4 Rekomendasi Karya Sastra Bertema Pandemi Karya Penulis Indonesia

  • Bagikan
Ilustrasi rekomendasi karya sastra bertema pandemi. (Foto: Pixabay) tugu jatim
Ilustrasi rekomendasi karya sastra bertema pandemi. (Foto: Pixabay)

Tugujatim.id – Pandemi sudah terjadi selama satu tahun. Virus ini membuat sendi kehidupan banyak yang berbeda dari biasanya. Manusia dipaksa untuk tinggal, dan berdiam diri di rumah demi keselamatan. Sebagian ada yang menghabiskan waktu untuk bekerja, ada pula yang mengadu nasib memperoleh ilmu pengetahuan, hingga para pahlawan yang berada di garda terdepan memperjuangkan keselamatan manusia lainnya.

Realita itu terekam oleh beberapa karya sastra yang ditulis penulis Indonesia. Pandemi sebagai kejadian musibah luar biasa mungkin akan terus melekat dalam batin setiap insan yang terlibat. Kelak, cerita soal virus bernama Covid-19 secara turun menurun menjadi kenyataan pahit untuk diceritakan. Tidak hanya dari mulut ke mulut, sebab beberapa penulis buku, dan penyair telah merekam kejadian tersebut menjadi karya. Berikut 4 buku karya sastra yang dihasilkan saat pandemi covid-19

BANNER DONASI

1. Kisah Kisah Kecil dan Ganjil Malam 1001 Pandemi karya Agus Noor ( Diva Press, 2020) 

Seperti judulnya ‘kisah-kisah kecil’ novel ini disusun dari patahan kisah pendek yang saling berkesinambungan membentuk semesta cerita. Agus Noor menyebut flash fiction, artinya kisah kilat yang ia pungut juga beberapa dari sosial media khususnya Instagram.

Dalam buku realita tentang covid-19 menjadi potret yang tersusun secara singkat dan padat. Meski bersifat flash fiction, Agus Noor membangun buku ini menjadi sebuah novel. Artinya kisah kisah kecil dalam buku saling berkesinambungan membentuk semesta novel. Buku Agus Noor sarat akan refleksi yang dapat dijadikan stimulus untuk keluar dari kejumudan pemikiran di tengah pandemi covid 19.

Melalui buku berjudul Kisah Kisah Kecil dan Ganjil Malam 1001 Pandemi, Agus Noor mengisahkan wabah yang tidak pernah selesai. Ia mengantarkan pembaca masa sekarang agar dapat melakukan katarsis. Tatanan kehidupan yang kini disebut sebagai New Normal, perlu diakui akan merubah kehidupan sosial, budaya, alam, dan teknologi.

Novel yang ditulis bertepatan dengan pandemi ini akan menjadi sebuah publikasi yang terkenang hingga entah. Sebab, dalam 234 halaman saya membaca banyak sekali refleksi hidup yang bisa dijadikan pelajaran.

2. Sepotong Hati di Angkringan karya Joko Pinurbo (Diva Press, 2020) 

Buku kumpulan puisi tersebut terbit pada bulan maret 2021. Joko Pinurbo dengan piawai merekam kejadian seputar wabah corona dalam puisinya. Sebagai penyair kenamaan yang karyanya melalang buana, ia menghadirkan suasana dan peristiwa-peristiwa yang dialami semua orang dengan begitu puitis.

Salah satu puisi dalam buku itu berjudul Sajak Ibadah Mandi, akan membuat pembaca kian hanya dengan puisi-puisi Joko Pinurbo. Sedikit mengutip dalam buku tersebut: Pandemi membuat saya lebih dewasa, setidaknya dalam hal mandi. Saya sudah bisa dan berani mandi kapan pun dan dalam situasi apa pun.

3. Tidak Ada yang Ke mana-mana Hari Ini karya Marchella FP (2020) 

Buku ini menjadi bagian penting dari galang dana melawan virus covid-19 yang terbit pada 4 mei 2020 lalu. Marchella FP membawa pembaca untuk mengalami pengalaman menjalani karantina saat pandemi.

Buku ini terbit secara digital meski demikian, sangat menarik karena dipenuhi ilustrasi. Marchella FP menuliskan, jika berbagai penggalan pengalaman yang menarik untuk dinikmati pembaca dengan kalimat sederhana dan mudah dipahami.

4. Cerpen Pilihan #ProsaDiRumahAja berjudul Pandemi (Arcana Foundation, 2020) 

Kehadiran buku ini diinisiasi oleh Arcana Foundation dari Galeri Indonesia Kaya. Menghimpun beberapa cerpen dari penulis muda seluruh Indonesia yang telah mengikuti kelas prosa. Banyak bercerita tentang potret sosial yang terjadi saat pandemi covid-19. Gejolak peristiwa yang dialami para penulis, akan mampu dibaca oleh para pembaca. Buku ini dapat diunduh secara gratis di sini

Bagi pembaca buku 4 karya sastra di atas sayang untuk dilewatkan. Bacaan yang berkualitas lahir di tengah pandemi, bertema pandemi, dan akan mampu menjadi refleksi sosial. (Dani Alifian/gg)

  • Bagikan