Tugujatim.id – Mulyono, mitra Tugu Media Group yang juga pensiunan PT Pegadaian sedang melaksanakan umrah plus ziarah ke Masjid Al Aqsa di Palestina. Berikut catatan perjalanannya seri ke-11.
Perjalanan ke Laut Mati di Yordania bukan sekadar wisata alam, tetapi sarat dengan pelajaran spiritual dan sejarah yang mendalam. Laut Mati—yang berada di titik terendah bumi, sekitar 430 meter di bawah permukaan laut—adalah saksi bisu kehancuran kaum Sodom dan Gomorah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab suci.
Di sinilah kita diajak untuk merenungi jejak umat yang durhaka kepada Allah. Para turis termasuk saya dan juga 18 rombongan yang lain, bisa menyaksikan laut mati dari kejauhan. Di benak saya, laut mati adalah peristiwa alam yang menyadarkan kita atas kebesaran sang pencipta, dan kita hanya bagian debu di sebuah pasir yang luas.
Kisah Kaum Sodom: Sebuah Peringatan
Kaum Sodom adalah umat Nabi Luth ‘alaihissalam. Mereka terkenal dengan perilaku menyimpang dan kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan. Allah menurunkan azab yang dahsyat: bumi diguncang, mereka dibalikkan, dan hujan batu dari tanah yang terbakar menghancurkan mereka (QS. Hud: 82-83). Hingga kini, kawasan yang dipercaya menjadi lokasi peristiwa itu tertutup oleh air asin Laut Mati, seakan menjadi bukti nyata murka Allah terhadap kemungkaran.
Keajaiban Laut Mati: Tanda Kekuasaan Allah
Laut Mati memiliki kadar garam yang sangat tinggi sehingga tidak ada makhluk hidup yang bisa bertahan di dalamnya. Tubuh manusia pun dapat terapung tanpa usaha. Keajaiban ini mengingatkan kita pada kebesaran Allah yang menciptakan alam semesta dengan segala tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Pelajaran yang Bisa Diambil
1. Jauhi Kemaksiatan dan Kesombongan
Kaum Sodom dihancurkan bukan hanya karena perbuatan zina yang menyimpang, tetapi juga karena kesombongan mereka menolak nasihat Nabi Luth. Ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga diri dari dosa besar dan mendengar nasihat yang benar.
2. Hukum Allah Pasti Berlaku
Tidak ada kaum yang zalim yang luput dari keadilan Allah. Azab kaum terdahulu menjadi pengingat agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
3. Ambil Ibrah dari Jejak Sejarah
Saat berdiri di tepi Laut Mati, kita seolah melihat peringatan nyata: kemaksiatan membawa kehancuran, sementara ketaatan mendatangkan keselamatan.
4. Syukur dan Taubat
Allah memberi kita kehidupan agar kita bisa bertaubat dan bersyukur. Jangan menunggu azab datang baru kita sadar, tapi jadikan pelajaran ini sebagai momentum memperbaiki diri.
Penutup
Laut Mati dan kisah kaum Sodom bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pesan yang hidup, yang menegaskan bahwa hukum Allah berlaku sepanjang zaman. Perjalanan ini mengajak kita untuk merenung: apakah kita ingin termasuk dalam golongan yang selamat bersama Nabi Luth, atau terjerumus seperti kaum yang dilaknat? (bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Pengalaman Perjalanan Ditulis oleh Mulyono, Mitra Tugu Media Group, Pensiunan PT Pegadaian
Editor: Darmadi Sasongko








