JEMBER, Tugujatim.id – Penutupan jalur transportasi utama menuju Banyuwangi akibat kerusakan infrastruktur jalan telah memutus rantai pasokan BBM ke Kabupaten Jember. Hal ini dimanfaatkan pedagang nakal oplos BBM di Jember.
Padahal, kondisi darurat ini memaksa ribuan warga berbondong-bondong mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), menciptakan kemacetan ekstrem sepanjang dua kilometer.
Banyak masyarakat yang nekat menginap di area SPBU demi memastikan mendapatkan jatah bahan bakar. Sofi, seorang penduduk kompleks perumahan di Kaliwates, mengungkapkan pengalamannya menunggu selama enam jam berturut-turut sejak subuh hingga siang hari tanpa kepastian.
“Saya antre sejak jam lima pagi hingga sebelas siang,” kata Sofi pada Rabu (30/07/2025).
Baca Juga: Tak Terkelola, 197 Ton Limbah Sampah TPA Pakusari Terdampak Krisis BBM di Jember
Situasi krisis ini dimanfaatkan oleh oknum pedagang nakal untuk meraup keuntungan berlipat dengan oplos BBM di Jember. Mereka menjual BBM dalam kemasan botol dengan tarif mencapai Rp20.000-Rp35.000 per unit, jauh di atas harga normal.
Ahmadi, warga Tegal Besar, mengaku terpaksa membeli dengan harga tinggi untuk menghindari antrean yang melelahkan di bawah terik matahari.
“Saya pikir daripada saya harus berpanas-panasan mending membeli eceran meskipun dengan harga yang mahal,” katanya.
Tingginya permintaan mendorong sebagian pedagang melakukan praktik kecurangan dengan mencampur bahan bakar menggunakan air. Tindakan ini berakibat fatal bagi kendaraan konsumen.
Santo, warga Pakusari menjadi salah satu korban penipuan tersebut. Ayah tiga anak ini harus mengeluarkan biaya tambahan Rp600.000 untuk mengisi tangki mobilnya. Padahal, normalnya hanya butuh Rp500.000. Ironisnya, dengan harga lebih mahal, tangki mobilnya hanya terisi setengah dan kendaraannya sering mogok dalam perjalanan.
“Setelah diperiksa waktu itu ke mekanik, ternyata bensin yang saya beli dicampur dengan zat lain sehingga merusak sistem mesin,” kata Santo.
Baca Juga: Eks Wabup Puji Pertamina dan Pemkab Atasi Krisis BBM di Jember, Ingatkan Bahaya Spekulan
Nasib serupa menimpa Sigit, mahasiswa semester tiga asal Sumbersari. Pemuda ini membayar Rp50.000 untuk sebotol BBM berukuran 1,5 liter melalui transaksi media sosial. Warna bahan bakar yang kemerahan seharusnya menjadi tanda peringatan, namun karena kebutuhan mendesak, dia tetap membelinya.
“Melalui media sosial, saya coba kirim pesan untuk memesan bensin, dan saat datang bensin itu berwarna merah. Tapi saat saya coba isikan ke sepeda motor, tidak lama, bukanya hidup malah motor saya macet. Saat di bengkel, ternyata bensinnya oplosan,” kata Sigit.
Alih-alih mendapat solusi praktis, kedua korban ini justru mengeluarkan biaya ekstra untuk perbaikan kendaraan dan pembersihan tangki di bengkel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








