MALANG, Tugujatim.id – Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) PCNU Kota Malang berupaya merevitalisasi Topeng Menak yang nyaris punah. Topeng Menak sendiri adalah seni pementasan panggung berbasis topeng khas Malang yang jarang ditemukan lagi sejak hampir 50 Tahun terakhir.
Berdasarkan hasil riset Lesbumi diggelar pertunjukan wayang topeng menak “Burak Buwana Menak” sebagai Perayaan Kebangkitan Topeng Menak di Pesantren Budaya Karanggenting, Kota Malang, Sabtu (9/8/2025) malam.
Turut hadir pada pagelaran Wayang Topeng Menak, Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Restu Gunawan, M.Hum, Ketua Lesbumi PBNU, KH. M. Jadul Maula, Sejarawan dan Budayawan, M. Dwi Cahyono, hingga Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita.
Restu dalam sambutannya menyampaikan, revitalisasi yang Topeng Menak yang dibangkitkan kembali oleh Lesbumi dan Tim, sejalan dengan program Kementerian Kebudayaan, yaitu upaya pelestarian budaya di Indonesia.

“Kami hadir dengan Balai Pelestarian Kebudayaan. Khusus untuk melihat Topeng Menak yang sudah lima puluh tahun ini tidak pernah ditampilkan lagi,” ujarnya di Pesantren Budaya Karanggenting, Kota Malang, Sabtu (9/8/2025) malam.
Lesbumi selama ini menjadi salah satu mitra dalam membangun kebudayaan Indonesia, yang selalu memberikan gagasan. Jiwa-jiwa anggota Lesbumi kata Restu, sangat dekat dan terus menyuarakan nilai-nilai kebudayaan Indonesia.
Bahkan Unesco sambung Restu, bahwa Indonesia super power dalam urusan kebudayaan. Maka perlu terus dilestarikan dan dapat dikapitalisasi, monetesisasi dan berdampak pada ekonomi.
Sementara Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita merasa senang bisa menyaksikan kebangkitan kembali Topeng Menak. Menurutnya Topeng Menak merupakan salah satu warisan leluhur pertopengan Kota Malang, Ki Condro Suwono atau dikenal Mbah Reni.

“Ini sangat perlu kita lestarikan bersama. Saya bersyukur dan mengapresiasi teman-teman Lesbumi yang sudah melakukan riset, mencari sisa-sisa Topeng Menak dan menolak punah. Kami dari Pemerintah daerah siap bersinergi dalam pengembangan kebudayaan di Kota Malang,” tuturnya.
Ketua Lesbumi PBNU, KH. M. Jadul Maula juga mengapresiasi pagelaran Burak Buwana Menak yang digagas Tim Lesbumi Kota Malang bersama sanggar-sanggar seni di Malang. Ia menyebut malam ini merupakan peristiwa penting penanda hidup kembali Topeng Menak yang hampir punah.
Topeng Menak disebutnya, berasal dari Persia pada zaman Harun Arrasyid. Lalu diterjemahkan dalam Bahasa Melayu menjadi hikayat Amir Hamzah, di era Kesultanan Malaka. Kemudian para ulama membangun strategi kebudayaan, membangun narasi peradaban, dengan semangat menjaga kedaulatan bangsa, dan menjadi metode dakwah di zaman Wali Songo.

“Sunan Giri salah satu yang merancang dakwah islam dengan wawasan peradaban yang luas. Sunan Giri dikenal mempopulerkan kisah Panji jadi Wayang Gedep,” terangnya.
Topeng Menak Menurut Sejarawan Dwi Cahyono
Dwi Cahyono menjadi Penasihat Tim Revitalisasi Wayang Topeng Menak. Ia sangat bersyukur dan bangga Wayang Topeng Menak kembali bisa dipentaskan. Meskipun pementasan tersebut masih sebatas embrio, dan butuh penelisikan, pelacakan lebih detail lagi hingga menemukan ekosistem Wayang Topeng Menak Malang.
“Mengapa kita mesti menelisiknya, karena pementasan terakhir Wayang Topeng Menak di Malang itu sekitar akhir tahun enam puluhan atau awal tahun tujuh puluhan, setengah abad yang lalu. Tentunya banyak yang belum pernah melihat secara langsung,” jelasnya.
Upaya revitalisasi ini menurutnya sebagai ikhtiar darurat. Ibarat kapal di laut yang sudah SOS (Save Our Souls, sinyal bahaya) dan akan tenggelam. Maka bersyukur Lesbumi Kota Malang bersama Tim lintas sanggar di Malang Raya, membangun kolaborasi yang dapat menyelamatkan Wayang Topeng Menak dari kepunahan.
“Saya dapat informasi dari Mbah Karimun (dulu), Wayang Topeng Menak pernah jadi pertunjukan wayang popular di masa penjajahan Jepang,” terang Dwi Cahyono.

Namun di akhir tahun 1960an hingga awal 1970an, pagelaran Wayang Topeng Menak mulai surut. Padahal pagelaran Wayang Topeng Menak tidak bisa dipentaskan dengan mudah. Dilakukan secara kolektif dan butuh banyak komponen. Mulai dari penyaji teater, penari, kisah cerita, dalang, kekhasan topeng, music pengiring, dan properti lainnya.
“Maka apa yang disajikan, dipentaskan malam ini yang saya sebut masih embrional, kami harap Pemerintah Daerah juga ikut bersama-sama melestarikannya, menyokong kegiatan ini dari riset, eksperimen, eksplorasi, pertunjukan, sehingga Topeng Menak Malang betul-betul tidak akan punah. Selanjutnya, Wayang Topeng Menak dapat dihadirkan sebagai pelajaran di madrasah-madrasah dan pesantren,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: M. Ulul Azmy
Editor: Darmadi Sasongko








