Tugujatim.id – Mulyono, mitra Tugu Media Group yang juga pensiunan PT Pegadaian saat ini sedang melaksanakan umrah plus bersama Biro Perjalanan Satriani Wisata melalui Program Umrah Plus Al Aqsho. Sebelum tiba ke tujuan utama yakni Makkah dan Madinah di Arab Saudi, Mulyono dan rombongan terlebih dulu transit di Oman sebelum akhirnya tiba di Yordania. Berikut serial catatan perjalanannya.
Kami terbang dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta pada Sabtu, 19 Juli 2025 sekitar pukul 14.50. Kami terbang bersama Oman Air WY850. Kami transit di Bandara Internasional Muscat, Oman, sebuah bandara yang memberi kesan bersih, modern, dan sangat nyaman.
Pesawat kami mendarat pada pukul 18.45 waktu Oman, dengan selisih waktu sekitar tiga jam lebih lambat dibanding Indonesia. Meski hanya transit sekitar empat jam, dari 18.45 hingga 22.45, pengalaman singkat ini memberikan kesan mendalam.
Begitu keluar dari pesawat, suasana bandara terasa tenang dan tidak terlalu padat. Desain interior yang modern berpadu dengan ornamen khas Timur Tengah, menambah kesan elegan dan menenangkan. Kami memanfaatkan waktu transit ini untuk beristirahat sejenak sambil menikmati suasana. Salah satu momen yang tak terlupakan adalah mencicipi espresso hangat di Caffè Nero, sebuah kafe ternama yang ada di dalam bandara. Aroma kopi yang kuat, rasa yang mantap, dan tempat duduk yang nyaman membuat waktu singkat ini terasa istimewa.
Di area terminal, berbagai fasilitas belanja dan informasi penerbangan sangat tertata. Layar informasi digital menampilkan keberangkatan ke berbagai destinasi dunia, termasuk penerbangan kami menuju Madinah. Semua hal ini memberi kesan bahwa Bandara Muscat bukan sekadar tempat transit, tapi sebuah pengalaman perjalanan yang nyaman dan penuh kesan.
BACA JUGA: Melintasi Perbatasan Arab Saudi dan Irak, Mengunjungi Pohon Sahabi Tempat Berteduh Nabi Muhammad SAW (2)
Selanjutnya kami melakukan penerbangan malam Oman Air dari Muscat, yang akhirnya
kami mendarat di Bandara Internasional Queen Alia, Amman – Yordania pada pukul 01.30 dini hari waktu setempat atau sekitar 05.30 pagi waktu Indonesia.

Suasana bandara ini benar-benar berkesan. Megah, tenang, dengan lampu temaram yang menghadirkan kesan elegan di tengah malam. Meski tiba di waktu dini hari, proses imigrasi berjalan cepat dan mudah, dengan fasilitas visa on arrival yang sangat membantu jamaah internasional.
BACA JUGA: Ziarah ke Gua Ashabul Kahfi di Amman Yordania, Belajar Soal Perjuangan Iman (3)
Menjejakkan kaki di negeri para nabi membuat hati bergetar. Tanah ini kaya akan sejarah yang disebut dalam kitab-kitab suci. Sebelum menuju Tanah Haram, kami diberi kesempatan untuk menyaksikan jejak-jejak peradaban agung yang menjadi saksi perjalanan para nabi.

Rencana 4 Hari di Yordania, Palestina, dan Israel
Selama empat hari ke depan, perjalanan akan membawa kami menyusuri situs-situs bersejarah penuh makna:
- Hari 1 (Setelah Tiba): Istirahat di Amman, persiapan perjalanan spiritual.
- Hari 2: Menuju Masjidil Aqsa – salah satu tujuan utama, tempat yang dimuliakan dalam Al-Qur’an, di mana Rasulullah ﷺ melaksanakan Isra Mi’raj.
- Hari 3: Menyusuri Gua Ashabul Kahfi – lokasi yang diyakini sebagai tempat para pemuda beriman berlindung dalam kisah Al-Kahfi.
- Hari 4: Wisata sejarah dan alam:
- Laut Mati (Dead Sea): Laut dengan kadar garam tinggi yang terkenal di dunia.
- Jerash: Kota kuno peninggalan Romawi yang megah.
- Wadi Rum & Wadi Mujib: Lembah indah yang disebut-sebut dalam kisah perjalanan nabi dan penuh pesona alam.
- Kota Petra (Kota Kbai’): Salah satu keajaiban dunia, kota batu berwarna merah yang berusia ribuan tahun.
Perjalanan ini bukan sekadar ziarah sejarah, tetapi juga perjalanan spiritual untuk semakin mendekat kepada Allah, mengingat jejak para nabi, dan mengambil hikmah dari kisah mereka. (bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Pengalaman Perjalanan Ditulis oleh Mulyono, Mitra Tugu Media Group, Pensiunan PT Pegadaian
Editor: Darmadi Sasongko








