PASURUAN, Tugujatim.id – Forum Komunikasi Astronom Amatir Lintas Jawa Timur (Fokalis Jatim) menggelar aksi solidaritas menyikapi penutupan Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Pasuruan.
Fokalis Jatim membakar lilin di depan kantor yang dulunya dikenal sebagai Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Pasuruan, di Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Sabtu (4/2/2023) malam.
Aksi bakar lilin itu diikuti oleh belasan pecinta astronomi dari Pasuruan, Kediri, Malang, hingga Surabaya. Mereka membentuk lilin menjadi angka 39, simbol usia BRIN Pasuruan atau Lapan Pasuruan yang berdiri sejak 1983.

Ketua Umum Fokalis Jatim, Muhammad Thoyib menyatakan bahwa aksi solidaritas bakar lilin ini menjadi simbol redupnya pengembangan keilmuan, terutama di bidang sains paska penutupan BRIN Pasuruan.
“Kami menyayangkan ditutupnya BRIN Pasuruan. Seluruh fungsi riset sampai pelayanan edukasi sudah dilaksanakan. Banyak output yang berguna bagi pengembangan sains di Jatim justru malah ditutup karena efisiensi,” ucapnya.
Menurut Thoyib, BRIN Pasuruan sudah sejak lama menjadi mitra bagi komunitas astronom, pelajar, hingga civitas akademika untuk melakukan riset sains. Mulai dari riset bidang ilmu fisika, geografi, astronomi, hingga ilmu falak difasilitasi di BRIN Pasurian.
Bahkan, kata dia, BRIN Pasuruan menjadi satu-satunya pusat penelitian terlengkap di Indonesia untuk pengamatan terhadap matahari serta ozon dan atmosfer bumi.
“Sampai mahasiswa dari Malaysia risetnya juga di sini. Untuk riset atmosfer dan matahari, di sini pusatnya di Indonesia, bahkan ada teleskop pengamatan matahari terbesar di Asia Pasifik,” ungkapnya.
Maka, Thoyib berharap BRIN pusat bisa mengaji ulang keputusan untuk menutup BRIN Pasuruan. “Kawasan BRIN lain, seperti Purwodadi dan Surabaya yang jadi pusat hidrodinamika itu berbeda bidangnya. Kalau riset antariksanta wacananya akan dipusatkan di Bandung dan riset mataharinya di Kupang NTT, itu kitanya kesulitan akomodasi,” ucapnya.
Koordinator Pelaksana Fungsi Stasiun Observasi Antariksa dan Atmosfer BRIN Pasuruan, Dian Yudha Risdianto mengaku tersentuh dengan perhatian dari Fokalis Jatim yang menggelar aksi solidaritas atas penutupan BRIN Pasuruan.
Menurut Yudha, dengan ditutupnya BRIN Pasuruan, ia ikut merasakan kehilangan. Tidak hanya kehilangan kantor tempatnya bekerja, tapi juga persaudaraan dan kegiatan riset keantariksaan yang telah dilaksanakan selama ini.
“Pesan saya, teman-teman tetap semangat walupun BRIN Pasuruan berhenti beroperasi. Tetap lakukan kegiatan positif di bidang astronomi dan kemandirian di bidang sains atau edukasi tetap dilaksanakan, karena itu cita-cita presiden pertama kita, Soekarno,” ucapnya.







