• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Suasana pameran foto dan kliping koran informasi kerusuhan Mei 1998. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Suasana pameran foto dan kliping koran informasi kerusuhan Mei 1998. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Merawat Ingatan dalam Bingkai Foto Korban Kerusuhan Mei 1998

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
3 years ago
in Peristiwa
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Tagar Menolak Lupa akan terus menggema setiap Mei. 25 tahun reformasi, patut dirayakan dengan memori-memori kolektif yang terus ada. Desakan mundurnya Soeharto dalam menduduki kursi RI 1 menimbulkan ribuan korban.

Meninggal, luka, dan tanda tanya seperti nasib dua mahasiswa Universitas Airlangga, Petrus Bimo Anugrah dan Herman Hendrawan yang hilang saat kerusuhan Mei 1998.

You might also like

Surabaya

Malam Pengesahan Warga Pesilat, Aksi Tawuran Terjadi di Surabaya

17/06/2026 3:34 PM
Pantai Pangi.

6 Hari Terombang-ambing di Pantai Pangi Blitar, Santriwati Kediri Ditemukan Meninggal Terjepit di Batu Karang

17/06/2026 2:16 PM

Herman dan Bimo menjadi dua dari 13 orang yang entah di mana nasibnya selama seperempat abad ini. Hidup atau mati, tak ada jawaban yang pasti. Mereka hilang begitu saja ketika memperjuangkan reformasi.

WhatsApp Image 2023 05 27 at 00.39.40 1
Deretan foto yang mayoritas karya Prasetya Panca Putra, memori Herman dan Bimo. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Akankah generasi kini dapat mengetahui sosok Herman dan Bimo? Upaya merawat ingatan agar tagar Menolak Lupa masih hidup.

Dandik Katjasungkara yang merupakan sahabat Herman dan Bimo semasa menjadi aktivis beserta sejumlah orang yang mengatasnamakan Kawan Herman Bimo memajang sejumlah foto-foto yang kini menjadi kenangan dan patut diingat di samping bangunan Museum Etnografi, Kampus B Universitas Airlangga.

“Pameran ini dalam rangka menyambut 25 tahun reformasi. Itu penyelenggaranya Departemen Antropologi FISIP Unair yang bekerja sama dengan Kawan Herman Bimo. Kami menggelar pameran semua hal yang terkait peristiwa reformasi dan perihal Herman Bimo,” kata Dandik membuka obrolan bersama Tugujatim.id.

WhatsApp Image 2023 05 27 at 00.39.43
Deretan foto yang mayoritas karya Prasetya Panca Putra, memori Herman dan Bimo. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Beruntungnya, kalau saja waktu itu Prasetya Panca Putra tidak memiliki hobi foto meskipun menjadi aktivis, mungkin wajah Herman dan Bimo semasa perjuangannya ketika kuliah menjadi aktivis hilang begitu saja dalam ingatan.

Mengamati lebih detail, terlihat aktivitas Herman dan Bimo waktu itu yang rupanya memang handal berorasi.

Bimo si pemilik suara emas, lantas membuat lagu-lagu berbau sindiran pedas untuk rezim Soeharto. Salah satu foto menunjukkan, kala Bimo dengan kemahirannya bermain gitar sedang memacukan lagu-lagunya bersama anggota bandnya, Lontar.

WhatsApp Image 2023 05 27 at 00.39.41 2
Deretan foto yang mayoritas karya Prasetya Panca Putra, memori Herman dan Bimo. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Sedang Herman, pribadi yang cerdas dan keras serta lantang dalam setiap kritikannya. Herman memang dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk menggerakkan aksi demokrasi dari kota ke kota.

“Herman dan Bimo masih berstatus menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair. Herman, mahasiswa Ilmu Politik angkatan 90, sedangkan Bimo jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 93. Mereka aktif dalam organisasi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD),” kata Dandik.

Memiliki intuisi dan jiwa aktivis yang tinggi, Herman dan Bimo yang semula berada di Surabaya mendadak menuju Jakarta untuk bergabung dalam aksi pusat. Kerusuhan semakin menguat kala 18 Mei 1998, puluhan ribu mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi berhasil menguasai gedung DPR/MPR.

