Presiden Ashraf Ghani Kabur, Taliban Tegaskan akan Pimpin Afghanistan Lebih Humanis

Presiden Ashraf Ghani Kabur, Taliban Tegaskan akan Pimpin Afghanistan Lebih Humanis

  • Bagikan
Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, yang melarikan diri saat Taliban menggempur ibu kota Kabul pada Minggu (15/8/2021). /tugu jatim
Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, yang melarikan diri saat Taliban menggempur ibu kota Kabul pada Minggu (15/8/2021). (Foto: Dokumen/Edited/Nathasya Hayullah Ceviro)

AFGHANISTAN, Tugujatim.id – Beberapa minggu terakhir media sosial (medsos) dihebohkan video warga Afghanistan yang bergelantungan di pesawat. Diduga pesawat tersebut ditumpangi Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, yang hendak melarikan diri pasca serangan Taliban.

Melansir dari bbcnews, bahwa Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dari negaranya saat pasukan gerilyawan Taliban menyerbu ibu kota Kabul, pada Minggu (15/08/2021). Taliban berhasil menggulingkan pemerintahannya.

Presiden Ashraf Ghani sendiri mengakui meninggalkan negaranya dengan alasan ingin menghindari pertumpahan darah. Sebab, perang sengit terjadi antara Taliban dengan pasukan pemerintah Afghanistan. Kelompok pemberontak itu kini dilaporkan sudah menguasai negara tersebut, di tengah proses penarikan pasukan Amerika Serikat.

Sementara itu, seorang analis mengatakan sebagaimana dikutip Kompas.com, bahwa kemenangan pasukan Taliban itu sebetulnya masih jauh, mengingat pasukan pemerintah juga mempunyai sumber daya yang tidak kalah mentereng.

Sementara itu, Taliban yang berarti murid dalam bahasa Pashtun adalah gerakan nasionalis Islam sunni garis keras. Gerakan ini sempat menguasasi negara tersebut pada 1995 hingga 2001.  Secara historis, pertama kali muncul di utara Pakistan setelah pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan.

Taliban didirikan oleh Mullah Omar dengan pengikutnya untuk menentang kejahatan, ketidakstabilan, dan korupsi di Afghanistan pada waktu itu.

Pada tahun 1998, gerakan ini secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah Afganistan, mereka menggulingkan kekuasaan rezim Presiden Burhanuddin Rabbani salah satu pendiri mujahidin Afghanistan yang menentang pendudukan Uni Soviet.

Janji mereka adalah memulihkan perdamaian dan keamanan, serta menegakkan syariah Islam versi mereka setelah berkuasa. Tetapi fakta yang terjadi, setelah Taliban berkuasa justru memperlakukan warga Afghanistan dengan kejam. Banyak terjadi pelanggaran hak asasi manusia. Perempuan dilarang beraktivitas di ruang publik.

Rezim otoriter tersebut kemudian diruntuhhakn oleh pasuka NATO yang dikomandani oleh Amerika Serikat pada tahun 2001. Sejak itulah, cengkeraman Taliban di Afghanistan terbendung walaupun seskali memberikan perlawanan berupa bom bunuh diri dan gerakan teror lainnya.

Kini Taliban kembali menguasai negara tersebut. Setelah berhasil menguasai Kabul, gerilyawan tersebut mengambil alih otoritas Afghanistan. Lalu  secara resmi mengeluarkan pernyataan pertamanya akan penguasaan negara itu.

Namun yang menarik, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyampaikan bahwa publik tidak perlu khawatir karena pemerintahan kali ini berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Kali ini akan lebih humanis. Mereka berjanji akan menghormati hak azasi manusia dan hak-hak perempuan serta memaafkan mereka yang sebelumnya terlibat perselisihan dengan Taliban.

  • Bagikan