SURABAYA, Tugujatim.id – Untuk mengantisipasi terjadinya bencana gempa bumi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan menyurvei mikrozonasi (kerentanan seismik). Mitigasi gempa ini bertujuan untuk mengindentifikasi faktor kerentanan wilayah terhadap dampak gempa bumi di Kota Surabaya.
“Mikrozonasi ini bertujuan untuk mengindentifikasi faktor kerentanan wilayah terhadap dampak gempa bumi di Kota Surabaya,” kata Fungsional Madya Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Ariska Rudianto pada Senin (06/03/2023).
Untuk mengindentifikasi kerentanan dalam mitigasi gempa bumi, BMKG pusat melakukan beberapa kajian. Di antaranya, mendeteksi rata-rata gelombang geser hingga kedalaman 30 meter, periode dominan tanah, mengestimasi kedalaman (engineering bedrock), serta mendeteksi informasi indeks kerentanan seismik dan skala regang geser tanah (ground shear strain).
Baca Berita Lainnya:
Tips Hadapi Ancaman Kekerasan dan Bullying pada Anak
Parkir Sembarangan, 20 Mobil Digembok Dishub Malang
“Hasilnya, dapat digunakan untuk kepentingan penyusunan rencana tata ruang di wilayah Surabaya seperti perumusan peraturan dan perundang-undangan terkait perencanaan pembangunan infrastruktur yang berwawasan mitigasi bencana,” jelas Ariska.
Sementara itu, BMKG melalui Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu pada 2020 telah mengkaji mikrozonasi di wilayah Kota Surabaya dengan mengukur parameter kecepatan rata-rata gelombang geser.
Pengukuran telah dilakukan di 123 titik lokasi dengan kedalaman 30 meter. Untuk pengukuran mikrometernya ada di 102 titik dan pengukuran estimasi kedalaman di delapan titik.
“Hasil kajian tersebut secara umum menunjukkan bahwa berdasarkan parameter klasifikasi jenis tanah di Surabaya sebagian besar berjenis tanah lunak (SE) dan beberapa lokasi memiliki tanah sedang (SD) dan tanah keras (SC),” ujar Ariska.
Tahun ini, BMKG bakal kembali melaksanakan kajian mikrozonasi dengan penambahan lokasi pengukuran baru sebanyak 48 titik, mikrometer ada 97 titik lokasi, dan pengukuran estimasi kedalaman ada 9 titik.
Selain itu, rencananya tahun ini BMKG akan mengkaji pengukuran parameter anomaly percepatan gravitasi di 400 titik yang tersebar di wilayah Kota Surabaya (bagian utara, barat, selatan, tengah, dan timur). Beberapa titik di antaranya akan dilakukan di bangunan rumah sakit, hotel, dan kampus.
“Kami berharap, hasil kajian dan evaluasi nantinya dapat dijadikan sebagai bahan masukan sumber informasi untuk pemda maupun pusat,” tegas Ariska.







