• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Busana Khas Malang

Busana Khas Malang. Foto: Dwi Cahyono, Yayasan 

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
3 months ago
in Catatan, Opini, Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil.

Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari bahasa, kuliner, atau arsitekturnya — tetapi juga dari busana yang dikenakannya. Malang, sebagai salah satu kota bersejarah di Jawa Timur yang telah melewati berbagai era peradaban mulai dari Kerajaan Kanjuruhan, Singhasari, Majapahit, Mataram Islam, hingga masa kolonial Belanda — menyimpan kekayaan warisan budaya yang luar biasa, termasuk dalam hal busana.

Namun demikian, identitas busana khas Malang kerap luput dari perhatian, tenggelam dalam perdebatan tanpa ujung dan minim aksi nyata.

You might also like

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

14/07/2026 2:15 PM
Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

08/07/2026 8:34 AM

Tulisan ini hadir sebagai upaya untuk menelusuri akar historis busana khas Malang secara jujur dan kritis, sekaligus menegaskan pentingnya keberagaman busana daerah sebagai bentuk kebanggaan dan jati diri kolektif masyarakat Malang.

Busana yang sering digunakan, Busana Malangan adalah busana Jawa Timuran yang digunakan hampir sama seluruh Jawa Timur. Busana Jawa Timuran digagas di era Gubernur Basofi Sudirman ( 1993 – 1998 ) yang popular dengan sebutan Seragam Basofian. Terdiri dari Udeng khas suroboyoan, dan pandalungan, jas hitam celana hitam khas tradisi kejawen (yang diadopsi dari jas Rokkie Belanda), menggunakan baju koko putih dimaksudkan Jawa Timur wilayah yang Agamis, sembong mewakili batik pesisiran, menggunakan selop dan asesoris jam gantung disaku dimaksudkan warga Jawa Timur sangat menghargai waktu.

Menurut pendapat saya berdasar pengalaman terlibat langsung sebagai team kajian pembuatan Busana Basofian tahun 1993, Malang itu mempunyai karateristik daerah yang unik maka diperlukan busana khas yang berbeda dengan daerah lain di Jawa Timur. Karateristik khusus daerah tersebut antara lain :

1. Malang sebagai daerah terugval basis (basis pengunduran, jika menaklukkan Jawa Timur maka harus dimulai dari penaklukan wilayah tersebut terlebih dahulu).

2. Kota Malang dipilih untuk mewakili Belanda saat lomba disain tata ruang kota di Perancis dalam acara Paris Exposition tahun 1931

3. Kantor Pemerintahan Residen Karesidenan Pasuruan (Staaatblad 1874 nomor 72) dipindahkan dari Pasuruan ke Malang tahun 1936

4. Pemerintah Gemeente Malang diresmikan tahun 1914 dibutuhkan waktu 5 tahun unt menunjuk seorang Wali Kota yang akhirnya dilantik tahun 1919

5. Walikota Malang pertama Bussemaker dianggap berhasil kemudian diangkat menjadi walikota surabaya

6. Malang pernah dinominasikan sebagai ibukota negara sebelum Jakarta terpilih karena letak geografisnya.

Setiap daerah seharusnya mempunyai busana khas masing-masing dan penciptaannya dirancang sesuai Sejarah, ekosistem dan memori visual yang ada.

Busana Khas Malang
Sejarah Busana Khas Malang. Foto: Dwi Cahyono, Yayasan

Penciptaan selalu didasari oleh inspirasi dari karya- karya sebelumnya, dan tidak pernah dimulai dari nol, sebagai contoh, bentuk Padma pada lapik arca Pradnyaparamita (Kendedes) terinspirasi dari lapik Singa Tibet simbol Buddha pada abad XI (Patterned Splendour, Lesley S Pullen 2021, p.179)

Sejarah Busana Khas Malang
Sejarah Busana Khas Malang. Foto: Dwi Cahyono, Yayasan

Baju lurik (sekarang dikenal baju khas Jogja) terinspirasi dari relief di candi Jago Tumpang Malang, atau paling tidak jejaknya telah ada di candi Jago (Patterned Spledour, Lesley S Pullen 2021, p.49).

