BLITAR, Tugujatim.id – Pembangunan proyek strategis nasional Sekolah Rakyat (SR) di Kelurahan Kauman, Kota Blitar, kini mencapai progres fisik lebih dari 70 persen. Di tengah percepatan infrastruktur Sekolah Rakyat di Blitar, pemkot dihadapkan pada tantangan meyakinkan orang tua prasejahtera agar mau melepas anaknya ke sekolah berasrama itu.
Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin mengakui adanya kendala psikologis pada masyarakat kategori Desil 1 karena sistem asrama (boarding school).
“Kesulitannya pada sosialisasi. Masyarakat belum begitu yakin karena anaknya tidak pulang (asrama). Saya mendengar laporan dari pendamping di lapangan, memang agak susah meyakinkan mereka,” ujar Ibin kepada Tugu Jatim.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Kota Blitar Bakal Tampung 150 Siswa “Titipan” dari Malang dan Batu
Program gagasan Presiden Prabowo Subianto ini dirancang sebagai paket pengentasan kemiskinan. Selain pendidikan gratis bertaraf internasional, keluarga siswa rencananya mendapat bantuan perbaikan rumah hingga modal usaha.
“Eman sekali kalau dilewatkan. Fasilitasnya mewah, bahkan melampaui fasilitas warga kelas menengah di kota. Program ini memfasilitasi anaknya sekaligus keluarganya,” imbuhnya.
Untuk itu, Pemkot Blitar menyiapkan strategi persuasif. Ibin berencana mengajak orang tua calon siswa mengunjungi lokasi Sekolah Rakyat di Blitar.
“Rencananya orang tua akan diajak meninjau lokasi proyek agar melihat langsung kualitas bangunannya. Kami harus proaktif karena target operasional Juli atau Agustus 2026 mendatang,” tegasnya.
Target 420 Siswa Baru dan Kendala Izin Orang Tua
Kepala Dinas Sosial Kota Blitar Eka Atikah menyatakan bahwa tim pendamping PKH sedang menyisir 1.700 sasaran untuk memenuhi kuota daerah sebanyak 270 siswa. Masing-masing 90 anak untuk SD, SMP, dan SMA pada angkatan awal ini.
“Kondisi fisik dari pelaksana sudah 70 persen lebih. Kami ada titipan pusat dari Malang dan Batu total 150 anak, ditambah target daerah 270 anak. Totalnya kami harapkan 420 anak memulai tahun ajaran baru pada Juli-Agustus nanti,” kata Eka.
Baca Juga: Pembangunan Sekolah Rakyat Tuban Dikebut Jelang Target Penyelesaian Juni 2026
Dia membenarkan hambatan terbesar saat ini adalah faktor psikologis orang tua yang khawatir melepas anaknya tinggal di asrama dalam jangka waktu lama.
“Proses ini agak butuh waktu untuk persetujuan orang tua. Mungkin anaknya mau tapi orang tuanya merasa kasihan kok diasramakan. Sebenarnya dibilang sulit enggak, cuma butuh proses meyakinkan karena SR ini belum ada contoh, jadi mereka meraba-raba,” jelasnya.
Sebut Pola Asrama untuk Putus Rantai Kemiskinan
Dinsos menekankan pola boarding school justru menjadi kunci memutus rantai kemiskinan lewat kedisiplinan mirip sekolah kedinasan. Orang tua diimbau tidak khawatir karena pengawasan dipastikan ketat.
“Tidak perlu dikhawatirkan karena di sana nanti 10 anak akan ada 1 wali asuh. Tentu tetap ada waktu libur di mana mereka bisa pulang ke rumah,” tambah Eka.
Guna mengejar target, pemkot akan menggelar sosialisasi di tiap kecamatan dengan mengundang perwakilan kelurahan, jalur afirmasi, dan orang tua yang tercatat di Kementerian Sosial.
Secara fisik, proyek didanai APBN yang mencakup gedung kelas SD, SMP dan SMA, asrama, fasilitas olahraga, hingga sarana ibadah ini ditargetkan rampung pada Juni atau Juli ini. Pemkot Blitar menargetkan seluruh verifikasi data dan persetujuan orang tua segera tuntas sebelum tahun ajaran baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : M. Luki Azhari
Editor: Dwi Lindawati







