• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Diskusi Budaya

Refleksi Budaya 'Mbeber Klasa', Mata Air Sebagai Inspirasi Pendidikan dan Sumber Kearifan.

Mata Air Sebagai Inspirasi Pendidikan dan Sumber Kearifan: Refleksi Budaya dalam ‘Mbeber Klasa’

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
1 year ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Suasana malam yang khidmat berpadu dengan gemericik mata air dan hamparan rakit bambu di tengah persawahan mengiringi diskusi budaya ‘Mbeber Klasa’ yang kembali digelar oleh Lesbumi PCNU Kota Malang.

Bertempat di kawasan mata air Pondok Pesantren Darul Hikmah Al-Hasani, Joyosuko, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang, acara ini mengusung tema ‘Mata Air Sebagai Inspirasi Pendidikan dan Sumber Kearifan’ dengan menyoroti peran vital mata air dalam kehidupan masyarakat, baik sebagai sumber fisik maupun simbolis.

You might also like

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM
Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

11/04/2026 3:25 AM

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Dr. KH. Junaedi, M.Pd.I (Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah Al-Hasani), Moh. Jamaluddin Asis (Ketua RW 12 Merjosari), Nanang Bustanul Fauzi, M.Pd (Pemerhati Mata Air dan Pengurus Lesbumi PCNU Kota Malang), serta Darmaji (Ketua RW 07 Merjosari dan Pengurus Lesbumi PCNU Kota Malang). Diskusi dipandu oleh Ahmad Sulchan An-Nauri, pengurus Lesbumi PCNU Kota Malang.

Diskusi Budaya 1
Refleksi Budaya ‘Mbeber Klasa’, Mata Air Sebagai Inspirasi Pendidikan dan Sumber Kearifan.

Junaedi dalam sambutannya, mengingatkan bahwa mata air bukan sekadar sumber kehidupan secara fisik, tetapi juga simbol kearifan yang diwariskan turun-temurun. “Air yang jernih melambangkan hati yang bersih. Dari sinilah kita belajar bahwa pendidikan harus berakar pada kejernihan niat dan keberlanjutan manfaat,” ujarnya.

BACA JUGA: Tahun Baru Imlek 2025 Jadi Momentum Kerukunan di Jember, Tujuh Agama Gelar Doa Bersama di Klenteng Pay Lien San

Keunikan ‘Mbeber Klasa’ kali ini terletak pada perpaduan diskusi ilmiah dengan seni budaya. Sajian tembang religi dan puisi, semakin menguatkan atmosfer reflektif acara ini. Puisi berjudul ‘Rakit Patirtan’ yang ditulis dan dibaca oleh Sindu (salah satu Dewan Pakar Lesbumi PCNU Kota Malang), menjadi salah satu momen yang menggugah perasaan peserta.

“Sumber, mengalir cerah petuah, hingga meruah, pikir generasi, yang di bawah. Ialah, tembang piwulang dari para moyang, mesti kumandang rakitan juang, hingga tak hilang ditelan perubahan.” demikian kutipan dari puisi yang menggambarkan pentingnya air sebagai perantara kebijaksanaan leluhur.

Nanang Bustanul Fauzi menyoroti menurunnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian mata air. Ia menegaskan bahwa merawat sumber air adalah bentuk pengabdian kepada alam dan warisan bagi generasi mendatang. “Jangan sampai kita kehilangan sumber-sumber mata air hanya karena abai terhadap ekosistem di sekitarnya,” tegasnya.

Sesi diskusi, memunculkan gagasan bahwa mata air dapat menjadi inspirasi dalam pendidikan berkelanjutan. Dr. KH. Junaedi menambahkan bahwa pendidikan harus memiliki prinsip keberlanjutan seperti mata air yang terus mengalir tanpa henti. Konsep ini diterjemahkan dalam sistem pendidikan pesantren yang terus menyesuaikan dengan zaman tanpa kehilangan esensi tradisinya.

BACA JUGA; Kisah Perempuan Indonesia Keturunan Pakistan, Dibalik Lukisan Karya Cucu Kiai di Bangil Dipamerkan di Hari Jadi Pakistan

Sementara itu, Darmaji mengajak masyarakat menjadikan mata air sebagai bagian dari kesadaran ekologis. “Bukan hanya untuk konsumsi fisik, tetapi juga untuk kebutuhan spiritual dan intelektual,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya pendidikan berbasis lingkungan yang memadukan nilai-nilai agama dan kearifan lokal.

Diskusi yang berlangsung hingga larut malam ini memberikan banyak wawasan bagi peserta. Pesan utama yang dapat diambil adalah perlunya kesadaran kolektif dalam menjaga dan memanfaatkan mata air dengan bijak. Closing statement dari Nanang Bustanul Fauzi menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran lingkungan, serta menjalani pertobatan ekologis dengan sabar, telaten, dan konsisten.

Acara ditutup dengan pembacaan doa dan refleksi bersama, sembari peserta menikmati alunan tembang religi yang menenangkan. ‘Mbeber Klasa’ edisi kali ini berhasil menyatukan seni, budaya, dan ilmu dalam satu harmoni yang menggugah kesadaran akan pentingnya mata air sebagai sumber kehidupan dan inspirasi pendidikan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: Kota Malanglesbumi pcnu kota malangMalang
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Perjalanan Menuju Pertaubatan

Perjalanan Menuju Pertaubatan

by Dwi Linda
22/02/2026 11:43 AM
0

Oleh: Muhammad Mufid, Cerpenis Difabel di Malang Tugujatim.id - Malam sudah larut dan jalanan Kota Jakarta tampak lengang. Lampu-lampu jalan...

Next Post
Mojokerto

Produsen Miras Ilegal di Mojokerto Kemas Produk Gunakan Label Merk Terkenal

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID