JEMBER, Tugujatim.id – Aksi penggeledahan kontroversial yang melibatkan pemeriksaan fisik siswa hingga melepas pakaian di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jelbuk 02 memantik gelombang protes keras dari para wali murid.
Kejadian yang dipicu hilangnya uang mahar oknum guru kelas V SDN di Jember itu berujung sanksi pembinaan dari dinas pendidikan (dispendik). Seorang wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kekecewaannya.
“Awalnya kami dengar hanya pemeriksaan tas saja, ternyata meluas sampai pemeriksaan badan anak-anak. Ini sudah di luar batas kewajaran,” ungkapnya pada Senin (09/02/2026).
Baca Juga: Buntut Dugaan Guru di Jember Telanjangi Murid, Sejumlah Siswa Tolak Masuk Sekolah
Kejengkelan para orang tua memuncak hingga mereka kompak menarik anak-anaknya dari sekolah sebagai bentuk aksi perlindungan sekaligus unjuk rasa.
Bahkan, petisi berisi tuntutan pemindahan guru SDN di Jember berinisial FT dari sekolah tersebut beredar dan berhasil mengumpulkan sekitar 60 tanda tangan orang tua yang rencananya akan disampaikan ke Dispendik Jember.
Merespons situasi yang memanas, Dinas Pendidikan Jember turun tangan dengan menggelar mediasi pada Minggu (08/02/2026).
Forum yang mempertemukan seluruh pihak terkait, mulai dari wali murid, siswa, guru yang bersangkutan, pihak sekolah, hingga Dispendik Jember, menjadi ajang klarifikasi langsung dari anak-anak tentang pengalaman traumatis mereka.
Dispendik Jember Serius Tangani Pelanggaran Oknum Guru
Kepala Seksi Pembinaan Tenaga Kependidikan SD Dispendik Jember Maret Wijayati menegaskan keseriusannya dalam memproses pelanggaran ini.
“Guru yang bersangkutan sudah kami panggil untuk menjalani pembinaan. Tindakan semacam ini tergolong pelanggaran kode etik berat dan tidak bisa kami maafkan begitu saja,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dispendik Jember Arief Tjahyono membuka tabir di balik tindakan kontroversial tersebut. Terungkap bahwa guru FT bertindak demikian setelah kehilangan uang dari dompetnya yang bukan kali pertama terjadi.
Guru yang memiliki riwayat penyakit jantung dan harus rutin minum obat ini sering meninggalkan kelas untuk ke toilet. Di salah satu kesempatan itulah uang kembali lenyap.
“Sudah beberapa kali kejadian serupa. Pernah hilang Rp200 ribu, kemudian Rp75 ribu. Yang terakhir ini uang spesial,” papar Arief.
Uang pecahan Rp75 ribu yang hilang ternyata bukan sembarang uang. Menurut pengakuan guru SDN di Jember itu saat pemeriksaan, uang edisi terbatas tersebut adalah mahar pernikahan pemberian suaminya yang memiliki nilai sentimental mendalam.
Kehilangan barang berharga secara emosional inilah yang memicu ledakan amarah hingga berujung pada penggeledahan tidak wajar terhadap para siswa.
“Karena uang mahar yang penuh kenangan, guru tersebut kehilangan kendali emosi. Memang tindakannya salah, tapi ada pemicu yang membuat beliau bertindak demikian hingga terjadi penggeledahan itu,” jelas Arief.
Ironisnya, setelah seluruh siswa diperiksa bahkan hingga harus melepas pakaian, uang mahar yang dicari tidak berhasil ditemukan sama sekali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








