Oleh: Muhammad Mufid, Cerpenis Difabel di Malang
Tugujatim.id – Malam sudah larut dan jalanan Kota Jakarta tampak lengang. Lampu-lampu jalan menyala pucat, memantulkan cahaya dingin di atas aspal yang basah oleh embun malam. Di sebuah bangku Taman Kota, Raisa Intan Permata masih duduk termenung, menatap kosong ke arah air mancur yang terus berputar tanpa lelah.
Di balik hidupnya yang tampak sempurna, Raisa menyimpan kehampaan yang tak pernah bisa dia ceritakan pada siapa pun. Dia memiliki segalanya: rumah megah di kawasan elite, mobil-mobil mewah berjejer di garasi, pakaian branded yang tak terhitung jumlahnya, dan harta yang tak terbatas. Namun, kebahagiaan sejati tak pernah benar-benar singgah.
Papa Raisa, Andhika Hadi Kusuma, adalah pengusaha properti terkaya di Jakarta. Namanya sering menghiasi majalah bisnis, wajahnya kerap muncul di televisi. Mamanya, Malika Jingga Tansania, dikenal sebagai dokter bedah terbaik di Indonesia. Keduanya terjebak dalam jadwal padat: rapat tanpa henti, operasi maraton, perjalanan bisnis ke luar negeri. Pulang ke rumah bukan rutinitas. Makan bersama adalah momen yang langka.
Sejak kecil hingga usianya 17 tahun, Raisa lebih sering ditemani Pak Maman, sopir setia, dan Bi Inah, pembantu yang mengurus segalanya. Mereka yang mengantar sekolah, menunggu Raisa pulang, dan yang mendengar curhatnya.
Kekosongan itu membentuk Raisa menjadi pribadi keras, manja, dan haus perhatian. Dia mencari pelarian dengan cara salah.
Di Jakarta Intercultural School, sekolah internasional elite, Raisa membentuk geng Velvet Venom yang artinya wanita yang beracun bersama tiga sahabatnya. Mereka adalah Clara Andersen, si sinis dan lidahnya tajam; Nadin Alegra, si tomboy dan dingin; serta Virgo Valencia, si temperamental suka mengintimidasi seseorang. Lembut di luar, mematikan di dalam. Tak ada siswa yang berani melawan mereka. Semua siswa tahu latar belakang keluarga mereka masing-masing. Artinya, melawan mereka berarti cari masalah dengan orang berkuasa.
Hingga siang itu, bel istirahat berbunyi.
Di lorong kantin, Nurul berjalan menunduk. Gadis sederhana penerima beasiswa ini pulang sekolah membantu ibunya jualan. Terkadang sambil berangkat sekolah, Nurul membawa gorengan untuk dititipkan di kantin.
Langkahnya terhenti. Empat bayangan mengepung Nurul.
“Heh, Nurul. Mau ke mana lo?” suara Raisa dingin menusuk.
“Mau… ke kantin. Ambil uang gorengan yang aku titipkan ke Buk Mar, ibu kantin,” jawab Nurul dengan tubuh gemetar dan kepala tertunduk.
Clara terkekeh sinis.
“Hai culun. Ini sekolah internasional, bukan pasar malam. Ngapain jualan gorengan murahan di sini?”
Virgo maju dengan garang.
“Udah jangan banyak bacot, serahin duit lo sini. Mana?”
“Aku nggak ada uang. Ini aku mau ngambil uang hasil daganganku yang aku titipin ke Buk Mar,” jawab Nurul lirih.
Nadin maju dan mengangkat dagu Nurul dengan kasar dan, tatapan tajam.
“Jangan bohong lo sama gue.”
Tubuh Nurul bergetar hebat. Raisa menyeringai jahat.
“Nggak ada duit nggak papa, ada gantinya kok.”
Raisa mengeluarkan lipstik.
“Muka sok polos lo gue coret pakai lipstik.”
“Ayo, guys! Kita coret-coret mukanya!” Clara menyaut.
Tawa mereka pecah. Lipstik merah, ungu, dan pink mencoret wajah Nurul tanpa ampun. Nurul menangis dalam diam, tidak berani melawan.
“Hahaha! Rasain lo siapa suruh berani lawan kita,” ujar Virgo tertawa puas.
