SURABAYA, Tugujatim.id – Sutradara film Dirty Vote, Dandhy Laksono menyinggung soal tolak ukur keberhasilan karya film dokumenternya yang telah ditonton lebih dari 20 Juta kali tersebut.
Dandhy tampil dalam diskusi di Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) pada Rabu (21/2/2024), kerja sama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya dan Fakultas Filsafat UKWMS. Tidak hanya dihadiri Dandhy, tetapi juga aktor dalam film tersebut, Feri Amsari yang juga seorang pakar hukum Tata Negara.
Dalam kesempatan itu, Dandhy disinggung soal keberhasilan film Dirty Vote yang dinilai bisa mempengaruhi proses jalannya Pemilu 2024.
“Film ini kalau mau disebut berhasil tergantung dari apa tafsirnya, tapi yang paling valid menjawab kan diukur dari niat yang bikin. Kalau niat awalnya dibuat untuk menggerus suara satu paslon dan kemudian paslon itu kemudian justru mayoritas ya itu alasan yang dibikin dan dijawab sendiri,” kata Dandhy di Auditourium Benekdiktus pada Rabu (21/2/2024).

Dandhy mengatakan jika tidak masuk akal apabila pihak yang mengklaim berhasil atau tidak sebuah film, tidak terlibat dalam proses pembuatannya. Terlebih anggapan Dirty Vote yang dinilai menggerus suara salah satu Paslon.
“Itu teori yang dibikin dan dijawab-jawab sendiri, ya silakan saja. Cuma aneh saja, yang mengukur berhasil tidaknya justru orang yang bukan membuat filmnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dandhy mengatakan jika film ini justru bukan hanya sebatas tontonan momentum Pemilu 2024 saja. Karena pembicaraan atau diskusi dalam film Dirty Vote nampaknya akan terus berlanjut meski Pemilu 2024 usai.
“Ini sepertinya menunjukkan bahwa semua sepakat bahwa film ini memang bukan untuk elektoral 14 Februari saja. Film ini melampaui itu semua, film ini tidak ada urusan dengan hasil quick count, real count dari KPU,” tuturnya.
Menurutnya, film Dirty Vote bisa membangun sisi kritis masyarakat atau penonton untuk tidak apatis terhadap proses Pemilu 2024. Di mana, dugaan-dugaan kecurangan wajib diwaspadai.
“Hari ini orang punya intensitas, perhatian yang lebih dibanding menerima atau tidak menerima hasil pemilu 5 tahun lalu misalnya. Jadi dari sisi itu saya merasa senang karena pemilu ini sepertinya memberikan kekuatan atau energi baru bagi orang untuk tetap kritis dengan proses pemilu bahkan lebih jauh, kritis dengan proses politik,” tandasnya.
Reporter: Izzatun Najibah
Editor: Darmadi Sasongko








