Tugujatim.id — Situasi geopolitik global semakin memanas setelah Iran secara resmi menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Langkah ini muncul sebagai respons atas konflik yang terus meningkat di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit antara negara-negara Teluk Persia dan Laut Arab yang selama ini menjadi titik transit vital untuk sekitar 20% dari total minyak dan gas alam yang diperdagangkan di dunia.
Baca Juga: Konflik Iran dan AS-Israel Selat Hormuz Ditutup, Apa Imbas bagi Indonesia?
Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Sabtu (28/02/2026) menyiarkan penutupan selat melalui siaran radio frekuensi tinggi. Melalui siaran itu, melansir dari pemberitaan Reuters, Minggu (01/03/2026), IRGC memperingatkan, kapal-kapal tidak akan diizinkan untuk melewati jalur air strategis itu.
Pentingnya Selat Hormuz
Selat Hormuz adalah sebuah chokepoint atau jalur sempit yang dilewati sebagian besar ekspor minyak dan gas dari negara-negara penghasil energi besar di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, menjadikannya rute logistik kritis bagi pasokan energi global dan ekonomi dunia.
Dampak Penutupan bagi Global
Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan besar dalam alur pelayaran dan energi dunia:
1.Harga minyak dunia melonjak tajam karena pasokan terhambat sementara permintaan tetap tinggi.
2.Ratusan kapal, termasuk tanker minyak dan LNG, terpaksa menunggu di luar Teluk Persia karena tidak berani melintasi selat yang berisiko tinggi.
3.Jalur navigasi bergeser dengan kapal-kapal besar memilih rute lebih panjang melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di Afrika, menambah biaya dan waktu transportasi.
Kaitannya dengan Indonesia
Walau Indonesia bukan pengguna utama rute ini, dampaknya tetap terasa dalam perekonomian nasional:
1. Dampak Harga Energi & Logistik
Indonesia adalah negara importir energi yang tetap tergantung pada harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak akibat penutupan selat akan langsung meningkatkan biaya impor dan produksi bahan bakar dalam negeri.
2. Biaya Logistik Dunia Meningkat
Asosiasi Logistik Indonesia menyatakan bahwa biaya logistik global dapat naik hingga 30% jika rute utama seperti Selat Hormuz terganggu lama. Ini berarti harga barang impor di Indonesia juga berpotensi naik.
3. Ketahanan Energi Indonesia
Menteri ESDM Indonesia dan juga beberapa menteri lainya di panggil oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kabinet untuk menyoroti kesiapan stok minyak nasional meskipun ada gangguan global. Pemerintah memantau situasi dengan cermat untuk memastikan pasokan tetap aman dalam jangka pendek.
Baca Juga: Iran Tetapkan 40 Hari Berkabung Nasional Atas Gugurnya Ali Khamenei Dalam Serangan AS-Israel
Reaksi Pemerintah dan Pelaku Bisnis
Pemerintah Indonesia bersama sektor swasta kini tengah menyiapkan strategi mitigasi dampak kenaikan harga energi yang diakibatkan oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah, didasarkan pada perkembangan situasi terkini dan laporan media ekonomi. Berikut ada beberapa poin yang dibahas:
1. Sektor Energi dan Pemerintah
Laporan dari Kementerian ESDM dan pengamat energi yang disiarkan melalui kanal berita seperti CNBC Indonesia dan Bloomberg Technoz menyoroti dampak kenaikan harga minyak mentah (BRENT) yang melampaui ambang batas asumsi makro APBN akibat blokade tersebut.
2. Sektor Perdagangan dan Investasi
Pernyataan dari Kementerian Investas atau BKPM dan Kementerian. Perdagangan (seperti diberitakan oleh Antara News) mengenai strategi diversifikasi mitra dagang dan sumber energi dari luar wilayah Teluk untuk menjaga ketahanan nasional.
3. Pelaku Usaha
Pernyataan resmi dari APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan KADIN yang dipublikasikan melalui media seperti Bisnis Indonesia yang menekankan kekhawatiran pada melonjaknya biaya logistik laut dan premi asuransi pengiriman internasional.
4. Lembaga Internasional
Analisis risiko dari IEA (International Energy Agency) dan Goldman Sachs yang dikutip secara luas oleh media lokal terkait potensi disrupsi pasokan minyak dunia sebesar 21 juta barel per hari yang melewati jalur tersebut.
Penutupan Selat Hormuz bukan hanya krisis regional Timur Tengah. Ini adalah peristiwa global yang mengganggu pasokan energi dunia yang mendorong harga minyak dan biaya logistik naik, memaksa negara-negara seperti Indonesia menyiapkan rencana antisipasi.
Dengan kondisi geopolitik yang masih dinamis, seluruh negara perlu waspada terhadap dampak berkepanjangan pada ekonomi dan stabilitas pasokan energi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Nurul Asmalia/Magang
Editor: Dwi Lindawati








