Surakarta, 25 Maret 2025

Penulis: Dr. Sugit Zulianto, M.Pd.
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP dan Peer Group Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret
Tugujatim.id – Karakter siswa yang baik lazim menjadi dambaan guru, bahkan orang tua. Namun, baik guru maupun orang tua mudah menemukan perilaku siswa yang terlepas dari norma, baik norma sosial maupun norma agama. Padahal, mata pelajaran yang berkaitan dengan norma itu, misalnya agama telah diberikan sejak dini di lingkungan pendidikan dasar. Ironisnya, akhir-akhir ini, siswa memang mengetahui norma-norma tersebut, tetapi cenderung memahaminya sebagai pengetahuan, bukan sebagai nilai-nilai yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sepertinya, pemahaman konseptual tentang norma dan nilai yang dikandungnya perlu dididikkan dan dilatihkan secara atraktif dalam wadah ekstrakurikuler yang humanis, yakni seni teater.
Seni teater memang dapat dan perlu ditoptimalkan untuk membentuk karakter siswa. Pilihan itu didasarkan pada pertimbangan pentingnya efektivitas proses pelaksanaan ekstrakurikuler guna menjangkau siswa dalam jumlah yang besar. Artinya, sekali proses berseni teater yang dilatihkan kepada sekelompok siswa, pergelarannya dapat diikuti oleh segenap siswa di suatu sekolah.
Selain tampilan dapat diselenggarakan secara langsung di tanah lapang atau aula sekolah, rekaman dokumentasinya dapat diputar berulang, bahkan dijadikan sebagai media yang menarik karena diperankan langsung oleh para siswa. Melalui cerita dalam seni teater itu, norma sosial dan agama yang berisi nilai-nilai religi dan nasionalisme, misalnya, dapat ditanamkan kepada aktor/aktris yang terpilih.
Untuk itu, Komunitas Seni Teater Uduri (KSTU) yang terlahir di Surakarta, tepatnya di Taman Budaya Jawa Tengah, bergegas lahir dan hadir menyambut peluang tersebut. Saat dilahirkan pada 25 Maret 2022, KSTU disaksikan oleh para budayawan, sastrawan, dan seniman, serta para pelaku seni teater dari berbagai penjuru nusantara. Peristiwa bersejarah dalam dunia perteateran itu memang monumental karena bersamaan dengan peringatan ke-8 Hari Teater Dunia yang dimotori oleh Omah Kreatif Arturah. Saat itu, kelahiran KSTU diiringi dengan pembacaan puisi oleh segenap mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNS dan akademisi. Seiring dengan itu, buku Antologi Puisi berjudul “Jaten: Historika, Daya, dan Cita-cita” pun diluncurkan.
Dalam perjalanannya, KSTU memberikan perhatian yang serius terhadap pengembangan karakter siswa. Hal itu dilakukan dengan membuka kesempatan kepada anak usia pendidikan dasar untuk turut berlatih seni teater. Awal-awalnya, siswa dilatih untuk mengembangkan karakter cinta tanah air. Secara praktis, para aktor dan aktris usia pendidikan dasar dilatih untuk berteater sebelum cerita dipentaskan dalam peringatan hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Setidaknya, siswa telah memahami dan mampu mengekspresikan karakter nasionalisme yang mencintai kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Karena KSTU bersifat terbuka, aktor dan aktris dari unsur anggota karangtaruna pun dilibatkan sebagai bagian dari KSTU. Dengan begitu, karakter generasi yang mencintai tanah air melalui aktualitasi kerjasama yang kolaboratif dapat terbentuk, bukan generasi yang berkarakter egois dan tak acuh pada bangsa dan negaranya.
Menindaklanjuti semangat membentuk karakter siswa, KSTU pun memberikan pelatihan keaktoran kepada para anggotanya, terutama anak-anak usia pendidikan dasar. Agar ada pengembangan karakter sosial-religi yang diharapkan, para peserta dilatih memerankan watak aktor dan aktris dalam fragmen dengan cerita “Menolong Sesama”. Ternyata, kegiatan itu dapat memicu siswa untuk saling peduli pada sesama.
Alhasil, anak-anak yang pernah tergabung dalam pelatihan teater anak di Gedung Dakwah, Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah masih tetap utuh bersinergis hingga sekarang. Untuk memperkembangkan karakter baiknya, saat ini kegiatan “Kita Bercerita” (saling bercerita atas keadaan yang dialami sehari) masih dilaksanakan secara fleksibel.
Oleh sebab itu, dalam musyawarah warga, KSTU didaulat untuk mempersiapkan drama anak yang berjudul “Pantang Mundur” yang akan dipentaskan dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus 2025. Berdasarkan uraian tersebut, KSTU memang membuka kesempatan secara terbuka untuk mengoptimalisasikan perannya dalam membentuk karakter siswa.
Sungguhpun begitu, memang, lingkup yang telah dan dapat dijangkau oleh KSTU masih terbatas. Akan tetapi, melalui tulisan ini, KSTU ingin mengobarkan semangat bersastra secara umum untuk membentuk karakter siswa secara humanis. Adalah wajar bila pelatihan seni teater digunakan sebagai alternatif pendukung kegiatan ekstrakurikuler siswa di persekolahan. Salam budaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Kontak Penulis:
Dr. Sugit Zulianto, M.Pd. (sugit_zulian@staff.uns.ac.id / 085241064789)







