Panahan Ala Prajurit Mataram
PASURUAN, Tugujatim.id – Busur-busur panah selih berganti melesat di atas aliran sungai Dam Pleret, Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Minggu (10/9/2023).
Bak latihan prajurit era kerajaan, ratusan orang bergantian melesatkan jemparing atau sebutan untuk anak panah dalam tradisi lokal. Mereka mengikuti lomba “Gladen Jemparingan On The Lepen” yang digelar dalam rangka ulang tahun Pokdarwis Dam Pleret 1904 yang ke-5.
Suasana zaman dulu makin terasa karena para penjemparing menggunakan pakaian tradisional. Peserta perempuan menggunakan pakaian kebaya dan jarit, sementara peserta laki-laki memakai batik dengan blangkon ataupun udheng sebagai penutup kepala.

“Memang bedanya jemparingan dengan panahan modern ini salah satunya peserta harus pakai pakaian tradisional,” jelas Ketua Persatuan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) Nusantara Jaya Kabupaten Pasuruan, Khoiron Hadi, pada Minggu (10/9/2023).
Teknik memanahnya pun berbeda dengan panahan pada umumnya. Bila biasanya pemanah harus berdiri, justru jemparingan ini dilakukan dengan cara duduk bersila atau bersimpuh untuk perempuan.
Posisi duduk ini mengandung filosofi yang mendalam. Di mana posisi duduk mengandung makna bahwa manusia harus “membumi” atau selalu rendah hati.

Agar lebih menantang, Pokdarwis Dam Pleret 1904 berkreasi agar lomba jemparingan ini dilakukan di atas aliran sungai. “Posisi memanah duduk lebih sulit daripada berdiri, butuh konsentrasi tinggi. Belum lagi di atas sungai, suara gemirik air ini kadang bisa menganggu konsentrasi,” ungkapnya.
Jemparing atau anak panah hingga gendewo atau busur panah, hampir seluruhnya juga terbuat dari kayu.
Target yang dipanahnya juga berbeda, yakni membidik target berupa bandul kecil dengan diameter 3 cm dan panjang 30 cm.
Sejarah jemparingan atau panahan tradisional ini berkembang dari Kerajaan Mataram Yogyakarta, tepatnya di era Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar 1755-1792 Masehi. Mulanya, jemparingan ini hanya boleh dilakukan khusus oleh kalangan elit kerajaan, khususnya prajurit perang. Namun, seiring perkembangan zaman, olahraga panahan ini diperbolehkan dimainkan oleh kalangan umum dengan sedikit modifikasi.

“Kalau prajurit elit kerajaan posisi busur panahnya horizontal sejajar perut. Karena dulu sistemnya kasta, agar beda dengan kerajaan, masyarakat umum posisi busur panahnya dibuat vertikal,” ungkapnya.
Karena berkembang dari tradisi kerajaan, maka filosofi dan tujuan dari jemparingan pun berbeda dengan panahan modern saat ini. Jemparingan memiliki tujuan untuk lebih melatih empat watak ksatria, bukan sekedar konsetrasi untuk membidik target sasaran dengan tepat.
Empat watak tersebut di antaranya sawiji atau konsentrasi, kemudian greget yang berarti semangat, lalu sengguh berarti percaya diri, serta ora mingkuh yang artinya punya rasa tanggung jawab.

“Filosofi jemparingan itu pamenthanging gandewa pamanthening cipta, yang artinya bentangan busur panah harus seiring dengan rasa dan konsentrasi untuk mencapai tujuan atau cita-citanya,” jelasnya.
Selaku Ketua Perpatri Nusantara Jaya Kabupaten Pasuruan, Khoiron ingin agar jemparingan sebagai olahraga tradisional peninggalan para leluhur ini bisa terus dilestarikan.
Dia berharap pemerintah bisa mendukung event-event lomba olahraga tradisional ini agar lebih banyak dikenal orang.
“Kalau di Pasuruan sendiri sudah cukup banyak peminatnya, hanya saja dibanding prestasi, kebanyakan lebih untuk hiburan,” imbuhnya.
Lomba jemparingan di Dam Pleret ini diikuti oleh 150 peserta dari 13 kota dan kabupaten dari wilayah Jawa Timur, Yogyakarta, hingga Bali.
Salah satu peserta lomba dari Bali, Anak Agung Anom Giri mengaku sudah dua kali mengikuti lomba jemparingan di Dam Pleret, Kabupaten Pasuruan ini. Menurutnya, lomba jemparingan di atas sungai ini hanya ada di Dam Pleret, Kabupaten Pasuruan.
“Ya jelas di atas air tingkat kesulitannya lebih tinggi, karena konsentrasinya terganggu, kadang takut busurnya masuk air,” ujar Agung yang datang ke Pasuruan bersama istri, anak, dan juga murid didiknya.
Ia menyebut bawah panahan tradisional ini sangat bermanfaat untuk melatih konsentrasi. “Di Bali, jemparingan ini justru dipakai untuk melatih konsentrasi anak dengan kondisi cerebral palsy,” pungkasnya.
Reporter: Laoh Mahfud
Editor: Lizya Kristanti








