TUBAN, Tugujatim.id – Pasar tradisional di Tuban, Jatim, seharusnya dipenuhi dengan orang tua yang sibuk membeli perlengkapan sekolah di tengah riuhnya momen tahun ajaran baru. Sayangnya, kondisi ini justru sebaliknya. Di Pasar Baru Tuban, bisnis alat tulis lesu dan sepi pembeli dibanding tahun sebelumnya.
Rudi Shoimah, 40, salah satu pedagang yang sudah puluhan tahun berjualan di pasar ini, mengungkapkan, omzet penjualan bisnis alat tulis turun drastis. Biasanya, pada musim ajaran baru, dia bisa menjual hingga 50 dus buku tulis per hari. Namun, kini dia hanya bisa menjual sekitar 10 dus per hari.
Baca Juga: Jelang Tahun Ajaran Baru, Formasi Guru di Sekolah Rakyat Mojokerto Belum Jelas
“Buku tulis, harga mulai Rp25 ribu-Rp45 ribu per pak, tergantung merek dan isi. Tapi meski harga stabil, pembelinya menurun tajam. Biasanya ramai, harus antre panjang. Sekarang, ya hanya sesekali saja ramai,” kata Rudi.
Meskipun lapaknya tampak lengang, Rudi tetap mengandalkan dua karyawan yang membantunya untuk menjaga toko. Namun, dia mengaku, dengan kondisi seperti ini, mereka pun lebih banyak duduk daripada melayani pembeli.
“Dua orang yang saya pekerjakan di sini juga nggak sibuk. Kadang mereka lebih banyak ngobrol karena ya memang sepi,” tuturnya.
Tren Belanja Online Turunkan Minat Pembeli di Pasar
Menurut Rudi, penyebab utama turunnya minat beli adalah peralihan tren ke belanja online. Saat ini, banyak orang tua yang lebih memilih membeli perlengkapan sekolah lewat online shop daripada datang langsung ke pasar.
“Sekarang semua serba praktis. Orang tua lebih pilih beli online, tinggal klik dan barang datang. Tapi kalau di pasar, orang sudah malas keluar rumah dan pasar juga memang lebih sepi,” tambahnya.

Meski demikian, Rudi tetap menjalankan bisnis alat tulis juga lewat platform online. Namun, meski penjualan meningkat sedikit di dunia maya, dia mengeluhkan keuntungan yang sangat tipis karena harus berbagi hasil dengan pihak platform.
“Belanja online memang meningkat, tapi keuntungannya kecil. Kami harus bagi hasil. Kalau dibandingkan dengan tahun-tahun lalu, jelas sangat berbeda,” ungkapnya.
Rudi berharap kondisi pasar kembali membaik sebelum liburan sekolah berakhir. Dia tidak bisa memprediksi apakah akan ada lonjakan pembeli dalam seminggu terakhir liburan. Namun, dia tetap berusaha bertahan karena berdagang ini sudah menjadi pekerjaan turun-temurun di keluarganya.
“Kami sudah berjualan sejak tahun 2000-an, dari generasi ke generasi. Harapannya, pasar ini tetap ramai, seperti dulu,” tutupnya dengan senyum penuh harap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








