SURABAYA, Tugujatim.id – PT Pegadaian Kanwil XII Surabaya terus mempercepat transformasi digitalnya lewat aplikasi Tring! by Pegadaian, yang kini menjadi andalan untuk layanan investasi emas digital.
Setelah sukses menggelar Festival Tring! di Pakuwon Mall Surabaya pada 24 hingga 26 Oktober 2025, Pegadaian mencatat respons publik yang sangat positif dan siap melangkah ke tahap berikutnya yakni dengan menghadirkan ATM emas di sejumlah titik strategis kota.
Pemimpin Wilayah Pegadaian Kanwil XII Surabaya, Beni Martina Maulan, mengungkapkan antusiasme masyarakat terhadap Festival Tring! melebihi ekspektasi.
“Selama tiga hari beberapa waktu lalu, pengunjung yang datang dan mendaftar mencapai lebih dari 2.500 orang. Target kami hanya 1.500, jadi bisa dibilang Surabaya ini luar biasa,” kata Beni, Kamis, 13 November 2025.
Aplikasi Tring! sendiri menjadi wujud transformasi Pegadaian menuju era digital dan layanan “bank emas”.
Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat berinvestasi emas mulai dari Rp10 ribu, menabung emas, mencicil emas, bahkan melakukan konversi antara emas digital dan fisik.
Siapkan ATM Emas di Mall Surabaya
Setelah kesuksesan acara di Pakuwon Mall, Pegadaian Surabaya kini tengah menyiapkan kehadiran ATM emas di dua lokasi strategis, yakni Pakuwon Mall dan Tunjungan Plaza.
“Awal tahun depan kami targetkan ATM emas sudah beroperasi. Jadi nasabah bisa menarik atau mengonversi emas digitalnya menjadi emas fisik langsung,” jelas Beni.
ATM emas ini menjadi bagian dari ekosistem digital Pegadaian yang disebut Beni sebagai langkah menuju konsep E2Z (end-to-end zero gap), yakni sistem yang menghubungkan seluruh layanan emas, mulai dari transaksi digital hingga fisik.
Dari Tabungan Emas Menuju Deposito Emas
Selain memperluas jangkauan digital, Pegadaian Surabaya juga tengah menyiapkan inovasi baru berupa deposito emas. Skema ini memberi nilai tambah hingga 1 persen lebih tinggi per tahun dibandingkan tabungan biasa.
“Kalau pertumbuhan nilai emas dalam setahun sekitar 15–20 persen, maka dengan deposito emas bisa menjadi 21 persen. Ini karena ada monetisasi dari emas yang didepositokan,” terang Beni.
Langkah ini ditujukan untuk menjangkau berbagai segmen pasar, mulai dari individu hingga korporasi. Menurut Beni, permintaan dari sektor B2B (business to business) semakin meningkat, terutama dari mitra yang ingin memanfaatkan dana menganggur (idle fund) melalui instrumen emas.
Tren Baru: Dana Pensiun dalam Bentuk Emas
Pegadaian juga melihat tren baru di kalangan perusahaan, yakni konversi dana pensiun menjadi emas.
“Banyak lembaga dan perusahaan swasta yang tertarik membeli masa depan dengan harga sekarang, dengan mengonversi dana pensiun ke bentuk emas,” terangnya.
Hingga kini, sudah ada empat perusahaan swasta dan satu BUMN yang bekerja sama dengan Pegadaian dalam program ini.
“Dari pihak pegadaian menargetkan kerja sama serupa akan terus bertambah hingga akhir tahun, bahkan kalau bisa melebihi saat ini,” ucapnya.
Membangun Ekosistem Bank Emas
Transformasi Pegadaian menuju “bank emas” bukan sekadar jargon. Saat ini, sekitar 80 persen portofolio gadai Pegadaian berbasis emas.
Dengan pengalaman lebih dari 124 tahun di industri emas, Pegadaian optimistis memperkuat posisinya sebagai pemain utama di sektor ini.
“Kami ingin Pegadaian tidak hanya dikenal sebagai tempat gadai, tapi sebagai lembaga keuangan modern yang memimpin ekosistem emas dari hulu ke hilir,” pungkas Beni.
Kendati demikian, melalui Tring!, ATM emas, dan inovasi deposito emas, Pegadaian Surabaya membuktikan diri sebagai pionir transformasi digital yang tetap berakar pada keunggulan emas, investasi yang tak lekang oleh inflasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Layla Aini
Editor: Darmadi Sasongko








