JEMBER, Tugujatim.id – Petani semangka di selatan Kabupaten Jember saat ini menghadapi musim kemarau. Kendati demikian, yang menjadi ancaman serius bagi para petani bukanlah kekurangan air, melainkan jamur yang menyerang tanaman semangka di usia muda tanpa pupuk subsidi.
Meski berdekatan dengan pesisir pantai, para petani semangka di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, ini merasa ketersediaan air untuk tanamannya dapat tercukupi berkat beberapa titik sumur bor. Akan tetapi, permasalahan utama justru muncul dari serangan organisme mikroskopis berupa cendawan.
Baca Juga: Pemerintah Pusat Komitmen Tingkatkan Kesejahteraan Petani Jember lewat Puslitkoka
Seorang pelaku usaha tani semangka yang menggarap area seluas 0,5 hektare, bernama Suryadi, memaparkan bahwa cendawan patogen merupakan kendala paling signifikan dalam aktivitas budi daya semangka.
“Apabila terlambat menyemprot pestisida anti-fungi, dedaunan akan mengalami kerusakan dan hasil buah tidak dapat berkembang optimal. Selain itu, kami kan juga tidak mendapat jatah pupuk subsidi karena bukan komoditas pilihan,” terangnya pada Minggu (04/08/2025).
Sistem pengairan yang diterapkannya adalah pemberian air setiap dua hari dengan memanfaatkan sumber air sumur, disertai dengan aplikasi fungisida secara berkala sebagai tindakan preventif.
Aplikasi bahan kimia anti-fungi sebaiknya dilaksanakan dengan interval 7-10 hari untuk mengantisipasi penyakit bercak pada dedaunan yang dipicu oleh mikroorganisme patogen seperti spesies Cercospora dan Alternaria.
“Ketersediaan air tidak menjadi masalah, bahkan kondisi kemarau memberikan keuntungan. Namun jika serangan cendawan terjadi, satu blok tanam bisa mengalami kegagalan total,” ungkap Suryadi yang telah menjalani profesi sebagai petani semangka selama tujuh tahun dengan cara belajar mandiri.
Petani Belum Pernah Dapat Bimbingan Penyuluh
Suryadi menambahkan, sepanjang periode tujuh tahun menekuni bidang pertanian semangka, dia belum pernah memperoleh bimbingan dari petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL). Suryadi mengakui hanya bergantung pada pengetahuan yang diperoleh secara mandiri dan pertukaran informasi dengan rekan-rekan petani lainnya.
“Sampai saat ini belum ada program penyuluhan atau kunjungan PPL,” tuturnya.
Untuk komoditas yang dibudidayakan, Suryadi memilih varietas Madrid dengan bibit yang diperoleh dari produsen Bintang Asia. Dalam satu periode panen, produktivitas yang dapat dicapai mencapai 17 ton.
Dalam kurun waktu satu tahun, dia mampu melakukan empat kali periode panen, bergantung pada kondisi iklim dan status kesehatan tanaman. Ketika terjadi panen raya, nilai jual semangka dapat menyentuh angka Rp8.000 per kilogram.
Namun demikian, saat kondisi pasar mengalami kejenuhan, harga dapat turun drastis hingga Rp4.000 per kilogram. Suryadi umumnya memasarkan hasil produksinya melalui sistem jual putus langsung di lokasi kebun.
“Setelah memasuki fase pembuahan, kegiatan panen dapat dilakukan setiap lima hari. Bahkan ketika buah matang secara bersamaan, interval panen bisa dipersingkat menjadi empat hari,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








