JAKARTA, Tugujatim.id – Perundungan, aksi kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah dan dunia maya, telah menimbulkan dampak serius bagi kesehatan mental anak-anak di Indonesia. Berdasarkan data UNICEF, sebanyak, 45% remaja di Indonesia berusia 14–24 tahun pernah mengalami perundungan daring atau cyberbullying.
Ruber Innovation Lab sukses menggelar Talkshow bertema keamanan dan kenyamanan anak terhadap ancaman bullying dengan tajuk ‘Melampaui Sunyi: Membangun Ekosistem Sekolah Yang Aman Dan Kesehatan Mental Yang Kuat’.
Acara ini dihadiri oleh 842 peserta dari kalangan umum dan siswa se-Jabodetabek. Acara untuk menambah kesadaran masyarakat terhadap bullying ini mengundang empat narasumber ternama yaitu Rico Juni Artanto, Fathia Fairuza, Anastasia Satriyo dan Azzahra Putri Santi yang digelar di salah satu venue PT Paragon Corp – Paragon Community Hub, Sabtu (05/10/2024).

Korban perundungan seringkali mengalami depresi, kecemasan, bahkan bunuh diri. Tindakan ini tidak hanya berdampak pada korban, namun juga pada lingkungan sosial mereka. Dibalik tawa sinis, tersimpan luka mendalam. Bullying, masalah yang semakin marak di kalangan remaja, ternyata memiliki akar masalah yang lebih dalam dari sekadar ingin populer. Studi terbaru mengungkapkan bahwa kurangnya kemampuan mengelola emosi dan mengontrol perilaku menjadi salah satu faktor utama penyebab tindakan kekerasan ini.
Para pelaku bullying seringkali kesulitan menghadapi tekanan sosial dan melampiaskannya pada teman sebaya yang dianggap lebih lemah. Sama seperti virus yang mudah menular, perilaku bullying juga bisa menyebar dengan cepat di lingkungan sekolah dan pergaulan.
Selain sesi talkshow, adapun sesi pengenalan board game kartu ‘Buddy Pekerti’ yang dikenalkan oleh Rico J. Artanto. Munculnya permainan kartu ‘Buddy Pekerti’ dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas maraknya kasus bullying di masyarakat. Rico J. Artanto, salah satu pengembang permainan ini, mengungkapkan bahwa dalam proses pembuatannya, banyak individu yang berbagi pengalaman traumatis terkait perundungan.
“Setelah saya riset lebih dalam, ditemukan bahwa sebagian besar korban bullying enggan bersuara akibat rasa takut dan ketidakberdayaan. Permainan kartu ini dirancang sebagai wadah bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran yang selama ini terpendam,” ucap Rico J. Artanto.

Event kolaborasi yang juga disiarkan secara online via Zoom Meeting ini juga turut mengundang para tokoh penting di dunia parenting, influencer, dan aktivis anti bulliying. Salah satunya adalah Shahnaz Haque yang pada salah satu sesi talkshow kemarin mengaku bahwa putrinya pernah menjadi saksi perundungan dan berhasil menolong korban perundungan.
“Sewaktu putri saya menjadi ketua OSIS, dia tidak hanya berhasil menolong korban perundungan di sekolahnya, tapi juga sang pelaku agar tidak mengulangi tindakannya,” ungkap dia bangga.
Anastasia, salah satu narasumber menambahkan, bahwa perbedaan latar belakang sosial ekonomi seringkali menjadi pemicu utama terjadinya bullying. Anak-anak dengan keterbatasan ekonomi atau latar belakang keluarga yang kurang mendukung cenderung menjadi sasaran empuk bagi pelaku perundungan. Akibatnya, korban kerap mengalami trauma mendalam, seperti gangguan stres pasca-trauma (PTSD), depresi, kecemasan, hingga pikiran untuk mengakhiri hidup. Melalui permainan “Buddy Pekerti”, diharapkan dapat membantu korban bullying untuk mengatasi trauma dan membangun kembali kepercayaan diri.

Dalam talkshow Melampaui Sunyi, Anastasia Satriyo, seorang praktisi di bidang Psikologi, mengajak seluruh peserta untuk melakukan latihan pernapasan. Kegiatan ini bertujuan untuk memfokuskan pikiran dan mengendalikan emosi. Dengan memberikan afirmasi positif yang disesuaikan dengan minat peserta, seperti tokoh favorit atau nilai-nilai spiritual, metode ini diharapkan dapat menstimulasi pikiran positif dan meningkatkan kepercayaan diri.
Melalui talkshow Melampaui Sunyi ini peserta diajak untuk mengendalikan emosi dan mengerti apa pentingnya pencegahan bullying baik itu di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga.
“Dari sini saya mengetahui untuk bisa lebih menghargai dan menjadi contoh yang baik di sekolah selain itu berteman pada siapa saja tanpa memandang latar belakang seseorang dan lebih peduli dengan tindakan perundungan yang terjadi di sekitar kita baik itu sengaja maupun yang tidak sengaja dilakukan.” ujar Jovan, salah satu peserta talkshow Melampaui Sunyi.
Sementara itu, Fathia Fairuza, seorang ahli hukum, memberikan pemahaman mendalam mengenai aspek hukum terkait bullying. Sebelum membahas pasal-pasal yang mengatur tindakan perundungan, Peraih beasiswa LPDP Columbia University ini terlebih dahulu mengajak peserta untuk memahami hak asasi manusia yang dimiliki setiap anak, terutama hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Dia menyoroti kelemahan dalam sistem hukum saat ini, dimana belum ada pasal khusus yang secara tegas mengatur tindak pidana bullying, terutama untuk kasus-kasus bullying verbal. Namun, Fathia juga memberikan contoh kasus nyata dimana pelaku bullying dapat dijerat secara hukum apabila tindakannya mengakibatkan luka fisik yang serius pada korban.
Sebagai informasi tambahan, peserta dapat menghubungi hotline [081292843122] untuk mendapatkan bantuan atau konsultasi lebih lanjut terkait masalah bullying. Dengan menggabungkan latihan pernapasan, edukasi hukum, dan layanan konsultasi, diharapkan upaya untuk mencegah dan mengatasi bullying dapat semakin efektif.
Dalam sambutan penutupnya, Rico J. Artanto mengajak seluruh peserta untuk terus berkomitmen dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Senada dengan Rico, Fathia menekankan pentingnya hak setiap anak untuk hidup bebas dari ancaman bullying. Keempat narasumber juga mendorong para peserta untuk tidak ragu melaporkan segala bentuk tindakan perundungan kepada pihak berwajib. Melalui kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak, diharapkan permasalahan bullying dapat diatasi secara efektif dan menyeluruh.
Semangat aksi #1MillionYouthsStopBullying juga mendapatkan dukungan dari PT Paragon Corp dan Indika Foundation. Ruber Innovation Lab adalah bagian dari PT Matahati Bermakna Indonesia yang merupakan ruang aksesibel bagi generasi muda yang didedikasikan untuk memformulasikan inovasi melalui proses design thinking dengan tujuan memberikan dampak yang luas. Ruber Innovation Lab berfokus pada product development, people development, open innovation & creative space, community engagement & collaboration, dan impact reporting.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Rajasa Hartastro
Editor: Darmadi Sasongko








