Tugujatim.id – Euforia Lebaran memang selalu datang dengan hangat, rumah penuh tawa, meja makan tak pernah kosong, dan silaturahmi terasa begitu hidup. Agar tidak berlebihan, ada kalanya kamu kelola stres pasca Lebaran setelah liburan panjang.
Hari-hari terasa cepat berlalu di tengah kunjungan keluarga, obrolan panjang, hingga momen saling berbagi yang terasa tulus. Namun, ketika semuanya mulai mereda dan rutinitas perlahan kembali, tak sedikit orang justru dihadapkan pada perasaan yang berbeda: lelah, kosong, bahkan stres yang datang diam-diam.
Baca Juga: 7 Cara Hemat Uang setelah Lebaran: Strategi Cerdas Bangkit dari “Krisis Dompet”
Di balik hangatnya perayaan, ada realita yang mulai terasa. Dompet yang menipis setelah pengeluaran besar, rumah yang berantakan setelah jadi pusat berkumpul, tubuh yang terasa tidak fit akibat pola makan yang berantakan, hingga pikiran yang masih terbayang pertanyaan-pertanyaan sensitif dari keluarga. Kondisi ini bukan hal yang aneh—bahkan dalam kajian psikologi, fenomena ini sering disebut sebagai post-holiday blues, yaitu penurunan suasana hati setelah periode perayaan atau liburan panjang.
Agar tidak berlarut-larut, penting untuk kelola stres dan menghadapinya dengan langkah-langkah sederhana yang realistis.
1. Mengatur Finansial Pasca Hari Raya
Salah satu sumber stres paling umum setelah Lebaran adalah kondisi keuangan. Pengeluaran untuk THR, kebutuhan mudik, baju baru, hingga konsumsi selama hari raya sering kali membuat kondisi finansial menjadi lebih ketat dari biasanya. Ketika kembali ke rutinitas, tekanan muncul dari tagihan yang menunggu dan pemasukan yang belum sepenuhnya stabil.
Menurut penelitian dalam Journal of Consumer Research, pengeluaran selama momen perayaan sering kali dilakukan secara impulsif karena dorongan sosial dan budaya, efek perayaan hingga promosi-promosi yang ada, kemudian dapat memicu stres finansial setelahnya.
Untuk mengatasinya, langkah kecil ini bisa jadi sangat membantu:
• Mulai dengan mengecek ulang kondisi keuangan secara jujur, tanpa menghindar. Ini membantu mengurangi kecemasan yang tidak pasti.
• Susun ulang prioritas pengeluaran untuk beberapa minggu ke depan.
• Tahan diri dari belanja tambahan sebagai bentuk “pelarian stres”.
2. Home-Control setelah Kumpul Keluarga
Rumah yang sebelumnya rapi bisa berubah menjadi “zona perang” setelah menerima banyak tamu. Piring menumpuk, barang berpindah tempat, dan suasana tidak lagi terasa nyaman. Tanpa disadari, kondisi lingkungan yang berantakan dapat memperburuk stres.
Dalam studi yang dipublikasikan oleh Personality and Social Psychology Bulletin, lingkungan rumah yang tidak terorganisir terbukti berkaitan dengan peningkatan hormon stres (kortisol), terutama pada individu yang sensitif terhadap keteraturan.
Untuk mengatasinya:
• Tidak perlu langsung bersih total—mulai dari area kecil seperti kamar tidur atau meja kerja.
• Lakukan secara bertahap agar tidak terasa membebani.
• Putar musik atau lakukan sambil aktivitas ringan agar lebih enjoyable.
Mengembalikan ruang pribadi ke kondisi nyaman bisa memberi efek besar terhadap ketenangan pikiran.
Baca Juga: 9 Cara Efektif Kelola Stres untuk Jaga Ketenangan Pikiran
3. Mengembalikan Pola Hidup Sehat
Lebaran identik dengan makanan bersantan, manis, dan berlemak. Dalam beberapa hari, pola makan berubah drastis, belum lagi jam tidur yang ikut berantakan. Tak heran jika setelahnya tubuh terasa berat, mudah lelah, atau mengalami gangguan pencernaan.
Menurut Harvard Health Publishing, perubahan pola makan secara tiba-tiba, terutama konsumsi tinggi lemak dan gula, dapat memengaruhi sistem pencernaan serta energi tubuh secara keseluruhan.
Cara sederhana untuk kembali seimbang:
• Mulai kembali ke pola makan normal secara perlahan, tidak perlu ekstrem.
• Perbanyak air putih untuk membantu metabolisme.
• Sisipkan aktivitas ringan seperti jalan kaki untuk mengembalikan ritme tubuh.
4. Menjaga Kesehatan Mental selama dan setelah Hari Raya
Selain fisik dan finansial, aspek sosial juga sering meninggalkan beban tersendiri. Pertanyaan seperti “kapan nikah?”, “kerja di mana sekarang?”, atau “kok belum ini-itu?” mungkin terdengar ringan, tetapi bisa memicu tekanan, terutama jika menyentuh hal yang sensitif.
Fenomena ini berkaitan dengan social comparison theory dalam psikologi, di mana individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, yang dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan stres.
Untuk mengelolanya:
• Sadari bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan serius.
• Ambil jeda dari interaksi sosial jika merasa terlalu lelah.
• Fokus kembali pada perjalanan pribadi, bukan standar orang lain.
Merasa lelah atau stres setelah Lebaran bukanlah hal yang aneh, bukan berarti kita tidak menikmati dan gagal memaknai hari raya, melainkan respons yang wajar setelah melewati periode yang penuh aktivitas, emosi, dan perubahan ritme. Yang penting bukan menghindari perasaan tersebut, tetapi memahami dan mengelolanya dengan cara yang sehat.
Di hari yang fitri dan suci, momen Lebaran sejatinya bukan hanya tentang kembali ke orang lain, tetapi juga kembali pada diri sendiri. Ini adalah waktu yang tepat untuk menata ulang; bukan hanya rumah dan keuangan, tetapi juga pikiran dan perasaan. Karena pada akhirnya, “kembali suci” juga berarti memberi diri kesempatan untuk menata diri untuk memulai lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Maulida N/Magang
Editor: Dwi Lindawati








