• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Kampung Naga. (Foto: Herlianto A./Tugu Jatim)

Suasana Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: Herlianto A./Tugu Jatim)

Warga Kampung Naga Andalkan Lumbung Padi untuk Bertahan Hidup, Tetap Bersyukur meski Kekurangan Uang

Dwi Lindawati by Dwi Lindawati
4 years ago
in News
0
Share on FacebookShare on Twitter

TASIKMALAYA, Tugujatim.id – Pemasukan akan cukup untuk memenuhi kehidupan. Tapi, tidak akan cukup untuk gaya hidup. Adagium ini tampaknya tepat untuk menggambarkan kehidupan warga Desa Adat Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Saat tim “Jawa Bali, Mereka yang Memberi Arti” oleh Tugu Media Group dan PT Paragon Technology and Innovation melakukan eksplorasi ke Kampung Naga, Kamis (01/09/2022), salah satu yang menarik dari kampung ini adalah soal kesederhanaan dan ketahanan pangan warga kampung.

You might also like

Cuaca di Jawa Timur.

Hujan Ringan dan Udara Kabur Dominasi Cuaca di Jawa Timur 13 Juni 2026, Waspadai Kelembapan Tinggi dan Jarak Pandang

13/06/2026 8:58 AM
Santri

Terkendala Gelombang Tinggi, Pencarian Hari Kedua Santri Terseret Ombak di Blitar Nihil

12/06/2026 8:54 PM
Kampung Naga. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)
Salah satu tetua adat Maun dengan cucunya di depan rumahnya. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)

Penduduk kampung adat yang tidak memakai listrik dan alat elektronik seperti handphone dan televisi ini, mayoritas pemasukannya dari bertani padi.

Cahyan, 52, salah seorang penduduk mengatakan, mayoritas warga Kampung Naga ini mempunyai lahan padi sebanyak 100-150 bata atau tumbak. Untuk diketahui, bata atau tumbak adalah penanda untuk 13 meter persegi lahan pertanian yang digarap.

Kampung Naga. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)
Seperti inilah lumbung padi di setiap rumah Kampung Naga. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)

Jika memiliki 100 tumbak, artinya setiap warga desa ini mempunyai sekitar 1.300 meter persegi lahan pertanian berupa sawah. Rata-rata, dengan lebar tersebut, mereka panen 4 kuintal gabah atau padi yang belum ditumbuk dalam enam bulan sekali.

Sebagai langkah swasembada pangan, semua warga di tempat ini akan menyimpan hasil panen untuk persiapan hidup enam bulan ke depan.

”Kami sering kekurangan uang, tapi tidak akan kekurangan nasi untuk dimakan,” kata Cahyan lalu tersenyum lebar.

WhatsApp Image 2022 08 30 at 13.17.10 1

Dia menambahkan, dari 4 kuintal beras yang dia panen, biasanya dia menyimpan buat keperluan keluarga 2,5 kuintal. Beras atau padi tersebut lantas ditaruh di lumbung padi atau leit.

“Sedangkan sisanya yakni 1,5 kuintal saya jual, mungkin dapat Rp600 ribu,” imbuhnya.

Uang Rp 600 ribu itu sebenarnya bukan pemasukan bersih karena ada untuk keperluan pupuk dan bibit. Sedangkan untuk pendapatan lain, Cahyan mendapatkannya dari menjadi tour guide dan membantu jika ada tetangga butuh tenaganya seperti memotong kayu.

Untuk menjadi tour guide, Cahyan tidak menentukan tarif.

Kampung Naga. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)
Cahyan sedang menunjukkan kentongan masjid di Kampung Naga saat ditemui tim jelajah Tugu Media Group pada Kamis (01/09/2022). (Foto: Herlianto.A/Tugu Jatim)

”Karena kami ini desa adat, bukan desa wisata. Jadi gak boleh menentukan tarif, seikhlasnya saja, dan di sini ada sekitar 10 guide. Jadi ya gantian yang antar tamu,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk keperluan hidup dia, istri, dan dua anaknya per bulan butuh sekitar Rp1 juta.

”Sering juga sih gak punya uang, kurang. Tapi, disyukuri saja karena bisa hidup dengan adanya lumbung padi,” imbuhnya.

