SURABAYA, Tugujatim.id – Ekosistem kesenian yang lahir dari tangan anak-anak muda semakin menunjukkan geliatnya. Melalui Biennale Jatim X, budaya dari tiga teritori digubah menjadi sebuah karya seni yang bernarasi.
Biennale Jatim merupakan ruang kolektif yang menghadirkan pameran seni rupa setiap dua tahun sekali dari sejumlah seniman nasional dan internasional. Tahun ini, Biennale Jatim X digelar di dua kota, Sidoarjo dan Surabaya.
“Dari Biennale Jatim satu sampai tujuh, kami selalu mengadakan terpusat di satu tempat. Sehingga kami ingin memulai ada di beberapa tempat karena beberapa hal kendala mungkin berkaitan dengan kemampuan kami secara teknis, tapi kami masih ada di sekitar Surabaya dan Sidoarjo,” kata Direktur Biennale Jatim, Syska, pada Sabtu (16/12/2023).
Hadir mulai 9 Desember 2023 hingga 7 Januari 2024, Biennale Jatim X digelar di tiga tempat yakni Rumah Budaya Maulana Malik Ibrahim Sidoarjo, Gallery Orasis Space Surabaya, dan Institute Seni Tambak Bayan Surabaya.
Masing-masing venue memiliki pameran utama yang berbeda tema. Seperti Rumah Budaya Maulana Malik Ibrahim Sidoarjo dengan Sambung Slamet, Gallery Orasis Space Surabaya mengangkat Invisibel Territories, dan Institute Seni Tambak Bayan Surabaya mengusung Masuk Pagar Belok Kiri.
Namun, secara keseluruhan, tema yang diangkat yakni “Cultural Synthesis”. Uniknya, tema tersebut merangkum isu kebudayaan dari tiga teritori: pegunungan, pesisir, dan perkotaan.
“Kami menelusuri kembali corak kesenian yang ada di Jawa Timur yang hingga saat ini masih kuat dipengaruhi oleh suasana geografis yang spesifik,” ujarnya.
“Misalnya kesenian di daerah pegunungan memiliki ekosistem yang berbeda dibandingkan dengan kesenian yang muncul di wilayah pesisir dan perkotaan. Sehingga keragaman geografis dan tata ruang di Jawa Timur turut memicu keragaman produksi kesenian di dalamnya,” sambungnya.
Tiga wilayah ini digarap oleh enam kurator. Kurator wilayah pegunungan yaitu Lisistrata Lusandiana dan Danny Hartanto, untuk kurator wilayah pesisir yaitu Lucky Childa Pratama dan Kharisma Nanda Zenmira, sedangkan kurator BJX area perkotaan adalah Bintang Putra dan Eugenia.
“Kamu berusaha menyelami titik temu antara tradisi dan inovasi. Dan, mendorong perayaan penyatuan berbagai budaya yang mendefinisikan Jawa Timur,” jelas Syska.
Selain pameran seni, Biennale Jatim juga menghadirkan sejumlah program lain yakni workshop, diskusi interaktif, pertunjukan seni, dan masih banyak lagi.
“Biennale Jatim X ini, kami ingin mendorong upaya kolektif untuk menafsirkan keberagaman seni dan budaya dengan mengajak penonton untuk terlibat dengan narasi yang dijalin oleh para seniman ini,” tandasnya.
Reporter: Izzatun Najibah
Editor: Lizya Kristanti








