JEMBER, Tugujatim.id – Di balik kesuksesan besar PT Paragon Technolocy and Innovation atau ParagonCorp, terdapat kisah Nurhayati Subakat yang jarang diketahui publik. Meski dikenal sebagai pelopor kosmetik halal di Indonesia lewat merek kosmetik Wardah, perjalanan Nurhayati Subakat penuh dengan nilai dan perjuangan yang menginspirasi.
Sebelum meraih sukses, Nurhayati Subakat menghadapi berbagai rintangan dalam kehidupan pribadinya. Dari masa-masa sulit hingga keputusan-keputusan penting yang membentuk arah karirnya.
Nurhayati Subakat Kecil
Salah satu kisah menarik yang terungkap adalah bagaimana peran keluarga, rasa optimis, dan nilai sosial dapat mematahkan segala keraguan. Lahir sebagai anak keempat dari 8 bersaudara bukan perkara mudah. Apalagi dalam keluarga hangat yang sederhana. Nurhayati kecil dididik dengan kemandirian dan disiplin.
“Saya anak keempat dari 8 bersaudara. Cerita dari almarhumah ibu saya, waktu beliau melahirkan adik saya, ada masalah kesehatan sehingga beliau menitipkan saya ke nenek yang juga sedang merawat buyut saya,” ujarnya dalam Nurhayati Subakat’s Journey: The Untold Story Hosted by Andi Noya” pada Jumat, (02/08/2024).
Dia mengatakan, banyak prinsip dan nilai kehidupan yang diperoleh dari keluarga dan perempuan hebat di sekitarnya. Kala itu, ayahnya adalah pengusaha sukses yang senang dengan nilai-nilai kebaikan.

Ibunya, perempuan yang disiplin dan tangguh. Begitu juga neneknya yang begitu mandiri, ibu tunggal yang telaten membimbing anak-anaknya dengan berjualan makanan. Sama halnya dengan buyut perempuannya.
“Ayah saya meninggal ketika saya SMP. Itulah mengapa, saya tumbuh menjadi wanita tangguh dan gemar bersifat sosial sampai sekarang. Ibu saya sangat optimis, selalu berpesan untuk tidak usah khawatir karena setiap kesulitan ada kesuksesan,” jelasnya.
Meski lahir dari keluarga Minang, keluarga Nurhayati mendukung penuh kesetaraan dalam pendidikan. Terutama sang ayah. Nurhayati menyebut, sang ayah sebagai sosok yang visioner saat itu, tahun 60-an.
Sepeninggal ayahnya, perjuangan sang ibu menyekolahkan 8 anak hingga perguruan tinggi menjadi pemantik semangat bagi Nurhayati. Dia mampu kuliah di Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia juga menjadi lulusan terbaik S-1 Farmasi ITB saat diwisuda pada 1975.
Baca Juga: Dinkes Jatim Tegaskan 20 Siswa di Situbondo Alami Cacar Air, Bukan Mpox
“Di Sumbar laki-laki itu dihormati, kalau ada dana beliau (ibu) mengutamakan yang laki-laki dulu bersekolah. Tapi orang tua saya juga mendorong perempuan untuk sekolah tinggi apalagi almarhum bapak saya,” terang dia.
Bukan hanya itu, nilai keagamaan, kebaikan, sosial juga tertanam begitu kuat pada dirinya. Pesan ibu yang Nurhayati ingat, salah satunya harus menjadi Nabi Ibrahim As, mendoakan keturunannya lebih baik. Alhasil, ketiga putra Nurhayati mampu membawa Paragon menjadi perusahaan yang terus berkembang hingga sekarang.
Selain itu, kedekatan dengan putra-putrinya juga menjadi kunci yang tidak kalah penting. Piknik setiap minggu seolah menjadi tradisi keluarga yang tak boleh ditinggalkan. Meski hanya berbekal beras dan tak jauh dari rumah.
Sang ibu juga rela hijrah mengikuti putra-putrinya belajar hingga ke Bandung. Menempuh pendidikan di ITB dan tinggal di rumah berukuran 60 meter.
“Ibu saya ini luar biasa. Itu yang saya rasakan, jadi bagaimana pengorbanannya untuk anak. Dia meninggalkan kesenangan dirinya untuk anak-anak. Itu pun saya ikuti. Jadi bagaimana didikan dan kedekatan dengan anak sejak kecil itu penting,” lanjut Nurhayati.
Pernah Bekerja sebagai Apoteker
Meski berhasil lulus sebagai predikat terbaik di ITB, keberuntungan tidak langsung berpihak pada Nurhayati. Tidak tebersit bagi Nurhayati mampu melahirkan perusahaan yang besar. Dia ingat, hanya pernah bercita-cita menjadi dosen di ITB, namun gagal.
“Nggak kebayang buat saya (melahirkan Paragon). Saya bukan orang yang beruntung dalam mendapatkan pekerjaan. Awalnya saya ingin jadi dosen, tapi meski lulusan terbaik tapi saya ditolak,” kenangnya.

Tidak putus asa, dia berkali-kali melamar kerja di beberapa tempat hingga diterima sebagai apoteker sebuah rumah sakit di Bandung.
“Akhirnya saya kerja sebagai apoteker selama 1,5 tahun dan Pak Subakat datang melamar lewat kakak di Amerika. Keduanya sama-sama kuliah di Amerika. Jadi saya rasa, pak Bakat hadir di saat yang tepat,” sambung dia.
Peran Penting Suami bagi Nurhayati Subakat
Kesuksesan Nurhayati membangun perusahaan kosmetik juga tidak lepas dari dukungan suami, Subakat Hadi. Menikah pada 1978, mereka lantas dikaruniai 3 anak. Yakni Harman Subakat, Salman Subakat, dan Sari Chairunnisa. Ketiganya kini meneruskan kepemimpinan generasi kedua ParagonCorp.
“Nasihat ibu saya, kalau milih suami pilihlah yang sayang anak. Ibu saya ngetes mantunya, dikumpulkan dengan ponakan-ponakan. Beliau bilang, kalau suami sayang anak, dia nggak bakal ninggalin anaknya,” beber Nurhayati terkekeh.
Mengarungi bahtera rumah tangga selama kurang lebih 46 tahun, bukan waktu yang sebentar. Keduanya menjadi cerminan merawat keluarga yang hangat dan harmonis.
Subakat Hadi, menambahkan, ketertarikannya kepada Nurhayati tumbuh semasa kuliah. Sebagai teman satu almamater, keduanya bertemu beberapa kali.
Menurut pria kelahiran Kebumen itu, keputusannya mendukung Nurhayati membangun bisnis sudah matang. Dia tidak pernah insecure.
Dia sudah merasa puas dengan pencapaiannya. Baik secara finansial ataupun jenjang karir. Menjadi manager di perusahaan konstruksi terbaik ke 7 di Eropa hingga CEO perusahaan pabrikator terbaik nomor dua di Indonesia sudah pernah dia lakoni.
“Pencapaian tertinggi hingga menjadi CEO sudah membuat saya merasa puas, yang belum puas yaitu melihat anak menjadi orang (sukses). Itulah perjuangan terberat dan dan terakhir bagi saya,” tutur dia.
Dia bersyukur, Nurhayati tidak hanya mampu menjadi istri namun juga ibu yang baik bagi anak-anaknya. Bagi Subakat Hadi, ego laki-laki tidak akan datang apabila dia tidak insecure. Ibarat tukang pecel, tidak akan kekurangan jika dia tidak merasa kekurangan.
“Saya sempat khawatir karena anak-anak nggak pernah dimarahi. Saya pikir mereka menjadi manja, tapi alhamdulillah bekal pendidikan Ibu Nurhayati, mereka menjadi anak yang mandiri dan tidak merendahkan orang lain,” ujarnya.
Nurhayati dan Kebaikan
Bagi Nurhayati, berbagi kebaikan sudah mendarah daging. Hal itu bahkan dia turunkan dalam prinsip dan nilai-nilai Paragon. Yakni Ketuhanan, Kepedulian, Kerendahan Hati, Ketangguhan dan Inovasi.
Suatu ketika, putranya, Harman, mendapat beasiswa pendidikan ke luar negeri. Meski itu adalah buah hasil kerja keras Harman, baik Nurhayati maupun Subakat Hadi sepakat menolak beasiswa tersebut.
Sebagai orang tua, keduanya merasa ini bagian dari mendidik anaknya. Mendidik untuk berbagi dan peduli, bahwa masih ada yang lebih membutuhkan beasiswa itu ketimbang putranya.
“Dalam pikiran saya itu adalah bagaimana kita berbagi. Itu sudah tertanam menjadi karakter saya, jangan sampai kita mengambil hak orang lain,” tegasnya.

Memberikan hak kepada orang lain, merupakan komitmen Nurhayati untuk selalu membantu sesama. Dia tidak pernah merasa khawatir untuk jatuh. Ini juga menjadi kunci bertumbuhnya Paragon menjadi lebih bonafit.
“Memang pertolongam Allah harus diusahakan, dengan kita berusaha, ikhtiar. Sampai saat ini saya tidak ada rasa khawatir. Ini yang saya rasakan dengan Paragon yang sudah mau 40 tahun. Perusahaan ini tidak pernah minus meski ada kebakaran, pandemi, dan sebagainya. Justru selalu ada pertolongan Allah. Dengan nilai kepedulian, saling berbagi kebaikan, semua itu menjadi culture di paragonian,” katanya.
Saat ini, perjalanan hidup Nurhayati Subakat sedang dituliskan dalam sebuah novel oleh Anwar Fuadi, novelis kenamaan yang juga penulis novel “Negeri 5 Menara”. Kita nantikan Novel soal Nurhayati Subakat yang tampaknya akan sangat menarik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