“BERHENTI!”
Pak Hermawan, kepala sekolah, berdiri di ujung lorong dengan ekspresi wajah yang sangat marah.
“Apa yang kalian lakukan?!”
Mereka terdiam.
“Ikut Bapak ke ke ruang kepala sekolah sekarang.”
Di ruangan kepala sekolah, Pak Hermawan menatap mereka dengan tatapan tajam.
“Sampai kapan kalian mau berbuat ulah? Kemarin kalian kunci wali kelas Bu Retno di kamar mandi sampai sore. Untung ada Pak Agus cleaning service yang dengar teriakan minta tolong. Kalau enggak, coba kalian pikir apa akibatnya?! Kemarin lusa juga kalian ketahuan mencontek saat ujian. Kalian ini sudah dihukum berkali-kali masih saja nggak kapok juga.”
Mereka tidak mendengarkan omongan Pak Hermawan. Raisa mengangkat kaki ke atas kursi dengan santai.
“Udahlah, Pak. Jangan banyak omong. Nggak capek apa ngomel-ngomel mulu, berisik tau.”
“Kalian ini bandel banget sih, Bapak akan panggil orang tua kalian! Biar mereka tahu bagaimana kelakuan kalian di sekolah.”
Andhika Hadi Kusuma, pengusaha properti terkaya di Jakarta, pun datang tergesa-gesa.
“Ada apa, Pak? Saya lagi bahas kerja sama penting dengan client besar dari luar negeri.”
“Anak Bapak dan teman-temannya telah membully murid lainnya. Dengan meminta uang dan mencoret wajahnya dengan lipstik.”
“Raisa, kamu tahu apa yang kamu lakukan?” suara Andhika rendah, tapi tajam seperti pisau.
“Cuma bercanda, Pa,” Raisa menjawab dengan santai.
“Plak,” suara tamparan mendarat keras di pipi Raisa. Untuk kali pertama ayahnya menyentuh dia bukan dengan kasih sayang dan uang, tapi dengan amarah besar.
“Ini bukan bercanda! Kamu sudah membuat malu keluarga.”
Raisa menatap ayahnya dengan mata yang penuh emosi.
“Papa baru peduli sekarang? Selama ini Papa ke mana saja? Mama juga. Kalian nggak pernah ada buat aku. Kalian cuma tahu kerja, kerja, dan kerja.”
Keheningan menggantung berat.
Video insiden pembullyan Raisa kepada Nurul viral hingga tersebar luas. Raisa dikeluarkan dari sekolah. Skandal ini menghancurkan reputasinya.
Tapi Raisa dan gengnya tidak menyesal sama sekali dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Malah girang.
“Yeeh! Akhirnya bebas dari sekolah yang membosankan ini.
Raisa loncat-loncat kegirangan, diikuti Nadin, Clara, dan Virgo.
“Plak!” Andhika menampar lagi pipi Raisa lagi.
“Dasar anak nakal. Bukannya sadar, malah senang. Ayo pulang!”
Di rumah, Andhika menghukum Raisa.
“Mulai sekarang kamu papa kunci di kamar! Nggak boleh keluar sebelum introspeksi kesalahanmu!”
Jurang Kemerosotan
Hukuman tidak bertahan lama bagi Raisa yang penuh dendam. Malam itu, dia kabur loncat dari jendela dan langsung menghubungi gengnya.
“Guys, dugem yuk! Lupain sekolah basi itu!”
Mereka berpesta di klub malam di pinggiran Jakarta. Bass menggelegar, lampu neon berkedip liar. Raisa meminum sloki demi sloki Whiskey, tubuhnya bergoyang di lantai dansa. Clara dan Virgo ikut mabuk berat, Nadin memesan botol-botol minuman termahal. Tawa mereka tenggelam dalam musik, tapi mata mereka kosong pelarian sementara dari kekosongan.
Pagi harinya, apartemen mewah Nadin jadi sarang kegilaan.
“Ayo, coba ini! Bikin fly seminggu!”
Nadin menawarkan pil ekstasi dan bubuk putih. Raisa ragu sebentar, tapi tekanan geng menang. Mereka histeris tertawa, hidung menghirup garis-garis, badan bergetar euforia palsu. Asap ganja mengepul tebal, botol Vodka berserakan. Tiba-tiba, pintu jebol.
