MALANG, Tugujatim.id – Peringatan Hari Radio Sedunia digelar secara live streaming YouTube melalui channel RRI Malang Official pada Senin (13/02/2023). Peringatan ini dilakukan dengan melakukan wawancara secara eksklusif bersama dua narasumber dengan latar belakang seorang pemerhati radio, yaitu dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang dan Universitas Merdeka (Unmer) Malang.
Hari Radio Sedunia dalam live streaming tersebut membahas revolusi radio agar tetap eksis dengan mengangkat tema “Radio Eksistensi untuk Perdamaian”. Karena itu, wawancara eksklusif ini sebagai bentuk apresiasi pada radio sebagai alat komunikasi yang telah berperan penting jadi sumber informasi agar tetap bertahan dan berevolusi hingga sekarang.
Sementara itu, Wakil Dekan I FISIP Universitas Merdeka (Unmer) Malang Rochmad Effendy BHsc MSi dalam wawancara itu mengatakan, radio sekarang telah bergeser pada audiovisual. Dia melanjutkan, bukan hanya audio saja yang dapat didengar, tapi sekaligus dapat melihat gambar.
“Radio sekarang bisa didengar dan bisa melihat gambar sekaligus,” ujarnya.
Dia melanjutkan, meski begitu sebagai medium pendengaran, ciri khas radio suara yang enak didengar tentu mampu menciptakan theater of mine. Artinya, kekuatan suara yang nyaring mampu membangkitkan imajinasi pendengar.
“Definisi radio sekarang bukan lagi audio, tapi radiovisual. Tapi tidak masalah, intinya suara,” ungkapnya.
Dia juga mendeskripsikan kekuatan suara itu dalam sebuah kejadian bencana. Kekuatan suara ini mampu memvisualisasikan gambar yang terlihat yang tidak mampu dijelaskan dengan foto.
“Satu-satunya cara yang menembus pikiran pendengar hanya radio. Suara itu lebih kuat daripada gambar,” lanjutnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang Dr Agung Suprojo SKom MAP mengatakan, di tengah maraknya muncul media baru, pengguna media sosial (medsos) semakin meningkat. Karena itu, dia mengatakan, radio harus cepat tanggap dengan perubahan yang terjadi.
“Kondisi dan perubahan yang sedang terjadi di lingkungan masyarakat, radio juga harus bisa mengikuti trennya,” ujarnya.
Menurut dia, kebutuhan masyarakat yang perlu dikonsepkan oleh radio mengutamakan unsur kepercayaan. Hal ini disebabkan masyarakat sekarang sudah cerdas memilah yang menjadi kebutuhan dan narasi yang terpercaya.
“Konsep radio dari situasi masyarakat ini lebih dikuatkan lagi. Kita boleh mengambil konsep dari masyarakat, tapi dengan unsur trust,” ujarnya.
Dia melanjutkan, selain melihat kebutuhan masyarakat, radio penting adanya basic yang mengarah pada narasi pencegahan. Sebab, dia mengatakan, diperlukan membangun segmen yang mengarah pada pencegahan untuk mengurangi konflik bila dikontekskan pada perdamaian.
“Berbanding terbalik dengan konsepnya medsos, kabar yang menghebohkan banyak yang melihat, mengonsumsi, dan mem-follow,” tegasnya. (M-5)







