SURABAYA, Tugujatim.id – Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Susantyo Purnomo Condro mengklaim jika pihaknya sama sekali tidak melakukan intervensi maupun intimidasi terhadap materi seniman Butet Kartaredjasa di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (01/12/2023).
“Tidak ada (intervensi). Kami tidak menyentuh aspek materi, apalagi perizinan,” kata Susantyo dalam konferensi pers, Selasa (05/12/2023) dikutip dari salah satu sumber.
Menanggapi hal itu, Butet Kartaredjasa membantah pernyataan Kapolres Metro Jakpus yang mengatakan jika tidak ada unsur intimidasi.
“Kemarin sore kepolisian mengadakan konferensi pers, tidak ada intimidasi. Seakan-akan saya membesar-besarkan masalah,” katanya di Surabaya, Rabu sore (06/12/2023).
Menurutnya, bentuk intimidasi tidak harus secara verbal dari ucapan maupun sentuhan fisik. Sebelumnya, Butet mengatakan jika intervensi tersebut hadir melalui pemaksaan penandatanganan surat yang mengatakan jika dirinya tidak boleh membawa narasi politik, pemilu, dan kampanye dalam pentas teaternya yang berjudul “Musuh Bebuyutan”.
“Lho memang tidak ada yang mengintimidasi saya, memaki saya, melukai fisik saya, tapi narasi dalam redaksional itu menyebutkan saya harus berkomitmen tidak bicara politik,” ucapnya.
“Artinya apa? Konten. Materi seni pertunjukanku diatur oleh kekuasaan di luar diriku. Aku kehilangan kemerdekaan, mengartikulasikan pikiran, aku dihambat kebebasan berekspresi,” sambungnya.
Menurut seniman berusia 62 tahun tersebut, dalam Dirjen Kebudayaan, amanah Kongres Kebudayaan, hingga Undang-Undang Dasar telah menyebutkan jika kebebasan berekspresi, mengungkapkan pendapat merupakan hak dasar dan hak mutlak yang ada dalam setiap diri individu.
“Padahal, dalam UUD seperti dikatakan Dirjen Kebudayaan, amanah Kongres Kebudayaan, jelas menyebutkan kebebasan berekspresi hak mendasar, hak mutlak,” jelasnya.
Dia juga mengatakan jika dirinya tidak bermaksud menuduh pihak kepolisian dalam mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Butet juga menyerahkan kepada publik untuk menilai tentang indisen yang menimpanya.
“Saya bicara fakta, tidak berani saya menuduh polisi sebagai alat negara di masa kampanye ini mulai mengintervensi kehidupan publik, saya tidak menuduh. Cuma menceritakan fakta. Saya yakin masyarakat Indonesia yang cerdas, bisa menilai dengan sendirinya. Saya orasi, kontennya kurang lebih seperti itu,” tegasnya.
Berorasi di depan ratusan mahasiswa, Butet menekan jika anak muda saat ini merupakan generasi penerus bangsa yang akan menjadi penentu masa depan Indonesia di masa mendatang. Dia juga menyindir cawapres Gibran Rakabuming Raka yang sebelumnya mengatakan jika ibu hamil membutuhkan asam sulfat. Padahal yang seharusnya adalah asam folat.
“Di sini banyak mahasiswa, saya meyakini bahwa mahasiswa yang hadir di acara ini adalah pemilik masa depan yang menyelamatkan bangsa dan negara. Mereka hidup dalam kegigihan dan tantangannya, bukan anak manja yang bisanya cuma bicara asam sulfat,” ujarnya.
Writer: Izzatun Najibah
Editor: Dwi Lindawati








