• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Bunga bangkai.

Bunga Amorphophallus titanum atau yang lebih dikenal dengan nama Bunga Bangkai mekar di Kebun Raya Purwodadi, Minggu (13/10/2024). (Foto: dok)

Momen Langka Bunga Bangkai Mekar Kali Pertama di Kebun Raya Purwodadi

Dwi Linda by Dwi Linda
2 years ago
in News
0
Share on FacebookShare on Twitter

PURWODADI, Tugujatim.id – Kebun Raya Purwodadi mengumumkan momen langka dan istimewa, yakni mekarnya kali pertama bunga Amorphophallus titanum atau yang lebih dikenal dengan nama Bunga Bangkai pada Minggu (13/10/2024). Fenomena ini terjadi setelah periode dormansi yang panjang dan menandai salah satu dari momen dalam tahun ini ketika bunga langka ini mekar.

Amorphophallus titanum adalah tumbuhan yang berasal dari Indonesia dan termasuk dalam keluarga Araceae (keluarga talas-talasan/keladi keladian). Tumbuhan ini dikenal karena perbungaannya yang sangat besar dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

You might also like

Pasar Gadang.

Pembangunan Pasar Gadang Malang Dinilai Lambat, Warga Khawatir Pedagang Kembali ke Pinggir Jalan

13/06/2026 6:08 PM
Pemkot Malang.

Harga Pertamax Naik, Pemkot Malang Lirik Kendaraan Listrik Tekan Anggaran

13/06/2026 5:25 PM

Baca Juga: Harris Vriza Resmi Melamar Haviza Anjani di Tepi Pantai, Netizen Banjiri Ucapan Selamat

Amorphophallus titanum terutama ditemukan di hutan hujan Sumatera dan dikenal dengan aroma kuat dan menyengat yang dihasilkannya saat mekar. Aroma tersebut mirip dengan bau daging yang membusuk yang berfungsi untuk menarik penyerbuk seperti lalat dan kumbang pemakan bangkai. Strategi ini merupakan bentuk adaptasi evolusi yang cerdas untuk memastikan keberhasilan proses penyerbukan.

Ketika bunga bunga bangkai mekar, bau yang kuat ini membantu menarik hewan-hewan penyerbuk yang biasanya tidak tertarik pada bunga-bunga biasa. Setelah penyerbukan terjadi, bunga tersebut akan mulai layu dan proses siklus hidup tanaman berlanjut ke pertumbuhan daun besar yang akan mengumpulkan energi untuk fase mekarnya berikutnya. Fenomena ini menjadikan Amorphophallus titanum bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga secara ekologis, memainkan peran penting dalam ekosistem tempat dia tumbuh.

Di Kebun Raya Purwodadi, bunga bangkai tersebut sudah terlihat kemunculan perbungaannya sejak awal Oktober 2024 dengan bobot umbinya 8 kg. Itu menjadi perbungaan yang pertama kalinya. Inisiasi pembukaan mekar kelopak sudah terlihat sejak Minggu (13/10/2024), pukul 10.00 WIB. Menariknya masih terdapat 14 bunga bangkai lagi yang menyusul untuk berbunga dan masih dalam program kerja sama antara komunitas dan Kebun Raya Purwodadi.

Bunga ini memiliki umbi besar yang dapat mencapai bobot hingga 50 kg. Umbi ini berperan sebagai cadangan energi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Setelah periode mekar, tanaman ini mengeluarkan daun-daun besar yang dapat memiliki lebar hingga 1,5 meter.

Daun-daun besar ini bertindak sebagai “panel surya,” mengumpulkan sinar matahari, dan melakukan fotosintesis untuk menghasilkan energi yang diperlukan bagi tanaman. Energi ini tidak hanya mendukung pertumbuhan umbi, tetapi juga mempersiapkan tanaman untuk masa mekarnya di tahun depan.

Siklus hidup Amorphophallus titanum yang unik ini dengan fase berbunga yang dramatis diikuti oleh pengembangan daun besar, merupakan contoh yang menarik dari adaptasi dan strategi pertahanan diri dalam dunia tumbuhan.

