Tugujatim.id – Prajogo Pangestu, lahir dengan nama Phang Djoen Phen pada 13 Mei 1944 di Bengkayang, Kalimantan Barat, adalah seorang pengusaha dan investor terkemuka di Indonesia. Meskipun hanya menempuh pendidikan hingga tingkat menengah dan pernah bekerja sebagai sopir angkot, pertemuannya dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray, pada tahun 1960-an menjadi titik balik dalam hidupnya.
Cerita singkat Prajogo pangestu
Dengan bimbingan Burhan, Prajogo bergabung dengan PT Djajanti Group dan menjabat sebagai General Manager di Plywood Nusantara, Gresik, Jawa Timur. Pengalaman ini mendorongnya untuk mendirikan perusahaannya sendiri pada tahun 1977, yang dikenal sebagai CV Pacific Lumber Coy, dan kini telah berkembang menjadi PT Barito Pacific Tbk (BRPT), sebuah konglomerat yang bergerak di berbagai sektor seperti petrokimia, energi terbarukan, dan properti.
Baca Juga : IHSG Hari Ini: Pergerakan Pasar dan Sentimen Investor
Sebagai salah satu individu terkaya di Indonesia, kekayaan Prajogo Pangestu mencapai US$43,4 miliar pada tahun 2024, menjadikannya orang terkaya di Asia Tenggara. Kekayaannya sebagian besar berasal dari kepemilikan saham di berbagai perusahaan besar yang beroperasi di sektor-sektor strategis. Berikut adalah beberapa perusahaan utama di mana Prajogo memiliki saham signifikan:
1. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
Didirikan pada tahun 1979, PT Barito Pacific Tbk awalnya berfokus pada pengolahan kayu. Seiring waktu, perusahaan ini melakukan diversifikasi ke sektor lain seperti petrokimia dan energi terbarukan. BRPT memiliki beberapa anak perusahaan, termasuk PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), produsen petrokimia terbesar di Indonesia. Pada tahun 2023, saham BRPT menunjukkan kinerja yang mengesankan dengan kenaikan harga lebih dari 44%, dari Rp730 per lembar pada Juni 2023 menjadi Rp1.055 per lembar pada Juni 2024. Peningkatan ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap strategi diversifikasi dan ekspansi perusahaan.
2. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)
Sebagai anak perusahaan BRPT, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk merupakan produsen utama produk petrokimia di Indonesia, termasuk olefin, poliolefin, dan butadiene. Pada semester pertama tahun 2024, meskipun pendapatan perusahaan menurun menjadi US$866,4 juta dari US$1,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, saham TPIA tetap menunjukkan performa positif. Pada Agustus 2024, harga saham TPIA melonjak 10,34% menjadi Rp10.675 per lembar, dengan total transaksi mencapai Rp269,9 miliar. Kenaikan ini terjadi meskipun perusahaan melaporkan kerugian bersih sebesar US$47,46 juta pada periode tersebut.
3. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, yang bergerak di sektor pertambangan batubara dan emas, mencatatkan kinerja saham yang luar biasa sejak IPO pada Maret 2023. Harga sahamnya melonjak dari Rp220 per lembar saat IPO menjadi Rp13.425 per lembar pada Desember 2023, mencerminkan kenaikan lebih dari 6.000%. Namun, lonjakan harga yang signifikan ini mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan suspensi sementara perdagangan saham CUAN pada Desember 2023 guna melindungi investor dan menjaga stabilitas pasar.
Baca Juga : Kisah Sukses Prajogo Pangestu, Dari Sopir Angkot hingga Menjadi Orang Terkaya di Indonesia
4. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
Fokus pada pengembangan energi terbarukan, PT Barito Renewables Energy Tbk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi dan angin di berbagai wilayah Indonesia. Setelah IPO pada Oktober 2023 dengan harga Rp780 per lembar, saham BREN mengalami kenaikan tajam hingga mencapai Rp7.650 per lembar, menjadikannya salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di Bursa Efek Indonesia pada saat itu. Namun, volatilitas harga yang tinggi menyebabkan BEI beberapa kali melakukan suspensi perdagangan saham BREN pada tahun 2024 untuk memastikan transparansi dan perlindungan bagi investor.
5. PT Petrosea Tbk (PTRO)
Pada Februari 2024, melalui anak perusahaannya, PT Kreasi Jasa Persada, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk mengakuisisi 34% saham PT Petrosea Tbk. Langkah strategis ini memperluas portofolio bisnis Prajogo Pangestu di sektor pertambangan dan jasa konstruksi, memperkuat posisinya dalam industri tersebut.
Selain kepemilikan saham di berbagai perusahaan tersebut, Prajogo Pangestu juga aktif dalam memperluas dan mengkonsolidasikan aset-asetnya. Pada Februari 2025, ia menambah investasinya dengan membeli 1,5 juta saham BREN senilai Rp9,4 miliar untuk kepentingan investasi pribadi. Langkah ini menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Meskipun beberapa saham perusahaan milik Prajogo mengalami volatilitas harga yang signifikan, minat investor terhadap saham-saham tersebut tetap tinggi. Hal ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kepemimpinan dan visi bisnis Prajogo Pangestu dalam mengembangkan sektor-sektor strategis di Indonesia.
Baca Juga : Prospek Saham BMRI, Analisis dan Potensi Keuntungan
Sebagai seorang pengusaha visioner, Prajogo Pangestu terus berperan aktif dalam mengembangkan industri petrokimia, energi, dan pertambangan di Indonesia. Melalui berbagai perusahaan di bawah naungan Barito Pacific Group, ia berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan pengembangan sektor-sektor vital bagi masa depan Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Ilmi Habibi Rahmatullah