Oleh: Adinda Nurul Kamila, Mahasiswi Fakultas Tarbiyah Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Bone
Mentari mulai bersembunyi di bawah garis cakrawala
Menciptakan rona jingga yang memukau mata penikmatnya
Anila berembus lembut seakan menambah ketenangan
Manusia-manusia sibuk dengan pikiran yang menghantam kepala
Ketika ada banyak manusia yang sibuk menikmati keindahan alam
Aku justru larut dalam memori yang membias di ingatan
Menuliskan aksara yang tak akan pernah sampai pada si empunya
Mengucap rindu yang mengikat pada dia yang tak terikat
Ini adalah senja yang kesekian kalinya tuan
Dan sepertinya penantianku menunggumu pulang akan kuakhiri
Sebab aku tak tahu lagi ke mana semesta membawamu pergi
di belahan bumi mana dirimu kini berpijak
Dan teruntukmu, pemilik senyum paling indah
Pemilik mata kecil yang selalu meneduhkan perasaan gelisah
Terima kasih karena telah menjadi pemeran utama di setiap tulisanku
menjadi tempatku bersandar dari segala yang membuatku goyah
Sampai pada akhirnya aku tersadar
bahwa cerita yang hanya ada aku dan kamu
tak akan pernah bisa menjadi cerita tentang kita
karena di cerita ini hanya aku yang jatuh, sedang kamu tidak!