Kampung Naga. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)
Suasana dapur warga desa Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)

Sementara itu, Maun, 88, tokoh adat, ini juga mengatakan hal serupa. Dia mengatakan, tumpuan utama dia dan warganya ada pada sawah yang ada di sekitar Kampung Naga. Selain dari sawah, dia membuat aneka rupa kerajinan tangan.

”Lumayan buat tambahan pendapatan,” katanya.

Untuk diketahui, desa adat ini berada di sebuah lembah. Untuk mendatangi desa ini, Anda dari parkiran mobil harus berjalan kaki sekitar 20-30 menit. Selain itu, Anda juga akan menuruni sekitar 444 anak tangga.

Di tempat ini, juga tidak ada listrik. Tapi, tidak adanya listrik bukan karena warga di sini menolak kemajuan. Tapi, takut ada korsleting listrik yang membuat rumah terbakar. Ini karena rumah di desa adat ini sangat berdempetan dan dibuat dari kayu serta anyaman bambu. Bahkan, rumah di sini tidak memakai bahan semen sama sekali.

Dari sekitar 101 kepala keluarga (KK), hanya ada sekitar 5 keluarga yang mempunyai televisi. Itu pun televisi hitam putih yang dihidupkan dengan Accu. Sedangkan untuk handphone, mayoritas warga tidak punya.

”Misal kayak keluarga saya, ada empat orang, handphone satu rumah cukup satu. Dan banyak juga rumah yang sama sekali tidak punya handphone,” kata Cahyan.

Karena itu, warga Kampung Naga bisa dibilang hidup dengan alam. Tim jelajah terlihat menyaksikan anak-anak yang sangat asyik bermain dengan teman-temannya di alam terbuka.

”Mainnya kami ya seperti ini. Saya tidak pakai pernah pakai handphone dan tetap enjoy,” kata Rapka, 8.

Catatan ini adalah bagian dari program Jelajah Jawa-Bali tentang Inspirasi dari Kelompok Kecil yang Memberi Arti oleh Tugu Media Group x PT Paragon Technology and Innovation. Program ini didukung oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Pondok Inspirasi, Genara Art, Rumah Wijaya, dan pemimpin.id. 

Tags: Berita TasikmalayaJawa Barat hari iniKampung NagaKampung Naga TasikmalayaKampung Naga Tasikmalaya Jawa BaratKisah Kampung Naga TasikmalayaTasikmalaya hari iniWarga Kampung Naga
Dwi Lindawati

Dwi Lindawati

Related Stories

Cuaca di Jawa Timur.

Hujan Ringan dan Udara Kabur Dominasi Cuaca di Jawa Timur 13 Juni 2026, Waspadai Kelembapan Tinggi dan Jarak Pandang

by Dwi Linda
13/06/2026 8:58 AM
0

Tugujatim.id - Cuaca di Jawa Timur pada Sabtu (13/06/2026) didominasi hujan ringan, udara kabur, dan kondisi berawan di berbagai wilayah....

Santri

Terkendala Gelombang Tinggi, Pencarian Hari Kedua Santri Terseret Ombak di Blitar Nihil

by Mochamad Abdurrochim
12/06/2026 8:54 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Operasi pencarian terhadap santri asal Kabupaten Kediri yang terseret ombak di Pantai Pangi, Desa Tumpakkepuh, Kecamatan Bakung,...

Bediding

Fenomena Bediding 2026: Kenapa Suhu Malam hingga Dini Hari Terasa Lebih Dingin Saat Musim Kemarau?

by Mochamad Abdurrochim
12/06/2026 8:22 PM
0

Tugujatim.id - Masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan mulai merasakan perubahan suhu udara yang lebih dingin dalam beberapa hari...

DPRD Surabaya.

Warga Ketar-ketir, DPRD Surabaya Tegaskan Kenaikan Pertamax Bukan Alasan Utama Harga Barang Naik

by Dwi Linda
12/06/2026 6:33 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Menyikapi kenaikan harga Pertamax, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya melihat adanya penyesuaian tersebut tidak serta...

Next Post
Summa cumlaude. (Foto: Tugu Media/Nurcholis MA Basyari)

Lulus Doktor Summa Cumlaude, Kabaharkam Polri Temukan Disharmoni Hukum Hambat Penanganan Kasus Pencucian Uang

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID