BLITAR, Tugujatim.id – Memeluk erat sebuah takir, nasi bungkus daun pisang, mata Hartini (47) menatap hamparan ombak selatan Pantai Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar hari ini, Kamis (18/6/2026) siang. Wisatawan asal Tulungagung ini rela menunggu berjam-jam demi berburu berkah Suroan.
“Saya datang sejak pagi buta untuk ngalap berkah. Rasanya damai bisa ikut mendoakan laut yang memberi kehidupan. Takir ini mau saya bawa pulang untuk makan bersama keluarga. Berkahnya terasa nyata,” ujar Hartini, girang.
Sejak pagi, nuansa Jawa begitu pekat. Aroma dupa dan alunan gending yang magis mengalun ritmis, mengiringi langkah ribuan pengunjung domestik hingga wisatawan mancanegara yang terpaku khidmat menyaksikan ritual Larung Sesaji memperingati 1 Suro (1 Muharam 1448 Hijriah).
Makna Simbolis Tanpa Kepala Kerbau: Warisan Sejak Tahun 1830
Tak jauh dari bibir pantai, dua tumpeng raksasa berisi hasil bumi diarak menuju pesisir. Kepala Desa Serang, Dwi Handoko mengatakan, tradisi ini merupakan simbol rasa syukur yang telah mengakar kuat sejak tahun 1830, jauh sebelum pemerintahan desa pertama berdiri pada 1890.
“Ini adalah wujud syukur dari masyarakat, sebuah simbolisasi atas limpahan rezeki, keselamatan nelayan, dan hasil alam yang melimpah selama setahun terakhir,” ungkap Dwi Handoko usai prosesi sakral tersebut.

Berbeda dengan beberapa daerah lain yang melarung kepala hewan, larung sesaji di sini hanya menggunakan tiga jenis sesaji suci hasil alam warisan leluhur.
Baca Juga : Tradisi 1 Suro Gunung Kawi Bangkit Lagi, 1.000 Warga Kirab Budaya hingga Pembakaran Buto Sengkolo
“Kami tidak menggunakan kepala kerbau. Masyarakat Desa Serang hanya melarung tiga jenis sesaji tersebut sesuai dengan tradisi asli yang diwariskan oleh para leluhur,” katanya.
Ya, ketiga sesaji tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam secara berurutan. Kembang Setaman dilarung sebagai simbol keharuman niat dan doa suci masyarakat.
Sementara itu, Gedang Rojo atau Gedang Ayu disertakan sebagai simbol keluhuran budi sekaligus kepemimpinan yang mengayomi. Terakhir, Tumpeng Emas dilarung sebagai simbol puncak rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Dramatis, Dua Perahu Saling Memecah Ombak
Usai didoakan oleh sesepuh desa, suasana khidmat berubah mencekam. Dua tumpeng raksasa dinaikkan ke atas dua perahu nelayan yang berbeda. Begitu mesin menderu, kedua perahu tersebut langsung melaju simultan menerjang ganasnya ombak Laut Selatan.
Aksi ini menjadi tontonan yang mendebarkan. Di tengah gulungan ombak besar, dua perahu tersebut saling bahu-membahu memecah barisan ombak, memotong arus secara bergantian agar tumpeng utama tidak goyang atau jatuh ke laut sebelum waktunya.

Air laut menghantam haluan, menciptakan buih putih di udara saat kedua kapal terangkat tinggi dan menghantam ombak, hingga akhirnya perlahan mengecil di cakrawala untuk melarungkan sesaji ke tengah samudra luas.
Bertahan di Tengah Badai Efisiensi
Di balik jalannya acara yang menyedot sekitar seribu pengunjung ini, pariwisata daerah sebenarnya sedang menghadapi tantangan yang tidak mudah. Dwi mengakui mulai tahun ini ada efisiensi anggaran yang berlaku skala nasional. Selain itu, kata dia, ada penurunan tren kunjungan pariwisata tahun ini.
“Hampir rata-rata teman-teman pelaku pariwisata lainnya juga podo sambat (sama-sama mengeluh). Mengalami penurunan kunjungan,” tuturnya.
Di balik kondisi lesu ini daerah harus putar otak menyesuaikan gelaran acara sepanjang tahun. Pihanya tak memungkiri jika ke depan, agenda wisata lain akan dilaksanakan secara jauh lebih sederhana.
“Kalau Larung Sesaji, setiap tahun ada karena ini adat dan tradisi,” tandasnya.
Bagi warga setempat, Larung Sesaji 1 Suro tidak bisa dipangkas. Ritual ini bukan sekadar komoditas hiburan, melainkan ruh, adat, dan warisan suci yang wajib tegak berdiri dalam kondisi ekonomi apa pun. Budaya sakral inilah yang kini menjadi salah satu tumpuan untuk memulihkan kembali pariwisata di pesisir Blitar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : M. Luki Azhari
Editor: Mochamad Abdurrochim