Di Malang, sebagai bentuk kejujuran dalam membaca masa lalu budaya yang mempengaruhi salah satunya adalah budaya indis (Indische). Saya kebetulan sejak tahun 1991 telah mengkoleksi berbagai perlengkapan beserta asesoris busana yang pernah digunakan Bupati Malang IV Raden Ario Soerioadiningrat dan kerabat Beliau. Semua tersimpan rapi di Inggil Museum Resto beserta tanda terima dan surat-surat administrasi yang menyertainya.

Busana Khas Malang
Sejarah Busana Khas Malang. Foto: Dwi Cahyono, Yayasan

Kelengkapan busana resmi berupa topi pet, topi non formal (sebagian terbuka) selempang, sabuk, pin, tongkat dan beberapa senjata.

Semua kelengkapan tersebut dibagikan oleh Belanda pada awal tahun 1800-an dengan harapan semua pejabat Jawa saat itu tunduk terhadap semua keinginan Belanda dan sebagai bentuk dari penaklukan lewat diplomasi budaya khususnya Busana. Setiap wilayah yang penting diwajibkan unt menggunakan busana gaya Belanda, Malang salah satu yang dianggap penting saat itu.

Jadi anggapan busana dengan topi pet Malang menyontoh Surakarta atau Jogyakarta adalah kurang benar karena saat itu bersamaan menggunakannya. Jika di Malang tidak pernah terlihat busana dengan menggunakan atribut topi dll, adalah wajar karena sejak saat itu 1898 tidak pernah digunakan lagi sedangkan di Surakarta sampai sekarang wajib digunakan sebagai kelengkapan busana Kerajaan Surakarta.

Busana Khas Malang
Sejarah Busana Khas Malang. Foto: Dwi Cahyono, Yayasan

Demikian juga dengan pandangan busana khas Malang terlalu berbau Kolonial, sebenarnya busana khas Malang yang sebelumnya (beskap Malangan) juga menggunakan Jas hitam warisan Belanda dilengkapi dengan udeng dan sembong itu juga kolonial. Jas dan celana hitam Kolonial pada saat tahun 1808 dipaksakan untuk digunakan semua Pejabat Pribumi, tetapi kemudian dimodifikasi sesuai dengan adat dan kebutuhan masing-masing daerah.

Contoh Mangkunegara mendisain ulang Jas Belanda (Rokkie Walandi) dengan memotong bagian belakang yang Panjang dengan memberikan ’sobekan’ bagian belakang untuk menempatkan keris (sekarang dikenal dengan Beskap Langen Harjan).

Menariknya, nama “beskap” itu sendiri menyimpan jejak sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari konteks kolonial tersebut. Kata beskap diyakini berasal dari kata Belanda beschaafd, yang berarti “rapi”, “berbudaya”, atau “sopan”.

Istilah ini mulai dikaitkan dengan busana Jawa ketika para bangsawan mengadopsi elemen pakaian Barat sebagai penanda status sosial.

Orang Jawa yang mengenakan jas modifikasi — atau yang dalam tradisi Jawa disebut kadamel cara Jawi — dianggap sebagai sosok yang beschaafd: beradab, berbudaya, dan mampu memadukan etiket keraton dengan estetika formal Eropa.

Puncak dari proses adaptasi ini terjadi ketika KGPAA Mangkunegara IV menciptakan varian beskap yang kini kita kenal, khususnya model Langenharjan, yang lahir dari kebutuhan praktis menjelang kunjungan beliau ke Pesanggrahan Langenharjo.

Dari situlah kata beschaafd terserap ke dalam lidah Jawa dan mengendap menjadi kata “beskap” yang kita gunakan hingga hari ini. Dengan demikian, setiap kali seseorang mengenakan beskap, ia sesungguhnya sedang meneruskan warisan filosofi kepantasan yang panjang: bahwa busana bukan sekadar kain, melainkan pernyataan diri tentang tata krama dan kehormatan pemakainya.