“Polisi! Semua angkat tangan di atas kepala!”
Razia mendadak. Tim narkoba menggeledah apartemen, temukan stok besar kokain, ekstasi, dan ganja. Mereka semua ditangkap. Berita meledak: “Anak Pengusaha Kaya Terjerat Kasus Narkoba!
Raisa pun akhirnya direhabilitasi bersama teman-temannya.
Jatuh Miskin, Ditinggal Teman
Setelah direhabilitasi, kelakuan mereka tak berubah. Malah semakin brutal. Raisa dan gengnya mendirikan sindikat kecil berjualan narkoba di klub bawah tanah Jakarta. Andhika yang bisnisnya runtuh gara-gara skandal Raisa, kini terlilit utang miliaran rupiah. Rumah disita, mobil dilelang. Keluarga jatuh miskin.
Tahu Raisa sekarang miskin, teman-temannya meninggalkannya satu per satu. Clara kabur ke Bali, Virgo ditangkap lagi, Nadin hilang tanpa jejak. Raisa sendirian, menatap cermin retak di kontrakan sempit.
“Ini..akhirku?” gumamnya.
Kesadaran Hati Raisa
Malam itu, Raisa menangis tersedu. Ingat Nurul yang dulu dia hancurkan, Pak Maman sopir yang setia, Bi Inah pembantu yang sabar. Dia sadar: kekosongan tidak harus diisi dengan uang atau pesta, tapi cinta dan taubat.
Keesokanharinya, Raisa pulang ke rumah orang tuanya yang kini jualan buah di pasar.
“Maaf, Pa, Ma. Biar aku bantu.”
Setiap pagi, Raisa mengangkat keranjang dan berteriak.
“Buah segar, buah segar, apel pisang, pepaya, nanas!” ujar Raisa.
Papa Andhika dan Mama Jingga memeluk Raisa dengan erat, air mata bahagia menetes dari pelupuk mata mereka.
“Kamu sekarang sudah berubah menjadi lebih baik, Nak. Mama Papa bangga sama kamu.”
Suatu sore mereka sekeluarga melihat berita di TV: “Nadin Alegra ditemukan tewas karena overdosis sabu di kamar hotel. Raisa mundur selangkah, dadanya sesak.
“Ya Allah, aku bersyukur selamat dari narkoba.”
Lambat laun, keluarga Raisa bangkit. Andhika jualan buah sambil bangun bisnis kecil-kecilan keripik buah online. Mama Jingga membuka klinik sederhana. Mereka kini lebih kaya bukan harta, tapi kebersamaan.
Sore itu, di meja makan, Papa Andhika berbicara dengan Raisa.
“Nak, kondisi perekonomian kita sekarang sudah stabil. Mau lanjut sekolah lagi?”
Raisa senyum lembut.
“Enggak, Pa. Raisa mau masuk pesantren, mau belajar mendalami ilmu agama mencari kedamaian sejati.”
“Baiklah, Nak. Kami dukung niatmu,” kata Mama Jingga bangga.
Pesantren dan Kelahiran Baru
Raisa masuk pesantren di pinggir Kota Bogor. Sepuluh tahun belajar, menghafal Al-Qur’an, dan memahami hadist, dakwah sederhana. Dari gadis manja menjadi wanita sholeha sopan santun yang anggun, penuh hikmah. Hijabnya rapi, senyumnya tenang seperti embun pagi.
Kini, usia Raisa 32 tahun. Dia menjadi ustadzah muda. Dia mendirikan panti anti-bullying dan rehabilitasi narkoba untuk remaja Jakarta.
Sekarang Velvet Venom hanyalah kenangan wanita beracun yang kini menjadi madu yang menginspirasi banyak orang. Dengan kisahnya, Raisa menatap langit senja, dan berbisik lirih.
“Alhamdulillah… Engkau telah mengubah hamba-Mu.”
Di pasar, keluarganya kini punya kios besar, bisnis keluarga Raisa kini berkembang pesat hingga tingkat nasional. Tapi mereka kini hidup dengan sederhana tidak bermegah-megahan tapi hidup bahagia dan penuh berkah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








