• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Membaca karya sastra mengenang kemerdekaan Republik Indonesia/tugu jatim

Membaca karya sastra mengenang kemerdekaan Republik Indonesia. (Foto: Pexels)

4 Novel Asyik, Mengenang Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Herlianto A by Herlianto A
5 years ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Momen bulan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 76 ini, rasanya cocok untuk mengenang kembali perjuangan para founding fathers. Bagaimana mereka melawan kejamnya penjajah saat itu. Mungkin dengan mengenang hari perjuangan itu, kita menjadi lebih bersyukur dengan keadaan hari ini.

Ada banyak karya sastra yang bisa dibaca untuk menghadirkan bagaimana perjuangan kemerdekaan. Karya sastra tersebut mengadaptasi sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai latar belakang ceritanya. Setidaknya, ada 4 rekomendasi buku yang cocok dibaca untuk mengenang era perjuangan kemerdekaan.

You might also like

Larung Sesaji

Melihat Tradisi Larung Sesaji Pantai Serang Blitar, Khidmat Suroan Warisan Leluhur Sejak 1830

19/06/2026 10:15 AM
Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM

1. Tetralogi Pulau Buru (Pramoedya Ananta Toer)

Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer/tugu jatim
Salah satu Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. (Foto: goodreads.com)

Buku ini merupakan novel seri yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer sejak dibebaskan dari pengasingan di Pulau Buru pada tahun 1980. Tetralogi Pulau Buru adalah  karya yang awalnya lahir dari cerita lisan sang penulis kepada rekan-rekan tahanannya ketika diasingkan rezim Orde Baru pada tahun 1965-1979.

Empat judul dalam tetralogi ini, di antaranya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Menariknya, tahun 1980 karya Pramoedya tersebut dilarang oleh pemerintahan Orde Baru. Pembaca dan pemilik buku itu dikejar dan ditangkap oleh aparat. Namun setelah Suharto lengser pada 1998 dan reformasi bergulir, maka salah satu karya sastra monumental itu dapat kembali dibaca.

Bahkan belum lama ini, Bumi Manusia telah berhasil diangkat ke layar lebar pada tahun 2019 lalu yang disutradarai Hanung Bramantio.

Cerita yang disajikan dalam masterpiece tersebut berfokus pada kisah pergerakan kebangkitan nasional yang diambil dari sudut pandang tokoh utamanya, Minke. Dia putra seorang bupati yang memperoleh pendidikan Belanda.

Unsur sejarah yang ditampilkan dalam cerita tergambar dari kisah rekaman pengadilan pertama pribumi Indonesia yang diambil dari sudut pandang tokoh Nyai Ontosoroh, seorang gundik yang memperjuangkan haknya sebagai pribumi.

2. Max Havelaar (Multatuli)

Maxhavela karya Multatuli/tugu jatim
Maxhavela karya Multatuli. (Foto: goodreads.com)

Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860 di Belgia dan menjadi karya sastra Belanda pertama yang mengadopsi gaya penulisan baru. Ditulis Edward Douwes Dekker dengan nama pena Multatuli.

Novel tersebut memberikan narasi mengenai nasib rakyat di tanah jajahan Belanda akibat kebijakan sistem tanam paksa di daerah Lebak, Banten.

Karya satra ini kemudian dinobatkan sebagai karya dunia yang memiliki hubungan erat dengan sejarah perbudakan zaman kolonial di Indonesia. Kebijakan itu sungguh menyiksa penduduk pribumi.

Pada 1972, novel ini pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh HB Jassin dan terjemahannya dicetak ulang pada tahun berikutnya.

3. Semua Untuk Hindia (Ikhsaka Banu)

Semua Untuk Hindia karya Ikhsaka Banu/tugu jatim
Semua Untuk Hindia karya Ikhsaka Banu. (Foto: goodreads.com)

Karya ini merupakan kumpulan cerita pendek yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada tahun 2014. Pada tahun yang sama mendapat penghargaan Kasula Sastra Khatulistiwa untuk kategori prosa.

Cerita-cerita pendek yang dibukukan dalam Semua Untuk Hindia ini merupakan kisah yang terjadi semasa Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Cerita yang dinarasikan bermula sejak kedatangan Cornelis de Houtman pada 1596 hingga masa awal Indonesia merdeka.

Kisah-kisah tersebut dikemas dengan baik dan disajikan melalui sudut pandang tokohnya yang beragam. Kisahnya berlatar belakang peristiwa bersejarah seperti Perang Puputan di Bali dan juga menampilkan pahlawan nusantara seperti Pangeran Diponegoro dan Untung Suropati.

Tidak hanya kisah tentang peperangan, Ikhsaka Banu juga mendedahkan cerita yang menyentuh sisi humanis pembaca seperti percintaan dramatik antara Nyai (sebutan gundik di zaman penjajahan Belanda) dan Tuannya.

4. Tidak Ada Esok (Mochtar Lubis)

Tidak Ada Esok karya Mochtar Lubis/tugu jatim
Tidak Ada Esok karya Mochtar Lubis. (Foto: goodreads.com)

Roman ini berlatar belakang kondisi Indonesia setelah perang dunia kedua. Terbit pertama kali pada tahun 1950. Karya Mochtar Lubis ini menceritakan perjuangan kaum muda saat perang gerilya. Para pejuang itu dikisahkan dengan narasi yang dramatik tentang kematian selama berperang. Memori buruk atas kekejaman penjajahan Jepang di Indonesia yang memberikan mereka semangat untuk merdeka.

Tags: karya sastranovelNovel KemerdekaanNovel SejarahPramoedya Ananta Toer
Herlianto A

Herlianto A

Related Stories

Larung Sesaji

Melihat Tradisi Larung Sesaji Pantai Serang Blitar, Khidmat Suroan Warisan Leluhur Sejak 1830

by Mochamad Abdurrochim
19/06/2026 10:15 AM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Memeluk erat sebuah takir, nasi bungkus daun pisang, mata Hartini (47) menatap hamparan ombak selatan Pantai Serang,...

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Next Post
Mensos RI Tri Rismaharini bertanya kepada salah satu warga soal BPNT saat blusukan ke Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Sabtu (24/07/2021). (Foto: Rochim/Tugu Jatim)

Dugaan Pelanggaran Penyaluran BPNT Temuan Mensos, Polres Tuban Tunggu Audit Inspektorat dan BPKP

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID