konsumsi dan halal,” ungkapnya.
Syaifulloh mengatakan harga daging sapi yang resmi dari UPT Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Blandongan, Kota Pasuruan, saat ini berada di kisaran Rp 130 ribu hingga Rp 140 ribu per kilogramnya, sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) di Kota Pasuruan.
Di sisi lain, daging ilegal dijual dengan harga yang jauh dibawah rata-rata, bahkan ada yang menjual seharga Rp 90 ribu saja. Keadaan ini mengakibatkan masyarakat lebih cenderung memilih harga daging sapi yang murah tanpa pertimbangan aspek kehalalan dan kesehatan.
“Secara otomatis warga milihnya yang harga lebih murah tanpa mempertimbangkan dampak bagi kesehatan,” imbuhnya.
Aksi mogok kerja ini juga dianggap sebagai dukungan pedagang kepada pemerintah dalam upaya menjaga aspek kesehatan masyarakat. Para pedagang mendukung agar seluruh daging yang beredar di pasaran berasal resmi dari RPH, sehingga kualitasnya terjamin serta bisa menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hal serupa dinyatakan oleh seorang pedagang bernama Faisal. Ia menyatakan semua pedagang daging di pasar-pasar di Kota Pasuruan sudah sepakat untuk ikut mogok kerja.
“Semua pedagang di pasar-pasar di Kota Pasuruan sekarang bersepakat untuk ikut mogok kerja. Dengan harapan pihak pemerintah daerah mau mendengarkan keluh kesah kami para pedagang daging,” ujar Faisal.
Faisal mengatakan dalam kondisi yang normal dirinya mampu menjual hingga 80 kilogram daging setiap harinya, atau berkisar satu kuintal apabila termasuk tulang dari seekor sapi.
Aksi mogok kerja para pedagang daging dan jagal sapi ini dipusatkan di UPT Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Blandongan, Kota Pasuruan yang jadi titik berkumpulnya para pedagang daging sapi dan jagal sapi.
Para pedagang berharap agar pemerintah bisa segera menentukan langkah tegas untuk menindak peredaran daging ilegal dan menstabilkan harga jual daging sapi, agar masyarakat tetap memperoleh daging yang sehat, aman dan halal, serta agar usaha pedagang sapi resmi tetap berjalan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Maulida N/ Magang
Editor: Darmadi Sasongko








