MALANG, Tugujatim.id – Tidak lengkap rasanya jika ke Kabupaten Malang, Jawa Timur, belum mengunjungi wisata hidden gem-nya. Salah satunya yang unik yaitu Situs Ngawonggo.
Malang memang dikenal dengan kota yang memiliki keindahan alam dan udaranya yang sejuk. Tetapi, Malang sebenarnya juga kaya akan situs-situs bersejarah yang menyimpan jejak peradaban masa lalu.
Salah satunya adalah Situs Ngawonggo, sebuah pemandian kuno yang terletak di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Petirtaan ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat, menjadikannya destinasi menarik bagi pencinta sejarah dan wisata budaya.
Baca Juga: Instagramable! Wisata Malang Skyland Jadi Pilihan Destinasi Paling Populer saat Liburan
Daya Tarik Utama
Melansir dari laman resmi Balai Resmi Kebudayaan, Situs Ngawonggo merupakan kolam pemandian kuno yang dipercaya telah ada sejak zaman Kerajaan Hindu-Buddha di antara abad 10-13 Masehi. Petirtaan ini terbuat dari batu padas, dengan susunan yang rapi membentuk kolam persegi panjang.
Selain itu, ada saluran irigasi yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1908. Airnya masih jernih dan terus mengalir, menjadi sumber air yang berguna bagi warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Selain struktur fisiknya yang unik, suasana di sekitar petirtaan ini sangat tenang dan alami. Dikelilingi pepohonan rindang serta letaknya yang berada di tebing sungai, tempat ini memberikan sensasi damai dan reflektif.
Situs ini menjadi lokasi studi lapangan bagi pelajar, mahasiswa, maupun komunitas pencinta sejarah. Karena termasuk peninggalan nenek moyang, situs ini sudah mendapatkan perlindungan hukum. Melansir dari laman resmi Balai Resmi Kebudayaan, pelestarian dilakukan dengan menetapkan situs tersebut sebagai cagar budaya per 21 September 2021.
Akses dan Lokasi
Situs Petirtaan Ngawonggo terletak di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dari pusat Kota Malang, Petirtaan Ngawonggo berjarak sekitar 18 kilometer dan membutuhkan waktu tempuh selama sekitar 35 menit untuk sampai ke sana.
Fasilitas
Fasilitas di area petirtaan masih sangat terbatas yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari suasana alami dan tidak ramai. Tersedia area parkir sederhana di sekitar pemukiman warga, dan akses jalan menuju situs cukup baik meskipun sebagian masih berupa jalan tanah. Keasrian tempat ini dengan minimnya fasilitas justru memberikan pengalaman yang lebih otentik.
Tetapi jika kamu ingin menikmati sajian tradisional selepas menjelajahi situs, cobalah mampir ke Tomboan Ngawonggo—tempat rehat di area situs yang menyajikan makanan dan minuman khas tempo dulu.
Di sini, pengunjung bisa menikmati nasi jagung, urap-urap, bothok, hingga minuman rempah racikan lokal yang menghangatkan badan. Suasananya yang sederhana, ditambah peralatan makan berbahan non-plastik yang ramah lingkungan semakin menambah kesan menyatu dengan alam dan budaya. Duduk santai di bawah pepohonan sambil mencicipi hidangan tradisional, kamu akan merasa seperti sedang kembali ke masa silam.
Baca Juga: Pesona Pantai Teluk Asmara di Malang, Destinasi Primadona dengan View Menakjubkan
Harga Tiket dan Jam Operasional
Situs Petirtaan Ngawonggo tidak memungut biaya masuk alias gratis, tetapi kamu bisa memberikan retribusi secara sukarela melalui tempat yang sudah disediakan. Situs ini buka pukul 09.00 hingga 16.00 WIB serta libur pada hari Kamis.
Jika kamu ingin mendapatkan informasi sejarah lebih mendalam, kamu bisa mengajak pemandu lokal yang memahami cerita dan latar belakang situs ini.
Review Pengunjung
Beberapa pengunjung mengungkapkan pengalamannya melalui ulasan yang mereka tulis di Google Review. Beberapa ulasan tersebut menunjukkan kesan positif dengan banyaknya pujian kepada udara yang segar dan terasa menyatu dengan alam. Berikut beberapa ulasannya!
“Situs peninggalan bersejarah yang dijaga kelestariannya. Masih natural suasana pedesaan menyatu dengan alam. Bersih dan terawat, teduh banyak pohon-pohon, udaranya sejuk dan segar. Bikin betah lama-lama di sini syahdu menyatu dengan alam, ditemani suara kicau burung liar dan gemericik aliran air, terasa damai…,” tulis akun Ira Meliani.
“Cagar budaya yang perlu dilestarikan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Berbagai makanan tradisional tempo dulu tersedia dengan pemandu pemuda pemudi yang ramah,” tulis akun Nuril Hilal.
“Klo ada bintang 10 ta kasih bintang 10 nihh. 🎑 pernah sekali ke sini sama keluarga, alhamdulillah langsung fall in love! 💘 Tempatnya nostalgic bangett, segerr, adem, bersih, rapi, berasa di rumah, natural banget. Berasa pulkam ke rumah emak. Masya Allah! Anehnya tempat ini tuh masih hidden gem ya. Mungkin mulai sekarang keambah turis. 🤍🤗 org² nya santun, sopan banget. Istilah Jawae ‘nyemanggaaken’ gtuu…,” tulis akun Irsya Qanun.
Situs Ngawonggo mungkin tidak sepopuler destinasi wisata lain di Malang, tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Tempat ini membawa kita mundur ke masa lalu, menyaksikan jejak peradaban yang masih bertahan dalam kesunyian.
Mengunjunginya bukan hanya soal wisata, tetapi juga bagian dari menghargai warisan leluhur dan memperkuat ikatan dengan sejarah lokal. Jadi, jika kamu mencari pengalaman yang berbeda dan bermakna, jangan lewatkan Situs Ngawonggo dalam daftar perjalananmu ke Malang!
Sementara ulasan lengkap tentang wisata Kabupaten Malang lainnya bisa Anda lihat di situs resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Malang di https://matic.malangkab.go.id. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Saddam Alvaro N.P/Magang
Editor: Dwi Lindawati








