PROBOLINGGO, Tugujatim.id – Probolinggo, sebuah kota yang terletak di pesisir timur Pulau Jawa, memiliki jejak sejarah panjang dalam perkembangan dunia perfilman.
Di masa lalu, kota ini dikenal dengan banyaknya gedung bioskop yang menjadi pusat hiburan bagi masyarakat.
Namun, seiring berjalannya waktu, banyak bioskop yang harus tutup karena berbagai tantangan zaman. Di antara banyaknya gedung bioskop yang telah tutup, hanya satu yang tetap bertahan hingga kini: CGV Wijaya Kusuma.
Awal Mula Kehadiran Bioskop di Probolinggo
Pada era keemasan bioskop di Probolinggo, setidaknya terdapat enam gedung bioskop yang beroperasi di kota ini.
Setiap bioskop memiliki cerita dan kenangan tersendiri di mata masyarakat. Salah satunya adalah Bioskop Wijaya, yang menjadi cikal bakal dari CGV Wijaya Kusuma yang kita kenal sekarang.
Bioskop ini merupakan tempat bagi warga Probolinggo untuk menikmati film-film layar lebar sejak puluhan tahun lalu.
Namun, seiring berkembangnya waktu, beberapa faktor menyebabkan banyak bioskop di Probolinggo harus gulung tikar. Salah satu penyebabnya adalah persaingan ketat dengan perkembangan teknologi, seperti hadirnya televisi dan kemudian layanan streaming.
Selain itu, faktor kebakaran, sengketa lahan, dan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman juga menjadi alasan penutupan bioskop-bioskop di Probolinggo.
Era Keemasan dan Penurunan Bioskop Probolinggo
Berdasarkan penelusuran dari Radar Bromo, setidaknya ada lima bioskop yang tidak lagi beroperasi di Probolinggo. Bioskop Pusaka, yang terletak di Jl Panglima Sudirman, menjadi salah satu yang cukup terkenal sebelum akhirnya tutup. Begitu pula dengan Plaza Bioskop, yang hanya beroperasi sekitar dua tahun, 1987 hingga 1989, sebelum musibah kebakaran mengakhiri riwayatnya.
Bioskop Guntur yang berada di Jl dr Soetomo juga harus tutup pada tahun 1997, begitu pula dengan Bioskop Garuda yang menutup operasinya pada tahun 2000.
Sementara itu, Bioskop Regina, yang dulunya dikenal dengan nama Gedung Dewi dan berdiri sejak 1979, juga tak mampu bertahan hingga 2003.
Keberadaan banyak bioskop ini mencerminkan semangat dan antusiasme masyarakat Probolinggo terhadap film pada masa itu. Namun, berjalannya waktu membawa perubahan yang tidak bisa dielakkan, dan hampir semua bioskop tersebut harus rela tutup.
Transformasi Bioskop Wijaya Menjadi CGV Wijaya Kusuma
Pada tahun 2018, sejarah baru dimulai ketika Bioskop Wijaya yang telah beroperasi lama di Probolinggo mengalami pergantian manajemen.
Dalam proses perubahan ini, nama Bioskop Wijaya diganti menjadi CGV Wijaya Kusuma dan menjadi bagian dari jaringan besar bioskop yang dikelola oleh PT Graha Layar Prima Tbk, yang merupakan bagian dari CGV Cinemas Indonesia.

CGV sendiri merupakan jaringan bioskop yang terkenal di Indonesia, yang sebelumnya dikenal dengan nama BlitzMegaplex.
Berdiri pada 2006, BlitzMegaplex kemudian diakuisisi oleh CJ CGV dari Korea Selatan pada 2014, yang mengubah nama jaringan bioskop tersebut menjadi CGV Blitz pada 2015 dan akhirnya CGV Cinemas pada 2017.
Setelah akuisisi, banyak bioskop yang sebelumnya berada di bawah BlitzMegaplex, termasuk Bioskop Wijaya, direnovasi dan disesuaikan dengan standar estetika dan fasilitas modern CGV.
Bioskop CGV Wijaya Kusuma: Satu-Satunya yang Tersisa
Kini, CGV Wijaya Kusuma Probolinggo menjadi satu-satunya bioskop yang masih aktif beroperasi di kota tersebut. Keberadaannya merupakan bukti bertahannya dunia perfilman di Probolinggo meskipun banyak bioskop lain yang harus tutup.
Dengan hadirnya CGV Wijaya Kusuma, masyarakat Probolinggo kini bisa merasakan pengalaman menonton film dengan kualitas modern, berkat standar CGV yang dikenal luas di Indonesia.
Bioskop ini tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga simbol dari daya tahan dan adaptasi terhadap perubahan zaman. Dari awal yang sederhana sebagai Bioskop Wijaya, kini menjadi bagian dari jaringan bioskop yang terus berkembang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Rahmatika Putri Supuasari (Maximize)
Editor: Dwi Lindawati