WhatsApp Image 2023 05 27 at 00.39.41 1
Deretan foto yang mayoritas karya Prasetya Panca Putra, memori Herman dan Bimo. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Sejak saat itu, desas-desus kabar hilangnya beberapa aktivis masih masif. Ada rasa kekhawatiran dalam diri Dandik, mengapa dua sahabatnya belum juga muncul setelah Soeharto lengser. “Aku mikir, mereka pasti kembali,” ucapnya untuk menguatkan hati dan pikiran.

Nampaknya, beberapa menit setelah kabar itu, kehilangan Herman dan Bimo menjadi kian panjang waktunya hingga 25 tahun ini. Tak habis nyerah, Dandik segera membentuk koordinasi dan menemui aktivis HAM, Munir untuk meminta bantuan pencarian Herman dan Bimo.

“Setelah Soeharto jatuh kok mereka nggak ada kabar, kami berkoordinasi dengan Cak Munir lalu dibentuknya tim investigasi independen,” ujarnya.

WhatsApp Image 2023 05 27 at 00.39.41
Deretan foto yang mayoritas karya Prasetya Panca Putra, memori Herman dan Bimo. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

Hilangnya kabar Herman dan Bimo menimbulkan pertanyaan besar bagi teman, dosen, dan terpenting keluarganya. Traumatis masih dirasakan hingga kini oleh ayah Bimo.

“Bapaknya Bimo, hampir tiap hari duduk di belakang rumah. Karena Bimo kebiasaan kalau pulang lewat samping belakang. Bapaknya mungkin sampai hari ini tiap hari ngopi di pintu dapur. Sampai sekarang beliau tidak pernah mengganggap bahwa anaknya sudah meninggal. Sejauh ini, trauma itu lebih kuat,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) itu.

Dandik dan keluarga para aktivis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya masih mengharapkan kepastian penyelesaian kasus pelanggaran HAM. Yang menyangkut salah satunya Herman dan Bimo serta 11 orang aktivis lainnya.

WhatsApp Image 2023 05 27 at 00.39.40
Suasana pameran foto dan kliping koran informasi kerusuhan Mei 1998. Foto: Izzatun Najibah/Tugu Jatim

“Aku masih suka nangis kalau mengingat mereka. Seadainya mereka masih hidup saya hanya ingin bertanya bagaimana keadaannya. Kalaupun sekarang berbeda pandangan politik, saya tidak kecewa. Saya berharap mereka saat ini ada di suatu tempat,” pungkas Dandik.

Tags: berita Surabayaberita Surabaya hari inikorban kerusuhan mei 1998mei 1998Surabaya
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Surabaya

Malam Pengesahan Warga Pesilat, Aksi Tawuran Terjadi di Surabaya

by Mochamad Abdurrochim
17/06/2026 3:34 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Warga Jalan Kalijudan gang 10, 12 dan 14, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Rabu (17/06/2026) sekitar pukul 00.30 WIB...

Pantai Pangi.

6 Hari Terombang-ambing di Pantai Pangi Blitar, Santriwati Kediri Ditemukan Meninggal Terjepit di Batu Karang

by Dwi Linda
17/06/2026 2:16 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Operasi pencarian besar-besaran terhadap santriwati asal Kabupaten Kediri yang terseret ombak di Pantai Pangi, Kecamatan Bakung, Kabupaten...

DPRD Kota Malang.

Temui Massa Aksi, Ketua DPRD Kota Malang Sepakat Hentikan MBG dan Kopdes Merah Putih

by Dwi Linda
15/06/2026 8:54 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Ketua DPRD Kota Malang sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita menyatakan sepakat menghentikan...

Demo mahasiswa Malang.

Poster “Maling Berkedok Gizi” Muncul di Demo Mahasiswa Malang, Minta Hentikan MBG Potensi Jadi Ladang Korupsi

by Dwi Linda
15/06/2026 8:02 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Ratusan mahasiswa menggelar aksi demo di depan Gedung DPRD Kota Malang, Senin (15/06/2026). Dalam aksi demo mahasiswa...

Next Post
Universitas Negeri Malang Luncurkan Aplikasi Ethical Clearance

Universitas Negeri Malang Luncurkan Aplikasi Ethical Clearance

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID