Prosedur Pemakaman Jenazah COVID-19 Sesuaikan Syariat Islam

  • Bagikan
Sejumlah warga diperbolehkan turut andil dalam proses pemakanan jenazah COVID-19 di salah satu TPU Kota Malang. Bahkan juga boleh salat di dekat makam. (Foto: UPT PPU Kota Malang)

MALANG – Perlakuan khusus jenazah COVID-19 kerap kali menimbulkan perdebatan. Ada banyak anggapan miring beredar pada masyarakat, bahwa prosedur pemulasaraan tak menghormati kaidah-kaidah tradisi dan agama. Bahkan ada juga yang menganggap prosedur ini tak manusiawi karena jenazah tidak dimandikan, dikafani dan lain-lain.

Terbaru, kasus penolakan jenazah dimakamkan secara prosedur terjadi di Kota Malang. Tak hanya merebut, insiden penolakan yang viral di berbagai lini masa itu diwarnai aksi mencium jenazah. Insiden ini akhirnya membuat Pemkot Malang merasa perlu melakukan sosialisasi lebih intensif.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Langkah yang dilakukan Pemkot yakni mengundang seluruh tokoh agama di Kota Malang, mulai dari pihak Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Dalam pertemuan itu kembali meyakinkan bahwa prosedur pemakaman jenazah COVID-19 tetap sesuai dengan tradisi, agama dan syariat islam bagi yang muslim.

Diungkapkan Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko bahwa pentingnya peran tokoh agama dalam meyakinkan masyarakat terkait pedoman pemakaman dengan prosedur sesuai dengan syariat islam.

”Mulai dari dimandikan, disucikan hingga disalatkan. Selama ini masih banyak yang beranggapan COVID-19 itu adalah konspirasi. Ini yang membuat sulit,” katanya, Rabu (12/8/2020).

Diharapkan dari pertemuan tersebut, para tokoh ulama memiliki pengertian secara gamblang jika sewaktu-waktu warga disekitarnya mengalami hal serupa. ”Jadi bisa meneruskan ke jemaahnya. Intinya dukungan dan pemahaman masyarakat sangat dibutuhkan pemerintah dalam hal ini,” harapnya.

Terpisah, hal senada diungkapkan Kepala UPT Pengelola Pemakaman Umum (PPU) Kota Malang Takroni Akbar. Ia yang juga relawan pemulasaran jenazah COVID-19 ini mengaku ada banyak salah pengertian dari masyarakat bahwa keluarga tak bisa ikut memulasarakan jenazah. ”Padahal bisa. Ikut ngubur pun bisa,” katanya.

Namun, pihak keluarga diwajibkan mematuhi kaidah protokol kesehatan, utamanya menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yakni pakaian hazmat dan lain-lain jika ingin ikut mengubur jenazah.

Bahkan pihaknya juga melonggarkan aturan kepada keluarga untuk ikut menguruk tanah makam, mengumandangkan adzan bahkan melakukan salat jenazah di luar makam. ”Kita masih tetap bolehkan kok. Tapi tetep kudu patuh protokol kesehatan, kita semprot dulu,” ungkapnya.

Selama ini, tak jarang dalam menerapkan protokol kesehatan ini pihaknya kerap mengalami penolakan bahkan cemoohan dari masyarakat. Padahal semua itu demi keselamatan dan kesehatan warga sendiri.

 

Reporter: M Ulul Azmy

  • Bagikan