LUMAJANG, Tugujatim.id – Gunung Semeru atau Mahameru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas vulkaniknya telah terekam sejak awal abad ke-19 dan terus berlanjut hingga kini. Catatan panjang ini menunjukkan bahwa erupsi Gunung Semeru memiliki siklus yang berulang dan berdampak pada wilayah sekitar, terutama di Kabupaten Lumajang.
Catatan Letusan Semeru: 1818–1913
Melansir dari bnpb.go.id, catatan letusan yang terekam pada 1818 hingga 1913 tidak banyak informasi yang terdokumentasikan. Minimnya teknologi pemantauan kala itu membuat detail aktivitas erupsi Gunung Semeru pada periode tersebut tidak tercatat dengan lengkap.
Baca Juga: Seluruh Aktivitas Pendakian Gunung Semeru Dihentikan
Erupsi Panjang 1941–1942: Leleran Lava Capai Lereng Timur
Pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat adanya leleran lava menuju lereng timur Semeru pada ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Material vulkanik bahkan menimbun pos pengairan Bantengan.
Letusan Beruntun 1945–1960
Aktivitas vulkanik terus terjadi pada:
1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955–1957, 1958, 1959, hingga 1960. Rentetan aktivitas ini memperlihatkan bagaimana Semeru terus melepaskan energi magma secara berkala dari dekade ke dekade.
Erupsi 1977: Awan Panas Luncur 10 Km
Pada 1 Desember 1977, guguran lava memicu awan panas guguran (APG) sejauh 10 km ke arah Besuk Kembar. Volume endapan material mencapai 6,4 juta meter kubik. Awan panas juga menghantam wilayah Besuk Kobokan, merusak sawah, jembatan, hingga rumah warga. Aktivitas vulkanik masih berlanjut pada periode 1978–1989.
Aktivitas Era 1990–2008: Guguran Awan Panas dan Erupsi Berulang
PVMBG mencatat aktivitas vulkanik Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007, hingga 2008. Pada 2008, dalam periode 15–22 Mei, terjadi beberapa erupsi signifikan. Pada 22 Mei 2008, teramati empat kali awan panas guguran dengan jarak luncur hingga 2.500 meter menuju Besuk Kobokan.
Karakter Letusan Semeru: Vulkanian dan Strombolian
Aktivitas Semeru bersumber dari kawah Jonggring Seloko di sisi tenggara puncak Mahameru. Karakter letusannya terdiri dari:
- Vulkanian: letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava sebelumnya.
- Strombolian: pembentukan kawah dan lidah lava baru dengan erupsi berulang dalam waktu singkat.
Menurut PVMBG, letusan Semeru terjadi 3–4 kali setiap jam, menandai intensitas aktivitas yang tinggi.
Aktivitas Terbaru 2025: Status Naik ke Level III (Siaga)
Terbaru, aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur melaporkan terjadinya awan panas guguran (APG) pada Rabu (19/11/2025) pukul 14.13 WIB.
Tidak lama kemudian, pada pukul 16.00 WIB, tingkat aktivitas Semeru resmi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerjunkan tim lapangan untuk memastikan kondisi masyarakat serta memantau perkembangan aktivitas gunung.
Sebagai langkah kewaspadaan, akses Jembatan Gladak Perak ditutup sementara mengingat potensi bahaya di jalur aliran awan panas dan material vulkanik.
Dengan riwayat erupsi Gunung Semeru yang berulang sejak 1818 hingga lonjakan aktivitas terbaru pada 2025, gunung ini tetap menjadi gunung api yang harus diwaspadai. Masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Besuk Kobokan, Besuk Kembar, dan wilayah rawan lainnya diimbau untuk selalu mengikuti arahan resmi dari PVMBG, BPBD, dan pemerintah setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








