MOJOKERTO, Tugujatim.id – Kota Mojokerto dikenal sebagai kota terkecil di Jawa Timur. Meski demikian, kota yang kini mempunyai tiga kecamatan itu menyimpan kuliner yang sudah bertahan selama tiga generasi. Kuliner tersebut sesuai dengan julukan Kota Mojokerto, onde-onde.
Nama gerai yang menjual onde-onde tersebut adalah Bo Liem Empunala. Gerai yang berlokasi di jalan Empunala, Balongsari, Magersari, Kota Mojokerto, itu berawal dari bisnis keluarga yang didirikan oleh The Bo Liem.
“Kakek saya, The Bo Liem atau biasanya dikenal dengan Bo Liem bikin toko onde-onde bareng istrinya. Toko itu berdiri sejak tahun 1929. Outlet yang pertama berdiri itu di jalan Niaga,” terang pengelola Bo Liem Empunala, Elly Krisnayana, pada Jumat (24/2/2023).

Wanita kelahiran Surabaya itu merupakan cucu dari Bo Liem. Tercatat toko Bo Liem sudah memasuki generasi ketiga dari sisi pengelolaan.
Awalnya, Bo Liem merintis usaha toko onde-onde dengan satu varian saja yakni isi kacang ijo. Selanjutnya, bisnis itu dikelola oleh ayah dari Elly dengan menambahkan dua varian isi yaitu keju dan coklat. Terkini, setelah dikelola Elly, dia menambahkan varian lain yaitu durian, pisang, dan taro.
“Untuk awalnya, kakek (Bo Liem) menyediakan satu varian saja yaitu isi kacang ijo. Lalu, putranya, ayah saya, menambahkan dua varian yaitu keju dan coklat hingga Bo Liem memiliki tiga varian. Lalu kemudian bertambah durian, pisang, dan juga taro. Total sekarang sudah ada enam varian yang dimiliki,” jelasnya.

Onde-one Bo Liem, kata Elly, menggunakan bahan ketan asli tanpa pengawet. Maka, onde-onde miliknya mampu bertahan hingga tiga hari.
“Biasanya kan ada ya onde-onde yang kena udara dikit kulitnya jadi keras. Nah punya kami masih empuk, bisa sampe satu hari empuknya. Dan bahkan bisa sampe tiga hari kalau dihangatkan lagi pake microwave, asal sebelumnya ditaruh di kulkas biar awet,” imbuh wanita alumni UK Petra Surabaya itu.
Maka tak heran dengan bahan baku yang digunakan, untuk onde-onde Bo Liem varian original yaitu kacang ijo dibanderol seharga Rp58 ribu, sedangkan varian campuran mulai keju, coklat, durian, dan taro dihargai Rp63 ribu.
Dari pengakuan Elly, kebanyakan konsumen Bo Liem berasal dari luar kota. Selain itu, juga dari dinas setempat ketika punya acara atau sedang mendapat kunjungan tamu dari instansi lain.
“Kebanyakan dari luar kota, ya. Biasanya karena mampir ke Kota Mojokerto lalu bawa pulang onde-onde kami sebagai oleh-oleh. Dinas-dinas sini juga sama. Karena makanan kamikan memang dikenal sebagai makanan oleh-oleh gitu,” tambahnya.
Karena mayoritas pangsa pasarnya adalah wisatawan, Elly mengakui ketika pandemi Covid-19 kemarin dia cukup terpukul. Pasalnya, pembatasan akibat PPKM membuat tokonya nyaris sepi pembeli. Meski begitu, ia memilih memasarkan produknya lewat jalur daring.
“Memang pandemi efeknya parah ya. Akhirnya saya bikin pengantaran yang order lewat WA (WhatsApp). Kebanyakan saya kirim ekspedisi yang punya layanan satu hari nyampe. Dan puji Tuhan kondisi saat ini sudah mulai membaik juga,” pungkasnya.








