SURABAYA, Tugujatim.id – Menikmati dan berkenalan dengan budaya negara luar sembari mengisi energi di Minggu pagi, warga Surabaya sejak pukul 07.00 WIB sudah bersandar di barikade Jalan Tunjungan.
Yang ditunggu-tunggu tiba, hari ini, Minggu (16/7/2033) hadir delegasi dari delapan negara mulai dari Yunani, Mexico, Sri Lanka, Filipina, Uzbekistan, Korea Selatan, Prancis, dan India.
Ada juga, delegasi dari luar daerah Surabaya dan Jawa Timur seperti Pangkal Pinang (Bangka Belitung), Mengwi (Bali), Kendari (Sulawesi Tenggara), Flores (NTT), DKI Jakarta, Banjarmasin (Kalimantan Barat), Bone (Sulawesi Selatan), Polewali Mandar (Sulawesi Barat), dan Mojokerto (Jawa Timur).

Datang ke Surabaya, mereka masing-masing menampilkan kesenian memukau di hadapan masyarakat Surabaya. Tidak hanya dari segi kostum yang menarik pandangan mata, tetapi juga tarian, alunan musik, dan teatrikal yang ditunjukkan.
Parade Daville dari Gedung Siola hingga Hotel Majapahit, seluruh masyarakat nampak antusias melihat kedatangan setiap negara dan daerah untuk unjuk gigi kebudayaan. Riuh tepuk tangan dan lambaian “selamat datang” menggema di jalan yang memiliki deretan cagar budaya ini.
Memecahkan rindu, para delegasi negara dan daerah juga masyarakat Surabaya larut dalam suasana Surabaya Cross Culture International Folk Art 2023 yang sempat vakum selama tiga tahun belakangan.

“Tahun ini kita gelar lagi setelah tiga tahun lamanya vakum karena pandemi Covid-19. Akhirnya bertemu kembali dengan Surabaya Cross Culture International Folk Art,” kata Kepala Disbudporapar Surabaya, Wiwiek Widiyanti, pada Minggu (16/7/2023).
Tak sekadar unjuk penampilan budaya belaka, Wiwiek berharap melalui Surabaya Cross Culture International Folk Art 2023, Pemkot Surabaya bisa mendapat feedback positif. Juga budaya Indonesia, khususnya Surabaya, dapat dikenal oleh masyarakat mancanegara dan luar daerah.
“Kami ingin memperkenalkan Kota Surabaya dan daerah-daerah di Indonesia kepada dunia internasional lewat pertunjukan seni budaya. Serta melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional Kota Surabaya dan kota lainnya di Indonesia kepada mancanegara,” ujarnya
Wiwiek juga menuturkan bahwa kegiatan ini berfokus untuk memperkuat hubungan diplomatik antarnegara dan daerah yang terlibat. “Melalui kegiatan ini, dukungan diplomatik kita bisa kembangkan melalui kebudayaan. Bersama dengan daerah dan negara lain kita bangun hubungan ini secara kuat,” tandasnya.
Selanjutnya, rombongan seluruh negara dan daerah menunggangi becak menuju ke Balai Kota Surabaya untuk melihat penampilan Tari Remo dan Festival Yosakoi hingga malam.
Reporter: Izzatun Najibah
Editor: Lizya Kristanti








