TUBAN, Tugujatim.id – Pemkab Tuban menargetkan pendapatan asli daerah (PAD) mencapai Rp1,1 triliun pada 2030. Target ambisius PAD Tuban ini disampaikan langsung oleh Bupati Aditya Halindra Faridzky dalam penyusunan Raperda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.
Optimisme ini bukan tanpa alasan. Bupati yang akrab disapa Mas Lindra itu mengaku sudah menyiapkan berbagai strategi untuk menggenjot PAD Tuban dari berbagai sektor unggulan. Mulai dari penguatan badan usaha milik daerah (BUMD), pengelolaan sektor tambang, hingga potensi ekonomi lokal seperti UMKM, dan industri turunan lainnya.
Baca Juga: Kronologi Penemuan Granat di Rumah Kosong Tuban, Polisi Selidiki Pemiliknya
“Insyaa Allah kami optimis karena potensi Tuban masih sangat besar. Salah satu yang bisa diandalkan adalah sektor tambang dan kontribusi BUMD. Kalau semuanya dimaksimalkan, kami yakin bisa melampaui target Rp1,1 triliun di 2030,” ujar Mas Lindra usai mengikuti rapat paripurna, Selasa (03/06/2025).
Dalam draf RPJMD, pemerintah menargetkan tren pertumbuhan PAD secara bertahap. Jika di 2024 nilai PAD Tuban masih sekitar Rp652,9 miliar, maka pada 2025 ditargetkan naik menjadi Rp767,6 miliar. Angka ini akan terus meningkat hingga tembus Rp1,126 triliun pada 2030.
Pada 2025, PAD Tuban ditargetkan Rp767.623.119.300; pada 2026 meningkat menjadi Rp813.070.000.000. Selanjutnya pada 2027 menjadi Rp869.730.000.000. Di tahun berikutnya ditargetkan mencapai Rp939.290.916.000, dan 2029 tembus di angka Rp1.023.830.000.000, serta pada 2030 dapat mencapai Rp1.126.210.000.000.
Sektor pertambangan disebut-sebut masih menyimpan potensi besar, meski izinnya dikelola provinsi dan pusat. Namun, pemkab akan mendorong sinergi agar bisa mendapatkan bagi hasil yang maksimal.
“Perizinan tambang memang di provinsi dan pusat, tapi kami bisa menjalin komunikasi untuk berbagi kontribusi. Selain itu, transportasi juga akan jadi sektor besar yang kami garap,” jelasnya.
BUMD yang selama ini sudah beroperasi akan didorong agar bisa lebih produktif. Pemerintah daerah bahkan menjadikan penguatan BUMD sebagai salah satu prioritas utama lima tahun ke depan.

Tidak hanya itu, sektor UMKM juga tidak luput dari perhatian. Produk lokal, pengolahan hasil pertanian, hingga potensi pariwisata akan diintegrasikan untuk mendukung peningkatan pendapatan daerah.
“Kami lihat potensi dari bawah hingga atas. Mulai dari produk UMKM sampai MBLB, semua kami petakan. Kalau pabrik semen di Tuban produksinya naik, itu juga akan berdampak positif ke PAD,” sambungnya.
Meski sempat menurun pada 2023, grafik kontribusi sektor industri seperti semen mulai menunjukkan pemulihan. Pemerintah berharap tren ini bisa terus membaik hingga beberapa tahun ke depan.
“Semen pada 2023 memang menurun. Tapi tahun ini dan ke depan grafiknya mulai positif. Kami yakin itu akan bantu PAD juga,” tambah Mas Lindra.
Saat ditanya apakah ada dorongan khusus untuk menggunakan produk lokal seperti Semen Indonesia atau SBI, Lindra menegaskan tidak ada instruksi formal. Namun dia optimis, keberadaan pabrik di Tuban akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para kontraktor.
“Instruksi khusus tidak ada, karena aturan tidak membolehkan. Tapi karena pabrik ada di sini, otomatis akan jadi pilihan karena efisiensi dan kualitasnya,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








