Tugujatim.id – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam melayani kebutuhan masyarakat, Universitas Negeri Malang kembali menggelar sosialisasi dan pelatihan juru sembelih halal pada hari minggu, 10 mei 2026. Sebagai kegiatan rutin setiap tahun, kegiatan ini sudah berjalan sejak 4 tahun lalu, dimana tahun ini menjadi tahun kelima diadakannya sosialisasi ini.
“Kegiatan sosialisasi dan pelatihan Juleha di UM ini adalah tradisi tahunan. Insya Allah ini sudah tahun kelima” Jelas Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag., Wakil Rektor IV UM saat sambutan sekaligus pembukaan acara.
UM Hadir sebagai Jembatan Ilmu
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Kesehatan dan Pangan LPPM UM ini bukan sekedar pekatihan teknis. Melainkan bentuk komitmen kampus untuk hadir sebagai jembatan ilmu yang memenuhi kebutuhan nyata di lapangan. Hal ini sekaligus menjadi gambaran terlaksananya poin 3 dan 17 Sustaiable Development Goals (SDG).
Konteks kehidupan sehat dan Sejahtera (SDG poin ke-3) ditunjukkan melalui tata cara penyembelihan yang benar. Sehingga memberikan dampak langsung terhadap kualitas dan keamanan pangan yang dikonsumsi Masyarakat.
Sementara itu, semangat kolaborasi (SDG 17) direalisasikan melalui kemitraan strategis antara UM dengan MUI Kota Malang, Asosiasi Juru Sembelih Halal (JULEHA) Malang Raya, Dinas pertanian dan ketahanan pangan, Serta Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang turut menseponsori acara ini.
Menjawab Urgensi Masyarakat
Dr. Norman Yoshi Haryono, selaku ketua panitia sekaligus tim pengembang dan peneliti di Pusat Kesehatan dan Pangan, menjelaskan bahwa meskipun mayoritas warga Indonesia adalah muslim, namun pemahaman tentang tata cara penyembelihan yang sesuai syariat masih belum merata di Masyarakat.
“Kami melihat hal ini sangat relevan di masyarakat dan banyak yang belum mengetahuinya dengan baik. Sehingga salah satu program terkait halal adalah mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat bagaimana cara melakukan penyembelihan yang baik menurut syariat Islam agar daging hewannya itu halal.” Jelas Dr. Norman Yoshi Haryono, S.Si.
Antusiasme peserta pun terlihat dari jumlah peserta yang semakin bertambah dibandingkan tahun sebelumnya. Dr. Norman menyebutkan peserta yang mendaftar tahun ini ada 89, sedangkan di tahun sebelumnya hanya sekitar 60 peserta.
Dengan membuka pendaftaran untuk umum dan tanpa batas kuota, menjadikan kegiatan ini banyak diminati. Dr. Norman juga menjelaskan bahwa peserta bukan datang dari UM saja, tapi juga berbagai perwakilan masjid, organisasi keislaman, institusi, hingga kampus-kampus se-Malang Raya.

Kolaborasi 3 Pakar Sebagai Narasumber
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber berkompeten yang saling melengkapi. Yang pertama ada pemateri dari MUI Kota Malang yang menyampaikan fikih penyembelhan dan dasar syariat Idul adha. Dilanjutkan dengan materi teknik dan praktik penyembelihan oleh praktisi berpengalaman dari asosiasi JULEHA Malang Raya. Dan yang terakhir ada materi kesehatan hewan kurban dan standar keamanan pangan oleh Dinas pertanian dan Ketahanan pangan.
Penggabungan ketiga aspek ini memastikan peserta tidak hanya paham apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak secara syariat. Akan tetapi juga memahami bagaimana yang benar secara praktis dan mengapa hal itu penting secara ilmiah.
Tak Hanya Materi, Tapi Juga Praktik Langsung
Keunggulan utama pelatihan di UM ini adalah sesi praktik langsung. Tahun ini, empat ekor kambing disiapkan sebagai media pembelajaran nyata. Dr. Norman menyebutkan, seekor kambing pertama akan didemonstrasikan langsung oleh Juleha berpengalaman sebagai acuan, sementara tiga sisanya diberikan sebagai kesempatan bagi peserta yang ingin mencoba menyembelih sendiri dengan pendampingan penuh dari para ahli.
Tak hanya itu, demonstrasi teknik pengulitan yang benar juga menjadi bagian dari sesi ini. Sebagai penutup yang hangat, seluruh daging hasil sembelihan akan dibagikan kepada peserta yang hadir.
Dalam sambutannya, Prof. Ahmad Munjin Nasih mengingatkan bahwa Allah menyerukan halalan thayyiban bukan hanya kepada umat Islam, melainkan kepada seluruh manusia.
“Thayyib itu berarti standar kesehatan. Standar penyembelihan. Urusan halal dan thayyib itu menjadi kebutuhan manusia secara umum.” Jelas Professor Munjin.
Beliau juga menambahkan bahwa ajaran Rasulullah tentang penyembelihan menggunakan alat tajam dan tidak menyakiti hewan ternyata selaras dengan temuan ilmu pengetahuan modern. Di mana hewan yang mengalami stres sebelum disembelih terbukti menghasilkan daging berkualitas lebih rendah. “Ini luar biasa. Inilah bukti bahwa ajaran Islam tidak dilampaui oleh waktu dan tempat,” tegasnya.
Investasi Sosial Jangka Panjang
Dengan antusiasme peserta yang terus meningkat setiap tahunnya, kegiatan Juleha UM bukan sekadar agenda tahunan tapi juga investasi sosial jangka panjang. Ketua panitia serta wakil rektor berharap nantinya setiap peserta yang hadir dapat membawa ilmu dan keterampilan yang benar yang berpotensi menghasilkan daging kurban yang halal, sehat, dan disembelih dengan penuh hormat dan sesuai syariat.
Melalui LPPM, Universitas Negeri Malang, membuktikan bahwa peran kampus tidak berhenti di bidang akademik. Dengan menggandeng MUI, komunitas Juleha, dinas pemerintah, dan pihak swasta dalam satu wadah, UM menghadirkan model kemitraan yang nyata dan sejalan dengan semangat SDG poin 17 demi masyarakat Malang Raya yang lebih sehat dan berwawasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Mochamad Abdurrochim








