• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
jemparingan tugu jatim

Lomba jemparingan di atas sungai di Dam Pleret, Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, pada Minggu (10/9/2023). Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim

Serunya Jemparingan di Atas Sungai Dam Pleret Pasuruan

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
3 years ago
in Olahraga
0
Share on FacebookShare on Twitter

Panahan Ala Prajurit Mataram

PASURUAN, Tugujatim.id – Busur-busur panah selih berganti melesat di atas aliran sungai Dam Pleret, Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Minggu (10/9/2023).

You might also like

Piala Dunia 2026

Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026: Pembagian Grup, Format Baru, dan Siaran Langsung di Indonesia

11/06/2026 8:30 AM
MPI Sidoarjo.

Target Tiga Emas, MPI Sidoarjo Turunkan 11 Atlet di Kejurprov Piala Wali Kota Madiun

09/06/2026 9:17 PM

Bak latihan prajurit era kerajaan, ratusan orang bergantian melesatkan jemparing atau sebutan untuk anak panah dalam tradisi lokal. Mereka mengikuti lomba “Gladen Jemparingan On The Lepen” yang digelar dalam rangka ulang tahun Pokdarwis Dam Pleret 1904 yang ke-5.

Suasana zaman dulu makin terasa karena para penjemparing menggunakan pakaian tradisional. Peserta perempuan menggunakan pakaian kebaya dan jarit, sementara peserta laki-laki memakai batik dengan blangkon ataupun udheng sebagai penutup kepala.

WhatsApp Image 2023 09 11 at 08.50.56
Lomba jemparingan di atas sungai di Dam Pleret, Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, pada Minggu (10/9/2023). Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim

“Memang bedanya jemparingan dengan panahan modern ini salah satunya peserta harus pakai pakaian tradisional,” jelas Ketua Persatuan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) Nusantara Jaya Kabupaten Pasuruan, Khoiron Hadi, pada Minggu (10/9/2023).

Teknik memanahnya pun berbeda dengan panahan pada umumnya. Bila biasanya pemanah harus berdiri, justru jemparingan ini dilakukan dengan cara duduk bersila atau bersimpuh untuk perempuan.

Posisi duduk ini mengandung filosofi yang mendalam. Di mana posisi duduk mengandung makna bahwa manusia harus “membumi” atau selalu rendah hati.

WhatsApp Image 2023 09 11 at 08.45.18
Lomba jemparingan di atas sungai di Dam Pleret, Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, pada Minggu (10/9/2023). Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim

Agar lebih menantang, Pokdarwis Dam Pleret 1904 berkreasi agar lomba jemparingan ini dilakukan di atas aliran sungai. “Posisi memanah duduk lebih sulit daripada berdiri, butuh konsentrasi tinggi. Belum lagi di atas sungai, suara gemirik air ini kadang bisa menganggu konsentrasi,” ungkapnya.

Jemparing atau anak panah hingga gendewo atau busur panah, hampir seluruhnya juga terbuat dari kayu.
Target yang dipanahnya juga berbeda, yakni membidik target berupa bandul kecil dengan diameter 3 cm dan panjang 30 cm.

Sejarah jemparingan atau panahan tradisional ini berkembang dari Kerajaan Mataram Yogyakarta, tepatnya di era Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar 1755-1792 Masehi. Mulanya, jemparingan ini hanya boleh dilakukan khusus oleh kalangan elit kerajaan, khususnya prajurit perang. Namun, seiring perkembangan zaman, olahraga panahan ini diperbolehkan dimainkan oleh kalangan umum dengan sedikit modifikasi.

WhatsApp Image 2023 09 11 at 08.47.52
Lomba jemparingan di atas sungai di Dam Pleret, Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, pada Minggu (10/9/2023). Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim

“Kalau prajurit elit kerajaan posisi busur panahnya horizontal sejajar perut. Karena dulu sistemnya kasta, agar beda dengan kerajaan, masyarakat umum posisi busur panahnya dibuat vertikal,” ungkapnya.

Karena berkembang dari tradisi kerajaan, maka filosofi dan tujuan dari jemparingan pun berbeda dengan panahan modern saat ini. Jemparingan memiliki tujuan untuk lebih melatih empat watak ksatria, bukan sekedar konsetrasi untuk membidik target sasaran dengan tepat.

Empat watak tersebut di antaranya sawiji atau konsentrasi, kemudian greget yang berarti semangat, lalu sengguh berarti percaya diri, serta ora mingkuh yang artinya punya rasa tanggung jawab.

WhatsApp Image 2023 09 11 at 08.51.25
Lomba jemparingan di atas sungai di Dam Pleret, Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan, pada Minggu (10/9/2023). Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim

“Filosofi jemparingan itu pamenthanging gandewa pamanthening cipta, yang artinya bentangan busur panah harus seiring dengan rasa dan konsentrasi untuk mencapai tujuan atau cita-citanya,” jelasnya.

Selaku Ketua Perpatri Nusantara Jaya Kabupaten Pasuruan, Khoiron ingin agar jemparingan sebagai olahraga tradisional peninggalan para leluhur ini bisa terus dilestarikan.

Dia berharap pemerintah bisa mendukung event-event lomba olahraga tradisional ini agar lebih banyak dikenal orang.

“Kalau di Pasuruan sendiri sudah cukup banyak peminatnya, hanya saja dibanding prestasi, kebanyakan lebih untuk hiburan,” imbuhnya.

Lomba jemparingan di Dam Pleret ini diikuti oleh 150 peserta dari 13 kota dan kabupaten dari wilayah Jawa Timur, Yogyakarta, hingga Bali.

Salah satu peserta lomba dari Bali, Anak Agung Anom Giri mengaku sudah dua kali mengikuti lomba jemparingan di Dam Pleret, Kabupaten Pasuruan ini. Menurutnya, lomba jemparingan di atas sungai ini hanya ada di Dam Pleret, Kabupaten Pasuruan.

“Ya jelas di atas air tingkat kesulitannya lebih tinggi, karena konsentrasinya terganggu, kadang takut busurnya masuk air,” ujar Agung yang datang ke Pasuruan bersama istri, anak, dan juga murid didiknya.

Ia menyebut bawah panahan tradisional ini sangat bermanfaat untuk melatih konsentrasi. “Di Bali, jemparingan ini justru dipakai untuk melatih konsentrasi anak dengan kondisi cerebral palsy,” pungkasnya.

Reporter: Laoh Mahfud
Editor: Lizya Kristanti

Tags: berita Pasuruanberita Pasuruan hari inijemparinganlomba jemparinganPasuruan
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Piala Dunia 2026

Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026: Pembagian Grup, Format Baru, dan Siaran Langsung di Indonesia

by Mochamad Abdurrochim
11/06/2026 8:30 AM
0

Tugujatim.id - Piala Dunia 2026 menjadi turnamen sepak bola terbesar dalam sejarah FIFA. Untuk pertama kalinya, ajang empat tahunan ini...

MPI Sidoarjo.

Target Tiga Emas, MPI Sidoarjo Turunkan 11 Atlet di Kejurprov Piala Wali Kota Madiun

by Dwi Linda
09/06/2026 9:17 PM
0

SIDOARJO, Tugujatim.id – Cabang olahraga (cabor) Modern Pentathlon Indonesia (MPI) Kabupaten Sidoarjo menurunkan 11 atlet untuk berlaga pada Kejuaraan Provinsi...

Arema FC.

Logo Singo Jadi Rebutan, Manajemen Arema FC Terus Perjuangkan Identitas Resmi Klub

by Dwi Linda
06/06/2026 3:00 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Manajemen Arema FC kini mengajukan keberatan atas pendaftaran logo singo yang dalam beberapa waktu terakhir mendapat sorotan...

Arema vs PSIM.

Besok! 1.000 Personel Disiapkan Polres Malang Amankan Laga Arema vs PSIM di Stadion Kanjuruhan

by Dwi Linda
21/05/2026 12:12 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Polres Malang siagakan sebanyak sekira 1.000 personel untuk amankan laga Arema FC vs PSIM Yogyakarta. Pertandingan Arema...

Next Post
tornado api tugu jatim

Muncul Tornado Api di Savana Bromo, Relawan: Api dan Angin Ibarat Pengantin

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID