MOJOKERTO, Tugujatim.id – Tak kurang sembilan belas program KKN Tematik Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto bersaing mendapatkan rekomendasi dan dukungan dari tim monitoring dan evaluasi internal (Monev). Karya tersebut bila memungkinkan agar diusulkan mendapatkan atas Hak Kekayaan Inteletual (HKI) dan juga Hak Paten sekaligus.
Tema-tema seperti Green and Circular Economics, E-Comerce, E-Government, dan E-Library, maupun produk teknologi tepat guna seperti alat pengering krupuk mentah, peniris minyak aneka gorengan, cemilan lele stick, lilin aroma berbahan minyak goreng (migor) bekas, jahe racik organik, hingga rancang bangun rumah pengolah sampah desa, hingga bursa saham sampah, tak hanya dipamerkan tetapi juga dipresentasikan dan diperdebatkan di hadapan tim penilai.
“Skripsi sarjana saya, memang mengkaji KKN. Bahkan, setelah itu saya dipercaya membantu Puslabang KKN, Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat, IKIP Malang. Kan ketika itu saya juga asisten Prof Soedomo, MA. Itu sekitar tahun 1988 hingga 1994. Tahun 2015, bersama Dr Rachman Sidharta Arisandi, M.Si, saya ikut mengembangkan model KKN di universitas ini pula”, kenang Sakban Rosidi lewat keterangan tertulis, Minggu (18/08/2024).
Sementara saat melihat pameran produk KKN Tematik Unim Mojokerto, Dr Sakban mengaku terkejut.
“Jujur, sebagai peneliti Program KKN dan Community Development, saya dibuat terkaget-kaget. KKN Angkatan Milenial memang beda. Prospektif dan Promising”, kata Dr Sakban Rosidi yang mendampingi Rektor Dr Rachman Sidharta Arisandi, M.Si di lokasi pameran produk dan kinerja KKN Unim, Lantai I Graha Nuswantara Unim Mojokerto.
“Agak lama saya tidak mengikuti perkembang model KKN, termasuk di Unim. Terakhir, saya hanya ingat memperkenalkan tiga model program KKN. Pertama, program informasional, kedua program institusional, dan ketiga model developmental. Jadi jelas sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan model KKN angkatan milenial ini. Jauh deh pokoknya!” urai Sakban Rosidi.
Memang, sebagaimana diberitakan terdahulu, KKN Tematik Unim telah mengadopsi Business Model Canvas (BMC). Model bisnis ini, mendasarkan pada hasil telaah dan kegiatan terkait sembilan komponen, yaitu segmen pelanggan, proposisi nilai, saluran yang digunakan, hubungan ke konsumen, sumber dan aliran pendapatan, kegiatan kunci, sumber-sumber kunci, kemitraan dan kerjasama, dan terakhir struktur biasa.
Maka begitulah yang tampak, baik dalam pameran maupan dalam presentasi hasil KKN. Dengan berbagai media, baik gambar maupun model nyata, kelompok-kelompok kerja KKN, penuh percaya diri memperkenalkan produknya. Ini dimulai dari argumentasi terkait kebnutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, hingga semacam analisis biaya-keuntungan/manfaat.
Tim evaluator, yang terdiri dari empat orang yang juga berasal dari berbagai disiplin ilmu dan teknologi, ternyata tak hanya menguji kelayakan teknis dan praktisnya, tetapi juga kelayakannya sebagai produk inovatif dan komoditas ekonomi.
“Alhamdulillah Bapak, uji coba pemasaran dengan e-commerce, sudah memberikan omzet lebih dari 50 pieces. Hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi ibu-ibu yang terlibat dalam kolaborasi pembuatan produk ini. Merek dagang ini, nantinya juga merupakan merek dagang bersama”, kata salah satu perwakilan kelompok KKN Tematik Desa Sidomulyo.
“Melampaui urusan ke-ekonomian yang memang masih perlu diuji lebih lanjut, saya melihat ada perubahan sangat berarti dalam diri peserta KKN. Ini mengingatkan kita pada ciri-ciri pribadi yang bisa bertahan dan sukses di era industri sekarang. Sejak memilih tema, menganalisis masalah dan kebutuhan, mereka jelas memiliki sikap kritis. Dalam mencari solusi, sangat tampak mereka juga kreatif-inovatif. Dalam memperkenalkan inovasinya kepada warga desa, pasti mereka juga komunikatif. Dalam mengerjakan proses produksi bersama warga desa, mereka juga kolaboratif”, imbuh Sakban Rosidi agak analitis.
“Dan… yang membanggakan kita sebagai kaum tua, gambaran angkatan milenial yang kurang peka terhadap aspek-aspek etika, sama sekali tidak benar. Buktinya, mereka sangat menghargai keterlibatan warga desa setempat. Bahkan, hanya urusan logo saja, mereka berusaha memasukkan unsur Desa dan unsur UNIM. Ini bukti kalau mereka memiliki kepekaan etik yang sangat baik”, lanjut Sakban Rosidi.
“Saya melihat ada optimisme dalam diri anak-anak muda ini. Sangat kuat semangat entrepreunership dalam diri mereka. Kalaupun bukan employer, setidaknya mereka punya kecenderungan dan kesiapan untuk menjadi self-employer, tidak bermental employee”, pungkas Sakban Rosidi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