Di Jogja tidak diberikan tempat, di bagian belakang untuk keris. Di Malang, Raden Adipati Notodiningrat III Tahun 1884 menggunakan jas tersebut dengan tetap menggunakan kain jarit untuk bawahannya. Pada perkembangannya, tahun 1898 Bupati ArioSoerioadiningrat memodifikasi penggunakan jarit sebatas paha (sekarang dikenal dengan sembong) dengan menggunakan celana panjang hitam untuk memudahkan jika harus menunggang kuda ke daerah pedalaman.

Jadi pada dasarnya semua menggunakan model Kolonial hanya saja terjadi perubahan menyesuaikan adat masing-masing daerah. Malang merupakan daerah yang diutamakan untuk pembagian tersebut (Kultur Proven p.92 1893) karena Malang daerah yang memberikan keuntungan berlimpah dalam bidang tebu, padi dan kopi melebihi daerah yang lain, sehingga wajar jika Malang selalu diutamakan.

Selain itu identitas Jatidiri pemerintah Malang dapat dilihat dalam Silsilah keluarga (Stomboom Muloschool Magelang 1935).

Jadi silsilah urutan pejabat Walikota sekarang sampai tahun 1400an adalah sebagai berikut:

  • M. Sarjono hingga walikota sekarang 1945 – 2026
  • J RAA Ario Sam 1942 – 1945
  • HI Busemaker, Ir. Voorneman, Ir. Lakeman, JH Boestra 1919 -1942
  • R. Ario Soerioadiningrat 1898
  • Adipati Notodiningrat III , Adipati Notodiningrat II 1839 – 1898
  • R Panji Wilasmorokusumo 1820 – 1839
  • RA Soerjodiningrat II
  • Nitiadiningrat II, Nitiadiningrat I (R. Grudo) 1751 – 1799
  • Pakubowono III – Pakubowono II 1727 – 1755
  • Amangkurat 1645 – 1677
  • Dyah Lembu Peteng 1478 –
  • Pandansilas Raja Majapahit Bre Wijaya V 1468 -1478

Busana khas tidak harus hanya satu jenis, adanya busana khas yang berbeda, tidak serta merta menghapus busana khas yang sudah ada sebelumnya, justru ini akan memperkaya khazanah busana daerah.

Dengan melihat Malang selalu menjadi point penting setiap perjalanan sejarah , sejak Kanjuruhan, Kediri, Singhasari, Majapahit, Mataram Islam sampai kolonial seharusnya Malang mempunyai keragaman Budaya khususnya busana yang sangat beragam.

Jika daerah lain seperti Jogya , Solo mempunyai lebih dari 10 jenis busana khas, maka Malang yang mempunyai khas budaya Arek sangat egaliter seharusnya mempunyai keragaman yang lebih banyak.

Sekarang pertanyaannya, mampukah Pemerintah dan Masyarakat mengenal, menjaga sekaligus mewarnainya dalam aktifitas keseharian?

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: Baju Khas Malangberita malangKota MalangMalangSejarah Malang
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

by Mochamad Abdurrochim
14/07/2026 2:15 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, semakin dekat. Momentum krusial ini...

Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

by Dwi Linda
08/07/2026 8:34 AM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - Setelah melalui proses seleksi panjang yang melibatkan sembilan pondok pesantren di lima provinsi, Pengurus Besar...

Muktamar

Muktamar dan Belajar dari Verifikasi Ahli Hadis

by Mochamad Abdurrochim
05/07/2026 10:21 AM
0

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang Ada satu kalimat yang sejak lama...

Najib Mahfud.

Haul KH Najib Mahfud di Gresik Berlangsung Khidmat, Mbah Bolong: Rawat Selalu Anak Yatim

by Dwi Linda
01/07/2026 11:03 AM
0

GRESIK, Tugujatim.id - Haul ke-5 KH Najib Mahfud di Gresik berlangsung lancar dan khidmat Selasa malam (30/06/2026) di Pondok Pesantren...

Next Post
DPRD Kota Surabaya

DPRD Kota Surabaya Mulai Bahas Sanksi Pembuang Sampah

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID