TUBAN, Tugujatim.id – Setiap kali panen padi, ada pemandangan yang kerap terjadi di persawahan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Tampak sejumlah perempuan paruh baya mengambil gabah sisa panen yang tidak dibawa oleh pemilik sawah. Aktivitas itu sering disebut ngasak.
Ngasak merupakan kegiatan para buruh tani yang tidak memiliki lahan. Ngasak membuat mereka tetap bisa merasakan hasil panen padi dan tidak merugikan pemilik sawah. Seperti yang terlihat saat panen raya di Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, pada Rabu (02/11/2023)
Tampak sejumlah wanita dengan semangat mengais sisa tangkai batang padi yang masih ada butir gabah tertinggal. Ada juga sisa panen padi yang karena terjatuh dan tercecer saat dipanggul atau disunggi ke tepi sawah untuk dipisahkan antara batang padi dengan gabah. Sisa panen itulah yang diambil oleh para pengasak. Mereka melakukan itu untuk menekan biaya pengeluaran sehari-hari.

“Ya memang untuk saya makan bersama keluarga di rumah,” ucap salah satu pengasak, Sriweni, warga Kecamatan Grabagan.
Sriweni menuturkan bahwa selama musim panen padi, sehari dia bisa mengumpulkan gabah hingga 10 kilogram. Namun, tidak jarang pula, dia pulang ke rumah tidak membawa hasil alias zonk. Dia juga sangat terbantu dengan mengasak. Setidaknya bisa mengurangi biaya pengeluaran untuk membeli beras yang saat ini dinilainya sangat mahal.
“Paling banyak ya 10 kilogram, kadang juga 5 kilogram. Bahkan sama sekali tidak membawa hasil juga pernah,” ucapnya di sela-sela memungut tangkai padi yang masih berisi.

Ternyata dia datang tidak hanya sendirian, namun rombongan. Beberapa lokasi yang dia datangi di kawasan Kecamatan Rengel dan Widang. Kadang pula hingga Plumpang. “Berangkat bersama, tergantung mana yang panen. Kita datangi,” katanya.
Pemilik sawah, Samadi menuturkan, pihaknya tidak keberatan jika memang ada yang ngasak hasil panen padinya. Mereka juga mengambil sisa butir-butir padi yang tidak sengaja tertinggal saat panen. Selain itu, baginya aktivitas ini tidak merugikannya. Dia malah senang bisa membantu perekonomian para perempuan buruh tani itu.
“Tidak masalah. Ini juga bagian dari mereka berusaha untuk mencari makan. Selain udah lumrah dan biasa kegiatan seperti ini,” katanya.
Reporter: Rochim
Editor: Lizya Kristanti








