SURABAYA, Tugujatim.id – Tekad untuk bisa berangkat haji begitu besar dari dalam diri Pajiyah, lansia asal Bojonegoro yang kini berusia 63 tahun. Pajiyah, penjual salak sekaligus warga Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, tergabung dalam Kloter 01 bersama 371 jamaah haji lainnya.
Penantian penjual salak sejak 12 tahun lamanya kini akan dibayar tuntas untuk menunaikan rukun Islam kelima. Sayangnya, keinginan untuk berhaji bersama suami harus pupus karena lebih dulu meninggal dunia.
Sehingga dia berangkat ke Tanah Suci seorang diri tanpa ditemani suami atau keluarga lainnya.
“Sudah nabung dari 12 tahun (2012, red), nyicil bulan Januari di Bank Jatim. Berangkat sendiri, suami saya sudah meninggal. Tadi berangkat dari rumah jam 10 malam diantar sama tiga anak saya,” ujarnya.
Menjadi jamaah haji 2024, pundi-pundi rupiah sudah dia kumpulkan sejak lama dengan menjual sawah seharga Rp60 juta.
“Dulu sekali saya beli sawah Rp600 ribu. Lalu saya jual dapat Rp60 juta buat (tambahan) bayar haji,” terang Pajiyah.
Tetapi, untuk mencukupi kebutuhnnya sehari-hari, Pajiyah menjajakan salak di salah satu pasar tradisional yang tidak jauh dari rumahnya.
“Sehari-hari jual salak di pasar, alhamdulillah sekarang bisa ikut haji,” papar Pajiyah.
Meski usianya yang memasuki kategori lansia, kondisi kesehatan Pajiyah nampak sehat. Selama pengecekan, petugas juga mengecek masalah kesehatannya.
“Insyaa Allah saya siap haji,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Izzatun Najibah
Editor: Dwi Lindawati








