Tugujatim.id – Seseorang yang menyukai humor gelap atau dark jokes telah diapresiasi dalam sebuah penelitian oleh Medical University of Vienna, di tahun 2017. Ditulis dalam jurnal Cognitive Processing, mereka menemukan keterkaitan antara sikap merespons humor gelap dan tingkat kecerdasan.
Berjudul “Cognitive and emotional demands of black humour processing: the role of intelligence, aggressiveness and mood”, studi yang dipimpin oleh Ulrike Willinger ini, meminta 156 orang untuk menilai pemahaman mereka terhadap 12 kartun yang diambil dari The Black Book oleh kartunis Jerman, Uli Stein.
Kartun tersebut mengungkapkan berbagai jenis humor hitam yang menyinggung bunuh diri, rasa sakit, dan topik lain yang cenderung tidak menjadi subjek humor konvensional.
Sebelumnya, partisipan juga diuji untuk IQ verbal dan non-verbal dan ditanya tentang suasana hati, agresi (perilaku emosional), dan latar belakang pendidikan mereka.
Dari penelitian ini kemudian diperoleh tiga kelompok peserta. Kelompok dengan apresiasi dan pemahaman humor sakit tertinggi mendapat skor tertinggi dalam tes IQ verbal dan non-verbal, berpendidikan lebih baik, dan mendapat skor lebih rendah untuk agresi dan suasana hati yang buruk.
Kelompok kedua menunjukkan pemahaman yang moderat tentang lelucon tetapi paling tidak menikmatinya. Ini adalah anggota dengan skor kecerdasan rata-rata, tetapi memiliki suasana hati negatif tertinggi dan tingkat agresi tertinggi.
Kelompok terakhir menunjukkan pemahaman dan preferensi humor sakit sedang, memiliki skor kecerdasan rata-rata, tetapi umumnya memiliki suasana hati yang positif dan memiliki skor agresi sedang.
“Ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa selera humor berkorelasi dengan IQ, tetapi membantah kepercayaan yang agak umum dipegang bahwa orang yang menyukai humor hitam cenderung pemarah dan mungkin sedikit rentan terhadap sadisme,” kata intisari melansir dari The Guardian.
Pemahaman terhadap dark humor membutuhkan pemikiran yang kompleks, karena suasana hati yang tidak positif dan tingkatan agresi seseorang yang tinggi dapat berpengaruh pada kemampuan pemahaman lelucon yang dapat dikatakan anti mainstream atau tidak biasa ini.
“Tampaknya, hanya orang-orang yang tidak memiliki perasaan agresif terhadap orang lain serta tidak ada gangguan suasana hati seperti suasana hati disforik atau depresi yang mampu atau lolos dengan paparan main-main selama pemrosesan humor hitam,” kata peneliti melansir dari psychologist world.








