JEMBER, Tugujatim.id – Merebaknya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Jember membuat transaksi jual beli di Pasar Hewan Kemisan, Kecamatan Ajung, terlihat lengang.
Berdasarkan pantauan Tugujatim.id di lapangan, terlihat beberapa penjual domba dan kambing mendominasi kegiatan jual beli di pasar itu. Sedangkan penjual sapi yang terlihat tidak lebih dari lima orang dengan mobil pickup kecil yang muat untuk dua ekor sapi.
Salah seorang penjual dan sekaligus peternak sapi di Pasar Hewan Kemisan Arik Efendi menjelaskan bahwa selama merebaknya kasus PMK yang menyerang hewan berkuku belah atau genap itu membuat dirinya harus mengubah pola penjualan.
“Sebelumnya, yang biasanya saya membawa 10-15 ekor sapi ke pasar, sekarang hanya dua ekor saja, itu pun kadang-kadang laku satu atau bisa aja nggak laku semuanya,” ujar Arik Efendi saat ditemui pada Minggu (19/01/2025).

Dia mengaku, dalam satu pekan mengunjungi beberapa pasar hewan yang tersebar di Kabupaten Jember. Mulai dari Kecamatan Ajung, Kalisat, Mayang, Tempurejo, hingga Ambulu untuk menjajakan sapi-sapi miliknya.
Kendati demikian, kondisi merebaknya PMK membuat dirinya untuk menurunkan harga sapi-sapi yang dijual. Bahkan, dia mengaku hampir memotong harga saku ekor sapinya sebesar 25 persen.
“Jadi kalau musim PMK saat ini, biasanya satu ekor sapi berumur sekitar empat hingga enam bulan dihargai Rp10 juta, sekarang bisa Rp8 juta atau nggak sampek harga itu,” jelasnya.
Baca Juga: Jatuh Korban Jiwa, Akademisi Beri Pandangan soal Rumah Polisi Meledak di Mojokerto
Dia mengungkap, prioritas konsumen telah bergeser drastis, dari yang dulunya mengutamakan postur dan berat badan sapi, kini hanya memedulikan status kesehatannya saja, atau bahkan pembeli tidak akan membeli di masa merebaknya PMK.
“Sekarang yang dilihat hanya kesehatannya. Ukuran atau bobot sapi sudah tidak penting lagi,” ujar Arik Efendi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