Bunga bangkai di Kebun Raya Purwodadi.
Para pengunjung melihat mekarnya bunga Amorphophallus titanum di Kebun Raya Purwodadi, Minggu (13/10/2024). (Foto: dok)

“Melalui kolaborasi ini, kami dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi tumbuhan langka dan meningkatkan minat terhadap studi botanika. Kami berharap inisiatif ini dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati, menjadikan kebun ini sebagai pusat edukasi yang inspiratif,” ujar General Manager Kebun Raya Purwodadi Galendra Jaya.

Meski berada di dataran rendah yang kering, tim Kebun Raya Purwodadi telah melakukan berbagai upaya dalam perawatan dan pemeliharaan tanaman, termasuk teknik pengairan dan pemupukan yang optimal dan teknik penyesuaian micro climate yang tepat.

Keberhasilan berbunga tanaman seperti Amorphophallus titanum di kebun ini menunjukkan dedikasi tim dalam menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman, serta upaya untuk mempromosikan konservasi tersebut. Kebun Raya Purwodadi juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi pengunjung untuk belajar lebih lanjut tentang flora Indonesia.

Baca Juga: Baru Cetak Kemarin, Segini Kebutuhan Surat Suara Pilkada Mojokerto 2024

“Karena habitat Amorphophallus titanum yang kaya akan keanekaragaman hayati kini terancam oleh deforestasi. Hal ini menjadikan upaya konservasi in-situ dan ex-situ sangat penting untuk kelestarian Amorphophallus titanum agar keindahan dan keunikan kami dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang. Mari bersama-sama menjaga alam dan melestarikan lewat hobiis, komunitas, dan kebun raya tentunya,” tutur Ass Manager Hortikultura Holding – Kebun Raya Purwodadi dan Kebun Raya Bali Hadhiyyah N. Cahyono.

Kebun Raya Purwodadi mengundang pencinta tanaman maupun masyarakat untuk menyaksikan mekarnya Amorphophallus titanum. Kegiatan pengamatan dan edukasi tentang keanekaragaman hayati serta pelestarian spesies langka ini juga akan diselenggarakan selama periode mekarnya bunga.

Pengunjung dapat melihat bunga bangkai ini di area kafe kebun-kebun Raya Purwodadi. Pihaknya menyarankan agar pengunjung datang segera karena periode mekar bunga ini sangat singkat, hanya berlangsung beberapa hari. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Editor: Dwi Lindawati

Tags: Amorphophallus titanum adalahBerita Kebun Raya PurwodadiBerita Purwodadi hari iniKebun Raya PurwodadiKelas edukasi di Kebun Raya PurwodadiPurwodadi hari ini
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Pasar Gadang.

Pembangunan Pasar Gadang Malang Dinilai Lambat, Warga Khawatir Pedagang Kembali ke Pinggir Jalan

by Dwi Linda
13/06/2026 6:08 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Warga Kota Malang mulai mempertanyakan kelanjutan proyek penataan Pasar Induk Gadang setelah proses relokasi pedagang dilakukan sejak...

Pemkot Malang.

Harga Pertamax Naik, Pemkot Malang Lirik Kendaraan Listrik Tekan Anggaran

by Dwi Linda
13/06/2026 5:25 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai berdampak pada biaya operasional pemerintah daerah. Di tengah...

Cuaca di Jawa Timur.

Hujan Ringan dan Udara Kabur Dominasi Cuaca di Jawa Timur 13 Juni 2026, Waspadai Kelembapan Tinggi dan Jarak Pandang

by Dwi Linda
13/06/2026 8:58 AM
0

Tugujatim.id - Cuaca di Jawa Timur pada Sabtu (13/06/2026) didominasi hujan ringan, udara kabur, dan kondisi berawan di berbagai wilayah....

Santri

Terkendala Gelombang Tinggi, Pencarian Hari Kedua Santri Terseret Ombak di Blitar Nihil

by Mochamad Abdurrochim
12/06/2026 8:54 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Operasi pencarian terhadap santri asal Kabupaten Kediri yang terseret ombak di Pantai Pangi, Desa Tumpakkepuh, Kecamatan Bakung,...

Next Post
Khofifah-Emil.

Survei ARCI Pilgub Jatim 2024 Terbaru, Pasangan Khofifah-Emil Tembus 63,4%

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID