JEMBER, Tugujatim.id – Kawasan pesisir selatan Jember, tepatnya di Puger, menyimpan cerita tentang ketangguhan dan dedikasi luar biasa. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini tidak hanya menawarkan panorama maritim, tetapi juga menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga nelayan.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas perdagangan hasil tangkapan laut, terdapat kisah inspiratif seorang perempuan bernama Napia, yang kini menginjak usia 60 tahun. Dengan pengalaman lebih dari empat dekade atau 40 tahun, dia menjadi salah satu pedagang senior di lokasi penjualan ikan setempat. Keterampilannya dalam menangani komoditas laut tetap prima, meski waktu terus bergulir.
“Kalau hasil tangkapan melimpah, pembeli otomatis berdatangan. Memang sedang sepi, tapi rezeki tidak pernah putus,” ungkap perempuan yang menghabiskan hampir separo umurnya di tengah kesibukan pasar ikan itu pada Kamis (16/10/2025).
Napia telah menyatu dengan ritme kehidupan maritim Puger. Rutinitas malamnya adalah menanti kepulangan armada nelayan. Dia membedakan dua jenis kapal, yang berukuran besar mampu berlayar sampai tujuh hari, sementara perahu tradisional berangkat petang dan merapat kembali di pagi hari.
Fenomena alam memegang peranan krusial dalam naik dan turunnya harga ikan. Ketika kondisi cuaca kurang mendukung seperti saat ini, harga beberapa jenis ikan mengalami kenaikan. Ikan tuna misalnya, melonjak dari harga normal Rp20.000 menjadi Rp25.000-27.000 per kilogram. Namun ironisnya, daya beli masyarakat justru menurun.
Ketidakpastian pendapatan bukan hal baru bagi Napia. Bagi dia, berdagang di sini melampaui urusan ekonomi. Kondisi tersebut menurunnya tentang komitmen pada kampung halaman.
“Saya lahir dan besar di Puger. Tidak pernah terlintas untuk pindah,” tuturnya dengan nada lembut.
Ratusan Pedagang Jaga Kebersihan Area Dagang
Sepanjang perjalanan empat puluh tahun, dia menyaksikan transformasi signifikan. Lokasi yang dulunya dikeluhkan pengunjung karena kondisi sanitasi buruk, kini berubah total.
“Masa lalu, kawasan ini terkenal kumuh dan berbau menyengat. Sekarang jauh lebih tertata dan nyaman,” jelasnya.
Saat ini, sekitar seratus pedagang menjalankan usaha di area tersebut. Meskipun tanpa organisasi formal, solidaritas antar pedagang tetap kuat. Mereka secara swadaya menjaga kebersihan area dagang, dibantu petugas kebersihan untuk saluran air.
Meski usia tidak lagi muda, Napia konsisten memulai hari sebelum mentari terbit. Keinginannya sederhana namun bermakna: dukungan lebih optimal dari otoritas daerah terhadap pengembangan infrastruktur perdagangan ikan.
“Harapan saya, tempat ini mendapat perhatian serius dari pemerintah. Agar semakin berkembang, bersih, dan ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah,” pungkasnya penuh optimisme.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








